25.6 C
Probolinggo
Tuesday, October 4, 2022

Suparmin dan Intrasminah Puluhan Tahun Kelola Sanggar Tari

Bagi Suparmin dan Intrasminah, tidak ada jalan lain untuk melestarikan seni dan kebudayaan. Kecuali dengan menularkannya kepada mereka yang masih belia. Sudah puluhan tahun pasangan suami istri itu mendirikan dan merawat Sanggar Dharma Budaya. Puluhan karya tari telah diciptakan.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

BUKAN tanpa alasan Suparmin mendirikan sanggar tari. Dia dulu hanya seorang pegawai di Pemerintah Kota Pasuruan. Sekali waktu ia mendapat kesempatan tampil di sebuah acara tari yang disiarkan TVRI. Memang, ia sudah punya sedikit bekal mengenai seni tari. Tapi untuk tampil dalam sebuah acara televisi, semua benar-benar dadakan.

“Kebetulan guru saya yang ngajar tari ada kesempatan tampil. Saya dan empat kawan saya akhirnya nari prajuritan. Durasinya lima menit waktu itu,” kenang Suparmin.

Sejak awal kemunculannya di televisi, Suparmin semakin termotivasi untuk belajar tari. Secara kebetulan, Hardjono Wali Kota Pasuruan saat itu menawarkannya tugas belajar di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Jogjakarta. Ia mendapat kesempatan belajar selama enam bulan.

“Tapi di sana saya banyak belajar, kalau hanya enam bulan ngggak cukup,” kata Suparmin.

Ia lalu meminta perpanjangan waktu tugas belajar. Praktis, Suparmin menggeluti seni selama setahun di Jogjakarta. Sepulang dari sana, tentu dia juga merasa punya tanggung jawab sosial yang mesti dipenuhi. Ia lantas mengajarkan seni tari kepada para istri pejabat. Mulai dari setingkat kepala bagian hingga sekretaris daerah.

“Ibu-ibu ini kemudian tampil untuk pertama kalinya pada 21 April 1981. Bertepatan dengan hari Kartini,” ungkap Suparmin.

Bagi Suparmin dan Intrasminah, tidak ada jalan lain untuk melestarikan seni dan kebudayaan. Kecuali dengan menularkannya kepada mereka yang masih belia. Sudah puluhan tahun pasangan suami istri itu mendirikan dan merawat Sanggar Dharma Budaya. Puluhan karya tari telah diciptakan.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

BUKAN tanpa alasan Suparmin mendirikan sanggar tari. Dia dulu hanya seorang pegawai di Pemerintah Kota Pasuruan. Sekali waktu ia mendapat kesempatan tampil di sebuah acara tari yang disiarkan TVRI. Memang, ia sudah punya sedikit bekal mengenai seni tari. Tapi untuk tampil dalam sebuah acara televisi, semua benar-benar dadakan.

“Kebetulan guru saya yang ngajar tari ada kesempatan tampil. Saya dan empat kawan saya akhirnya nari prajuritan. Durasinya lima menit waktu itu,” kenang Suparmin.

Sejak awal kemunculannya di televisi, Suparmin semakin termotivasi untuk belajar tari. Secara kebetulan, Hardjono Wali Kota Pasuruan saat itu menawarkannya tugas belajar di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Jogjakarta. Ia mendapat kesempatan belajar selama enam bulan.

“Tapi di sana saya banyak belajar, kalau hanya enam bulan ngggak cukup,” kata Suparmin.

Ia lalu meminta perpanjangan waktu tugas belajar. Praktis, Suparmin menggeluti seni selama setahun di Jogjakarta. Sepulang dari sana, tentu dia juga merasa punya tanggung jawab sosial yang mesti dipenuhi. Ia lantas mengajarkan seni tari kepada para istri pejabat. Mulai dari setingkat kepala bagian hingga sekretaris daerah.

“Ibu-ibu ini kemudian tampil untuk pertama kalinya pada 21 April 1981. Bertepatan dengan hari Kartini,” ungkap Suparmin.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/