Guru SMKN 2 Probolinggo Ini Hasilkan 3.400 Sketsa sejak 2010

Bagi Khoirul Anam, waktu luang berarti menggambar skesta. Begitu konsisten dia menggambar. Dan hasilnya, sejak tahun 2010 hingga kini ia sudah mengumpulkan 3.400 sketsa. Tiap sketsa memiliki nilai histori tersendiri baginya.

RIZKY PUTRA DINASTI, Kanigaran, Radar Bromo

Ke manapun pergi, Khoirul Anam pasti membawa satu set alat sketsanya. Mulai buku gambar ukuran A5, bolpoin dan pensil, termasuk penghapus dan penggaris. Hal itu berlangsung hingga saat ini, bahkan selama dia mengajar di SMKN 2 Kota Probolinggo.

Pria lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 2010 ini memang sangat konsisten berkarya. Selama ada waktu luang, pasti dia menggambar sketsa. Tidak heran, mulai tahun 2010 hingga saat ini, pria 34 tahun itu sudah menghasilkan 3.400 sketsa.

Tentu, sketsa yang dibuatnya erat kaitanya dengan perjalanan hidupnya. Baginya, membuat sketsa merupakan salah satu caranya untuk mengisi waktu luang dan refreshing otak.

Kemarin (16/9), Jawa Pos Radar Bromo berkesempatan menemuinya di ruang Information and Communication Technology (ICT) SMKN 2 Kota Probolinggo. Berkemeja putih dengan celana hitam, Anam –panggilannya- tampak bersahaja, khas seniman.

Hari itu dia baru saja mengajar dengan jumlah murid terbatas tentu saja. Sebab, pandemi korona masih terjadi di Kota Probolinggo. Anam pun dengan antusias menceritakan kesehariannya menggambar sketsa.

“Setiap ada waktu luang, saya pakai untuk membuat sketsa. Misalkan saat makan bersama teman-teman, saya gunakan teman saya sebagai objek sketsa. Atau saat menunggu antrean, daripada waktu terbuang begitu saja, maka saya isi dengan membuat sketsa kondisi saat itu,” terangnya.

Bisa dibilang, sketsa yang dibuat adalah gambaran di masa tertentu. Karena itu, peristiwa di masa tertentu akan langsung muncul dalam benaknya saat melihat-lihat lagi sketsa yang dibuat.

“Ketika saya melihat sketsa saya 2 tahun lalu tentang teman-teman yang sedang makan misalnya, maka perasaan dua tahun lalu itu akan muncul berikut suasananya,” kata pria 34 tahun itu.

Bahkan, pria yang juga mengajar mata pelajaran Seni Budaya itu, tak jarang membuat sketsa di kelas ketika anak didiknya menggambar. “Kadang sembari menunggu anak-anak membuat gambar di kelas, saya buat sketsa mereka,” tambahnya.

Karena hobinya itulah, ia tidak pernah lepas sedikit pun dari tas hitam kecil miliknya. Tas hitam itu berisikan satu set alat sketsa. “Pernah karena bepergian dekat, saya tidak membawa alat sketsa saya. Dan ternyata ada aktivitas mengantre saat itu. Akhirnya, waktu untuk mengantre terbuang sia-sia. Bahkan sempat bingung juga mau ngapain, sementara alat sketsa tidak dibawa,” kata pria kelahiran Mojokerto itu.

Pria yang indekos di Jalan Mastrip, Kanigaran, itu mengaku dengan membuat sketsa dirinya bisa tenang. Bisa dibilang, membuat sketsa sebagai caranya refreshing. Karena itu saat sedang suntuk, bisa dipastikan ia akan membuat sketsa.

Konsistensinya menggambar sketsa itu membuat dirinya berhasil masuk sejumlah nominasi. Karyanya dipamerkan di ajang Galeri Nasional Indonesia dalam acara [Re]Kreasi Garis pada 4-16 September 2018.

Yang paling baru, ia mendapatkan piagam penghargaan dari Galeri Nasional Indonesia Direktorat Jenderal Kebudayaaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 12 Oktober 2019. Karyanya dipajang di festival Sketsa Indonesia Sketsa Foria Urban. “Saat itu saya membuat sketsa museum dr Moh Saleh,” katanya.

Tak berhenti di sana, pria yang mulai mengajar di SMKN 2 Kota Probolinggo pada tahun 2011 itu, juga menjadi ilustrator kumpulan puisi dari Usril Novian Aliwi dengan judul Ulang Alik pada tahun 2018. Juga menjadi ilustrator kumpulan cerpen Rio F Rachman dengan judul Merantau pada tahun 2017. (hn)