alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Cerita Perajin Wayang Kulit asal Karangbangkal Gempol

Widuk Purwanto memilih kerajinan wayang kulit sebagai mata pencaharian. Selain bakatnya sudah terasah sejak kecil, banyak dalang suka wayang buatannya. Widuk hafal 150-an karakter tokoh pewayangan.

RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo

Sudah tidak terhitung berapa wayang kulit buatan Widuk Purwanto. Lelaki 47 tahun itu menekuni kerajinan wayang dari kulit sejak 15 tahun yang lalu. Dari saat bujang hingga sekarang. Bapak dua anak itu terus memproduksi wayang kulit di kampungnya, Dusun Karangbangkal, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol.

”Membuat wayang kulit ini pekerjaan sehari-hari. Di luar itu, biasa nyambi MC campursari dan jadi cantrik atau asisten dalang,” ucap Widuk, sapaan akrab suami Iswati ini.

Menjadi perajin wayang kulit tidak merupakan pilihan tiba-tiba. Prosesnya panjang. Tepatnya, saat Widuk masih berusia sekitar 20 tahun. Waktu masih bujangan. Dia ikut salah satu sanggar di kampung halamannya, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Di sanggar itulah, dirinya dilatih untuk membuat wayang kulit. Bersama sejumlah rekan sebayanya kala itu. Berkat latihan tekun, lama-lama Widuk akhirnya terlatih membuat sendiri. Bahkan, sudah terampil seperti sekarang.

”Ada bakat turunan juga dari Pak Mukid, ayah saya. Di rumah Jombang, ayah dulu juga perajin wayang kulit,” tuturnya.

Widuk muda kemudian hijrah ke Karangbangkal. Menetap dan berkeluarga di sana. Di situ pula dia bertemu dengan dalang kondang almarhum Ki Leman. Beberapa wayang kulit untuk kebutuhan pementasan atau pergelaran dia buat sendiri.

Widuk Purwanto memilih kerajinan wayang kulit sebagai mata pencaharian. Selain bakatnya sudah terasah sejak kecil, banyak dalang suka wayang buatannya. Widuk hafal 150-an karakter tokoh pewayangan.

RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo

Sudah tidak terhitung berapa wayang kulit buatan Widuk Purwanto. Lelaki 47 tahun itu menekuni kerajinan wayang dari kulit sejak 15 tahun yang lalu. Dari saat bujang hingga sekarang. Bapak dua anak itu terus memproduksi wayang kulit di kampungnya, Dusun Karangbangkal, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol.

”Membuat wayang kulit ini pekerjaan sehari-hari. Di luar itu, biasa nyambi MC campursari dan jadi cantrik atau asisten dalang,” ucap Widuk, sapaan akrab suami Iswati ini.

Menjadi perajin wayang kulit tidak merupakan pilihan tiba-tiba. Prosesnya panjang. Tepatnya, saat Widuk masih berusia sekitar 20 tahun. Waktu masih bujangan. Dia ikut salah satu sanggar di kampung halamannya, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Di sanggar itulah, dirinya dilatih untuk membuat wayang kulit. Bersama sejumlah rekan sebayanya kala itu. Berkat latihan tekun, lama-lama Widuk akhirnya terlatih membuat sendiri. Bahkan, sudah terampil seperti sekarang.

”Ada bakat turunan juga dari Pak Mukid, ayah saya. Di rumah Jombang, ayah dulu juga perajin wayang kulit,” tuturnya.

Widuk muda kemudian hijrah ke Karangbangkal. Menetap dan berkeluarga di sana. Di situ pula dia bertemu dengan dalang kondang almarhum Ki Leman. Beberapa wayang kulit untuk kebutuhan pementasan atau pergelaran dia buat sendiri.

MOST READ

BERITA TERBARU

/