alexametrics
26.1 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Keluh Kesah Pedagang Umbulan Park Bertahan di Tempat Sepi

Sudah seminggu ini 15 pedagang yang direlokasi ke Umbulan Park menempati tempat barunya. Selama seminggu tersebut, mereka belum kulakan. Sebab, dagangan mereka tidak laku.

MUKHAMAD ROSYIDI, Winongan, Radar Bromo

Cuaca terasa terik di sekitar Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, kemarin (16/6). Suasana terik juga terasa di Umbulan Park.

Di tempat ini, 15 pedagang berjualan setelah dipindah dari Pemandian Umbulan. Tempat berjualan itu berjarak sekitar 2 kilometer dari kolam utama. Masyarakat yang ingin ke lokasi biasanya cukup menggunakan kendaraan bermotor. Lalu, naik dari lokasi pertama.

Sekilas, lokasi itu tampak megah. Ada puluhan kios yang disiapkan pemerintah pusat dan Provinsi Jatim untuk menampung pedagang. Namun, saat ini yang ditempati baru 15 kios. Sisanya, masih kosong tak berpenghuni.

Kios-kios itu memutari dua kolam renang. Empat pos jaga juga didirikan. Di pintu masuk dua unit, dan di tengah ada dua unit.

“Begini ini lokasinya. Panas dan sepi,” kata salah seorang pedagang bernama Sumiati, 45, warga setempat.

Menurutnya, salah satu kekurangan Umbulan Park karena dua kolam pemandian yang disediakan di tempat itu tidak ada penutupnya. Pengunjung yang datang pun berpacu dengan dinginnya air dan panas sinar matahari. Karenanya, banyak yang datang hanya melihat-lihat. Kemudian, pergi lagi.

“Tadi ada rombongan. Katanya dari daerah Lekok. Ya hanya melihat-lihat dan kemudian balik. Wong lokasinya panas,” katanya.

Lalu, air kolam mudah hijau berlumut. Sebab, saluran air tidak ada penutupnya. Sehingga, pengunjung enggan mandi. Kecuali anak kecil dan remaja, mereka asyik saja bermain air.

“Itu pun yang mandi ya anak-anak dari sini saja. Kalau orang luar hanya sedikit yang datang,” katanya sembari mengaduk kopi.

Itulah sedikit keluhan para pedagang di Umbulan Park. Sejatinya, mereka menolak pindah dari kolam lama ke kolam baru atau Umbulan Park.

Sebab, Umbulan Park sepi pengunjung. Pedagang menganggap lokasi itu tidak layak untuk dijadikan tempat wisata. Namun, karena kolam utama harus steril dari kegiatan manusia, mereka akhirnya mau pindah. Dengan kompensasi Rp 2 juta untuk tiap pedagang.

Kondisi kios pedagang kemarin memang terlihat sepi. Mulai dari ujung selatan hingga ujung utara, tidak terlihat pembeli.

Memang ada beberapa orang. Namun, kebanyakan mereka adalah kerabat pedagang sendiri yang datang menemani. Sisanya bisa dihitung jari.

“Kalau di tempat lama jam segini (11.30, Red) saya sudah bisa dapat uang Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Tapi, di sini belum ada. Hanya satu dua orang yang beli,” kata Akhiyat, 50, pedagang yang lain.

Akhiyat kemarin hanya menunggui lapaknya yang sepi. Sesekali, ia melihat lapak rekannya yang juga sepi.

Menginjak duhur, ia pamitan salat. Lokasinya di selatan. Setelah selesai, ia kembali menunggui lapak yang masih saja sepi.

“Setiap hari ya begini ini. Tidak banyak pembeli. Pokoknya beda dengan tempat lama,” jelasnya meratapi nasib.

Para pedagang di Umbulan Park sebenarnya tidak tinggal diam melihat kolam yang berlumut. Mereka kerja bakti membersihkan kolam.

Kegiatan itu, dilakukan dua hingga tiga hari sekali. Bahkan selama seminggu ini, mereka telah membersihkan kolam tiga kali.

Saat Jawa Pos Radar Bromo di lokasi, para pedagang itu sedang membersihkan kolam bagian barat atau kolam untuk anak-anak. Beberapa pedagang membersihkan kolam dengan alat seadanya.

Kolam dikuras. Lalu, sudut demi sudut, bagian demi bagian digosok. Pembersihan atau pengurasan itu berlangsung hingga tiga jam lamanya.

“Sudah biasa begini. Kalau tidak dibersihkan ya tambah tidak ada yang mau ke sini. Jadi kami berinisiatif untuk membersihkan kolam sendiri,” kata Sumiati.

Pedagang sendiri, kata Sumiati, bersedia pindah, karena ada janji bakal ada perbaikan sarana dan prasarana di Umbulan Park. Tetapi, sudah seminggu belum ada sama sekali perbaikan.

“Belum ada perbaikan sampai sekarang. Pastinya kami tunggu. Agar banyak pengunjung yang datang,” tandasnya.

Rois, 26, salah seorang pengunjung Umbulan Park mengatakan, ia sebenarnya ingin bersantai di Umbulan Park. Namun, ternyata kondisi kolam panas dan airnya kotor.

Akhirnya, Rois pun membatalkan rencananya. Padahal, ia ingin merasakan mandi di kolam Umbulan Park bersama keluarga.

“Baliklah, wong airnya masih kotor. Tadi juga kelihatan pedagangnya yang bersih-bersih,” katanya sembari memutar stang motornya. (hn)

Sudah seminggu ini 15 pedagang yang direlokasi ke Umbulan Park menempati tempat barunya. Selama seminggu tersebut, mereka belum kulakan. Sebab, dagangan mereka tidak laku.

MUKHAMAD ROSYIDI, Winongan, Radar Bromo

Cuaca terasa terik di sekitar Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, kemarin (16/6). Suasana terik juga terasa di Umbulan Park.

Di tempat ini, 15 pedagang berjualan setelah dipindah dari Pemandian Umbulan. Tempat berjualan itu berjarak sekitar 2 kilometer dari kolam utama. Masyarakat yang ingin ke lokasi biasanya cukup menggunakan kendaraan bermotor. Lalu, naik dari lokasi pertama.

Sekilas, lokasi itu tampak megah. Ada puluhan kios yang disiapkan pemerintah pusat dan Provinsi Jatim untuk menampung pedagang. Namun, saat ini yang ditempati baru 15 kios. Sisanya, masih kosong tak berpenghuni.

Kios-kios itu memutari dua kolam renang. Empat pos jaga juga didirikan. Di pintu masuk dua unit, dan di tengah ada dua unit.

“Begini ini lokasinya. Panas dan sepi,” kata salah seorang pedagang bernama Sumiati, 45, warga setempat.

Menurutnya, salah satu kekurangan Umbulan Park karena dua kolam pemandian yang disediakan di tempat itu tidak ada penutupnya. Pengunjung yang datang pun berpacu dengan dinginnya air dan panas sinar matahari. Karenanya, banyak yang datang hanya melihat-lihat. Kemudian, pergi lagi.

“Tadi ada rombongan. Katanya dari daerah Lekok. Ya hanya melihat-lihat dan kemudian balik. Wong lokasinya panas,” katanya.

Lalu, air kolam mudah hijau berlumut. Sebab, saluran air tidak ada penutupnya. Sehingga, pengunjung enggan mandi. Kecuali anak kecil dan remaja, mereka asyik saja bermain air.

“Itu pun yang mandi ya anak-anak dari sini saja. Kalau orang luar hanya sedikit yang datang,” katanya sembari mengaduk kopi.

Itulah sedikit keluhan para pedagang di Umbulan Park. Sejatinya, mereka menolak pindah dari kolam lama ke kolam baru atau Umbulan Park.

Sebab, Umbulan Park sepi pengunjung. Pedagang menganggap lokasi itu tidak layak untuk dijadikan tempat wisata. Namun, karena kolam utama harus steril dari kegiatan manusia, mereka akhirnya mau pindah. Dengan kompensasi Rp 2 juta untuk tiap pedagang.

Kondisi kios pedagang kemarin memang terlihat sepi. Mulai dari ujung selatan hingga ujung utara, tidak terlihat pembeli.

Memang ada beberapa orang. Namun, kebanyakan mereka adalah kerabat pedagang sendiri yang datang menemani. Sisanya bisa dihitung jari.

“Kalau di tempat lama jam segini (11.30, Red) saya sudah bisa dapat uang Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Tapi, di sini belum ada. Hanya satu dua orang yang beli,” kata Akhiyat, 50, pedagang yang lain.

Akhiyat kemarin hanya menunggui lapaknya yang sepi. Sesekali, ia melihat lapak rekannya yang juga sepi.

Menginjak duhur, ia pamitan salat. Lokasinya di selatan. Setelah selesai, ia kembali menunggui lapak yang masih saja sepi.

“Setiap hari ya begini ini. Tidak banyak pembeli. Pokoknya beda dengan tempat lama,” jelasnya meratapi nasib.

Para pedagang di Umbulan Park sebenarnya tidak tinggal diam melihat kolam yang berlumut. Mereka kerja bakti membersihkan kolam.

Kegiatan itu, dilakukan dua hingga tiga hari sekali. Bahkan selama seminggu ini, mereka telah membersihkan kolam tiga kali.

Saat Jawa Pos Radar Bromo di lokasi, para pedagang itu sedang membersihkan kolam bagian barat atau kolam untuk anak-anak. Beberapa pedagang membersihkan kolam dengan alat seadanya.

Kolam dikuras. Lalu, sudut demi sudut, bagian demi bagian digosok. Pembersihan atau pengurasan itu berlangsung hingga tiga jam lamanya.

“Sudah biasa begini. Kalau tidak dibersihkan ya tambah tidak ada yang mau ke sini. Jadi kami berinisiatif untuk membersihkan kolam sendiri,” kata Sumiati.

Pedagang sendiri, kata Sumiati, bersedia pindah, karena ada janji bakal ada perbaikan sarana dan prasarana di Umbulan Park. Tetapi, sudah seminggu belum ada sama sekali perbaikan.

“Belum ada perbaikan sampai sekarang. Pastinya kami tunggu. Agar banyak pengunjung yang datang,” tandasnya.

Rois, 26, salah seorang pengunjung Umbulan Park mengatakan, ia sebenarnya ingin bersantai di Umbulan Park. Namun, ternyata kondisi kolam panas dan airnya kotor.

Akhirnya, Rois pun membatalkan rencananya. Padahal, ia ingin merasakan mandi di kolam Umbulan Park bersama keluarga.

“Baliklah, wong airnya masih kotor. Tadi juga kelihatan pedagangnya yang bersih-bersih,” katanya sembari memutar stang motornya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/