Mengenal Guru SMAN 4 yang Disebut Bapak Komikus Probolinggo

Eko Marta Basili, merupakan seorang komikus asal Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Pria 39 tahun ini saban harinya bekerja sebagai guru dan kesiswaan di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo. Meski saban harinya disibukkan untuk mengurus anak-anak, namun guru komikus ini merasa senang lantaran bisa menyalurkan hobinya lewat anak didiknya.

RIZKY PUTRA DINASTI, Probolinggo, Radar Bromo

Lengang saat memasuki pintu gerbang SMA Negeri 4 Kota Probolinggo siang itu. Wajar saja, sebab proses pembelajaran di sekolah dilakukan secara daring sejak pandemi korona terjadi di Indonesia. Termasuk di sekolah yang berada di Jl Slamet Riyadi, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran itu.

Di halaman depan sekolah pun, hanya ada beberapa kendaraan milik petugas dan guru diparkir. Begitu memasuki pintu utama sekolah, seorang lelaki berperawakan tinggi besar berdiri di sana.

Dialah Eko Marta Basili, 39, yang selama ini dijuluki bapaknya anak-anak. Eko memang mengemban amanah sebagai waka kesiswaan di sekolah tersebut. Karena itu, julukan itu melekat padanya.

Namun di luar tugasnya itu, dia dikenal juga sebagai guru komikus. Panggilan itu tentu bukan tanpa makna. Dia mendapatkan ‘gelar’ itu karena kemampuannya menggambar. Dengan kemampuannya itu, tak jarang Eko membuat cerita bergambar atau komik. Eko lihai membuat cerita yang di Jepang lebih dikenal dengan manga ini.

Bapak tiga anak ini mengaku hobi menggambar sejak masih anak-anak. Entah mengapa, baginya mengamati sesuatu dan dituangkan kembali dalam bentuk gambar merupakan hal yang menyenangkan. Terlebih lagi, tidak ada aturan yang mengikat saat dia menuangkannya dalam bentuk gambar.

“Saya lebih suka menggambar imajinatif, sehingga tidak terikat aturan. Sedikit berbeda dengan gambar realistis yang mengedepankan aturan. Misalkan harus sama persis dengan objek yang digambar. Kalau gambarnya imajinatif, bisa seluwes mungkin sesuai selera. Misalkan gambar orang, kepalanya besar atau semacam berbentuk robot,” katanya.

Pria lulusan Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang (UM) pada 2004 itu mengaku sangat senang menggambar animasi, baik kartun ataupun semacamnya. Baginya, seni menggambar merupakan lahan atau wadah untuk mengespresikan diri. Karena bakatnya itu pula, pada 2014 dia meraih juara kedua lomba gambar maskot Kota Probolinggo.

“Saat itu saya belum terlalu sibuk dan belum jadi waka kesiswaan. Jadi ada waktu ikut lomba menggambar maskot Kota Probolinggo sekitar tahun 2014. Alhamdulillah meraih juara II dan mendapatkan laptop,” katanya.

Eko mengaku, saat lulus kuliah dirinya hanya memiliki secuil gambaran tentang sekolah yang di dalamnya ada bidang kesukaanya. Yaitu, menggambar. Baik ilustrasi, maupun animasi.

“Karena saya suka menggambar, maka saya mendaftar untuk mengajar di sejumlah sekolah yang ada kegiatan menggambar. Pada 2004, saya diminta menghidupkan buletin di SMAN 1. Lalu pada 2006 saya diangkat dan ditempatkan di SMAN 4 hingga sekarang,” katanya.

Selama menjabat sebagai waka kesiswaan, waktunya untuk menggambar komik jauh berkurang. Beruntung, ia masih diamanahi sebagai guru seni budaya, sehingga pengalamannya bisa ditularkan ke siswanya.

Bahkan, sejumlah siswanya menjadi finalis di ajang Festival Lomba Seni (FLS) Siswa Nasional saat ini. “Saat ini anak-anak masih dalam tahap penilaian berikutnya, sebab penilaianya secara online,” katanya.

Adapun gambar yang diikutkan yakni komik atau webtoon 10 kolom yang juga harus di-upload di IG atau Instagram. “Bedanya kalau webtoon itu 10 file dengan kolom panjang ke bawah. Sedangkan di IG itu ke samping dan berupa slide,” katanya.

Saat ini dari ketiga anaknya, anak keduanya, Alby Jibril juga suka menggambar seperti dirinya. “Anak kedua saya suka menggambar. Dia bisa menggambar benda dari beberapa sisi. Saat punya hot wheel misalnya, dia perhatikan dari depan, samping, belakang, atas, dan bawah. Kemudian ia gambar dari sejumlah sudut tersebut,” tandasnya.

Eko pun berpesan pada mereka yang juga suka menggambar untuk tidak takut mengapresiasikan apa yang ada di benak. Juga tidak takut dinilai berbeda oleh orang lain. “Salah satunya menggambar abstrak. Mungkin bagi sejumlah orang tampak biasa, namun berbeda dengan pandangan orang lain. Begitulah seni,” pungkasnya. (hn)