alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Disabilitas Kota Pasuruan Kampanyekan Pendidikan Inklusif saat Ramadan

Komunitas Penyandang Disabilitas Kota Pasuruan (KPDP) punya cara unik selama Ramadan. Mereka melakukan kampanye pendidikan inklusif dengan mengajarkan dan membaca huruf braille ke masyarakat umum.

ERRI KARTIKA, Purworejo

Jari tangan kanan Fitri Astuti, 37, penyandang disabilitas tunanetra tampak lincah menekan-nekan stylus atau alat bantu tulis dengan titik-titik di kertas tebal warna putih. Sedangkan tangan kirinya, memegang reglet atau alat bantu dengan 112 kotak untuk membuat huruf braille.

Braille merupakan salah satu sistem penulisan sentuh yang digunakan oleh tunanetra. Sistem ini menggunakan indra peraba dengan membaca titik-titik yang menonjol di kertas dan bisa dibaca oleh orang yang kesulitan penglihatan.

Fitria yang juga merupakan guru SMPLB di Kota Pasuruan mengatakan, huruf braille lumrah digunakan sebagai alat baca pagi penyandang tunanetra. “Selama ini bagi orang normal memang cukup jarang yang mau belajar braille. Kecuali, biasanya orang tua atau keluarga yang mempunyai saudara tunanetra dan mau ikut belajar,” terangnya.

Kemarin (16/5), di depan Kantor Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Pasuruan, Jalan Sultan Agung, puluhan penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Penyandang Disabilitas Kota Pasuruan (KPDP) melakukan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat dalam pendidikan inklusif Kota Pasuruan.

“Yang tergabung dalam disabilitasi ini mulai dari disabilitas netra, rungu, wicara, grahita, dan daksa. Kurang lebih ada 30 teman disabilitas yang datang,” terang Mauludin, ketua KPDP yang juga penyandang tunadaksa ini.

Unicef, salah satu lembaga yang diajak bermitra mengatakan, tak hanya memberikan sosialisasi terkait pendidikan inklusif, dimana melibatkan masyarakat umum untuk bergabung bersama disabilitas. Tapi, juga teman-teman disabilitas unjuk kebolehan dengan musik akustik dan tentunya mengajarkan membaca dan membuat hurup braille.

Denny Kurniawan, sektretaris KPDP Kota Pasuruan yang juga penyandang Disabilitas tunanetra ini mengatakan, selama ini disabilitas memang cenderung tertutup. “Biasanya cenderung terutup karena sebagaian orang tua terlalu protektif sehingga potensi anaknya kurang berkembang,” terangnya.

Sehingga, pentingnya kampanye disabilitas ini agar masyarakat umum dan nondisabilitas bisa memiliki empati dan lebih mengenal dan mendukung teman-teman disabilitas lainnya untuk bisa berkarya di masyarakat.

Denny mengatakan, teman-teman yang disabilitas bukan berarti ingin dikasihani. “Tapi, kami ingin bermintra dengan teman-teman lainnya dan masyarakat umum,” terangnya.

Kemarin, di pelataran Dispora Kota Pasuruan, terdapat 3 bangku panjang yang disediakan bagi masyarakat umum yang ingin belajar braille. Salah satunya yang diajarkan oleh guru Fitria tadi. Beliau mengajarkan membuat huruf A sampai Z dengan menggunakan titik-titik huruf braille.

Selain huruf abjad, huruf Arab bahkan sampai rumus kima pun ada kode dalam kode braillenya. Salah satu yang mencoba adalah Zian Arasi, 29, warga Kelurahan Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan. Zian mengatakan sebagai nondisabilitas, memang cukup sulit belajar braille.

“Karena braille ini kan pakai indra peraba dan kita tidak terbiasa membaca dengan titik-titik jadi memang sulit,” terangnya. Belajar dan tahu kesulitan membuat dan membaca huruf braille, nondisabilitas bisa menghargai dan belajar empati bagaimana teman-teman disabilitas memiliki ketekunan dan kesabaran yang luar biasa untuk membaca huruf braille.

-n an titik-titik hurup braile. bermitra mengatakan,dik sepakat atas tebusan Rp 4 juta.jika ingin dibebaskan. Denny mengatakan, bahwa saat ini huruf braille sendiri dikatakan sudah cukup banyak ditemukan. Untuk buku-buku pelajaran dipastikan ada yang versi braille. Termasuk novel dimana pengarang yang sadar disabilitas juga memberikan versi braille.

“Kendati harga juga biasanya lebih mahal. Kalau buku biasa Rp 50-100 ribu, kalau buku braille bisa Rp 300-600 ribu karena memang cetakan khusus dan lebih tebal,” terangnya. Termasuk di Indonesia juga ada majalah braille terbitan Bandung yang rutin terbit sebulan sekali.

“Sedangkan yang cukup sulit adalah buku kuliah seperti ilmu hukum ataupu psikologi. Caranya ya kita bisa dengar lewat audiobook atau kalau di internet bisa disimpan dan dibacakan lewat aplikasi suara,” terangnya.

Denny mengatakan, bahwa dengan kampanye ini diharapakan masyarakat umum bisa lebih berempati dan bisa membaur dengan teman-teman disabilitas. “Bahkan, harapannya Kota Pasuruan ke depan bisa menjadi salah satu Kota Ramah Disabilitas,” tutupnya. (eka/rf)

 

Komunitas Penyandang Disabilitas Kota Pasuruan (KPDP) punya cara unik selama Ramadan. Mereka melakukan kampanye pendidikan inklusif dengan mengajarkan dan membaca huruf braille ke masyarakat umum.

ERRI KARTIKA, Purworejo

Jari tangan kanan Fitri Astuti, 37, penyandang disabilitas tunanetra tampak lincah menekan-nekan stylus atau alat bantu tulis dengan titik-titik di kertas tebal warna putih. Sedangkan tangan kirinya, memegang reglet atau alat bantu dengan 112 kotak untuk membuat huruf braille.

Braille merupakan salah satu sistem penulisan sentuh yang digunakan oleh tunanetra. Sistem ini menggunakan indra peraba dengan membaca titik-titik yang menonjol di kertas dan bisa dibaca oleh orang yang kesulitan penglihatan.

Fitria yang juga merupakan guru SMPLB di Kota Pasuruan mengatakan, huruf braille lumrah digunakan sebagai alat baca pagi penyandang tunanetra. “Selama ini bagi orang normal memang cukup jarang yang mau belajar braille. Kecuali, biasanya orang tua atau keluarga yang mempunyai saudara tunanetra dan mau ikut belajar,” terangnya.

Kemarin (16/5), di depan Kantor Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Pasuruan, Jalan Sultan Agung, puluhan penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Penyandang Disabilitas Kota Pasuruan (KPDP) melakukan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat dalam pendidikan inklusif Kota Pasuruan.

“Yang tergabung dalam disabilitasi ini mulai dari disabilitas netra, rungu, wicara, grahita, dan daksa. Kurang lebih ada 30 teman disabilitas yang datang,” terang Mauludin, ketua KPDP yang juga penyandang tunadaksa ini.

Unicef, salah satu lembaga yang diajak bermitra mengatakan, tak hanya memberikan sosialisasi terkait pendidikan inklusif, dimana melibatkan masyarakat umum untuk bergabung bersama disabilitas. Tapi, juga teman-teman disabilitas unjuk kebolehan dengan musik akustik dan tentunya mengajarkan membaca dan membuat hurup braille.

Denny Kurniawan, sektretaris KPDP Kota Pasuruan yang juga penyandang Disabilitas tunanetra ini mengatakan, selama ini disabilitas memang cenderung tertutup. “Biasanya cenderung terutup karena sebagaian orang tua terlalu protektif sehingga potensi anaknya kurang berkembang,” terangnya.

Sehingga, pentingnya kampanye disabilitas ini agar masyarakat umum dan nondisabilitas bisa memiliki empati dan lebih mengenal dan mendukung teman-teman disabilitas lainnya untuk bisa berkarya di masyarakat.

Denny mengatakan, teman-teman yang disabilitas bukan berarti ingin dikasihani. “Tapi, kami ingin bermintra dengan teman-teman lainnya dan masyarakat umum,” terangnya.

Kemarin, di pelataran Dispora Kota Pasuruan, terdapat 3 bangku panjang yang disediakan bagi masyarakat umum yang ingin belajar braille. Salah satunya yang diajarkan oleh guru Fitria tadi. Beliau mengajarkan membuat huruf A sampai Z dengan menggunakan titik-titik huruf braille.

Selain huruf abjad, huruf Arab bahkan sampai rumus kima pun ada kode dalam kode braillenya. Salah satu yang mencoba adalah Zian Arasi, 29, warga Kelurahan Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan. Zian mengatakan sebagai nondisabilitas, memang cukup sulit belajar braille.

“Karena braille ini kan pakai indra peraba dan kita tidak terbiasa membaca dengan titik-titik jadi memang sulit,” terangnya. Belajar dan tahu kesulitan membuat dan membaca huruf braille, nondisabilitas bisa menghargai dan belajar empati bagaimana teman-teman disabilitas memiliki ketekunan dan kesabaran yang luar biasa untuk membaca huruf braille.

-n an titik-titik hurup braile. bermitra mengatakan,dik sepakat atas tebusan Rp 4 juta.jika ingin dibebaskan. Denny mengatakan, bahwa saat ini huruf braille sendiri dikatakan sudah cukup banyak ditemukan. Untuk buku-buku pelajaran dipastikan ada yang versi braille. Termasuk novel dimana pengarang yang sadar disabilitas juga memberikan versi braille.

“Kendati harga juga biasanya lebih mahal. Kalau buku biasa Rp 50-100 ribu, kalau buku braille bisa Rp 300-600 ribu karena memang cetakan khusus dan lebih tebal,” terangnya. Termasuk di Indonesia juga ada majalah braille terbitan Bandung yang rutin terbit sebulan sekali.

“Sedangkan yang cukup sulit adalah buku kuliah seperti ilmu hukum ataupu psikologi. Caranya ya kita bisa dengar lewat audiobook atau kalau di internet bisa disimpan dan dibacakan lewat aplikasi suara,” terangnya.

Denny mengatakan, bahwa dengan kampanye ini diharapakan masyarakat umum bisa lebih berempati dan bisa membaur dengan teman-teman disabilitas. “Bahkan, harapannya Kota Pasuruan ke depan bisa menjadi salah satu Kota Ramah Disabilitas,” tutupnya. (eka/rf)

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/