Dari Limbah Kerang, Wanita Ini Menyulapnya Menjadi Kerajinan Bernilai Jual Tinggi

Kekayaan laut di perairan Pasuruan memang cukup tinggi. Hampir semua hasil tangkapan nelayan bernilai ekonomis. Termasuk kulit kerang yang selama ini dibuang begitu saja.

—————-

Sejumlah pengunjung tampak melihat-lihat produk kerajinan di salah satu stan Pasar Rakyat yang digelar Pemkot Pasuruan, beberapa waktu lalu. Sementara, perempuan bercadar dengan ramah melayani pengunjung sembari bertutur perihal proses pembuatan produk kerajinannya.

Dia adalah Rizka Rahma Fauziah. Dialah yang telah menyulap sampah laut menjadi produk kerajinan dengan rupa menarik. Terutama, sampah laut yang berasal dari kerang.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang diikuti Rizka, membuatnya peduli untuk memanfaatkan sampah. Yaitu, kulit kerang.

Beberapa tahun terakhir, ia dan sejumlah teman komunitasnya memang kerap berkecimpung di Kelurahan Tambakan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Keberadaannya di wilayah itu, membuatnya akrab dengan kehidupan pesisir.

Di kesempatan tertentu, Rizka –sapaannya- tertegun melihat kenyataan bahwa bukan hanya kekayaan laut yang melimpah, tetapi juga sampahnya. Betapa tidak, kulit kerang yang sudah diambil dagingnya kebanyakan dibuang begitu saja.

Sampah-sampah itu dikembalikan ke muasalnya yaitu laut lepas. Banyaknya kulit kerang yang berserakan itu akhirnya membuat Rizka berkreasi.

CANTIK: Karya Rizka Rahma Fauziah. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Ia mulai mengumpulkan sampah kulit kerang itu untuk dijadikan beraneka kerajinan. Kreativitasnya kian terasah ketika dirinya menjadi salah satu peserta pelatihan industri kreatif yang digelar Disperindag Kota Pasuruan.

Tak hanya menyisir kulit kerang di satu tempat saja. Guru di salah satu SMP swasta di Kota Pasuruan itu terkadang juga meluangkan waktu menyusuri sepanjang kawasan pesisir. Hingga memasuki Desa Semare, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Dari sana, Rizka mengetahui beberapa bentuk kulit kerang sesuai jenisnya. Misalnya, kerang darah dan kerang guci. Semua itu dibawa pulang ke rumahnya di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.

Menurut Rizka, sampah kulit kerang yang dibuang ke laut itu memang terkesan sepele. “Namun, kalau lama-kelamaan bisa terjadi pendangkalan dasar laut,” ujarnya.

Karena alasan itu pula, tekad perempuan 28 tahun ini untuk membuat kerajinan kulit kerang makin bulat. Ia belum lama menggeluti kerajinan itu. Baru sejak Februari yang lalu.

Proses pembuatannya sendiri, kata Rizka, membutuhkan ketekunan. Satu produk yang dibuat, rata-rata memakan waktu tiga hingga tujuh jam.

“Awalnya kan memang harus dicuci dulu lalu dijemur. Yang paling lama menjemur setelah dilem karena menunggu kering dulu,” ungkapnya.

Kini, sudah ada beberapa produk yang berhasil dibuat Rizka. Seperti gantungan kunci, tas, lampu hias, hingga frame hiasan dinding. Semua menggunakan kulit kerang sebagai bahan dasar.

Kesulitan membuat produk, tentu saja ada. Biasanya, kesulitan yang dirasakan berbeda-beda antara satu produk dengan yang lainnya.

“Selama ini yang paling sulit itu membuat frame. Harus mengumpulkan kerang dengan bentuk yang presisi. Jadi nggak semua kerang yang dikumpulkan bisa dipakai karena bentuknya nggak sama,” terangnya.

Kendati demikian, Rizka mengaku ada rasa kepuasan yang tak terkira. Setelah berhasil menyulap benda yang tadinya tak berharga, kemudian memiliki nilai jual.

Bayangkan saja, tumpukan kulit kerang yang hanya jadi sampah laut bisa bernilai ekonomis.Sebuah gantungan kunci misalnya, dijual Rizka seharga Rp 5 ribu. Tentu untuk tas dan frame harganya lebih tinggi. Begitu pun dengan lampu hias. Rata-rata dijual mulai Rp 80 ribu hingga Rp 185 ribu.

Penentuan harga juga melihat tingkat kerumitan pembuatannya. Makin sulit membuatnya, makin mahal harganya.

Penggunaan bahan lain, juga menentukan harga. Misalnya, untuk membuat frame, tidak hanya dibutuhkan kerang. Namun, juga dibutuhkan kayu pinus dan kaca. Karena ada tambahan bahan lain, harga jualnya pun lebih tinggi. (tom/hn/fun)