alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Jadi Hafizah Buat Diana Qurotun Nada Lebih Mudah Menghafal Pelajaran

Punya orang tua yang menjadi guru ngaji, menjadi keuntungan bagi Diana Qurotun Nada. Berkat orang tuanya, dia menjadi seorang hafizah. Ini tidak terlepas dari aktivitas orang tuanya sebagai guru ngaji di TPQ milik mereka.

————-

DIANA berhasil menghafalkan 30 juz dalam tempo tiga tahun. Bahkan, kini ia sudah menamatkan hafalan sebanyak tiga kali.

Minat Diana pada menghafal Alquran mulai tumbuh saat ia masih tinggal di Desa Sidowayah, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Saat tinggal di Sidowayah, orang tuanya mendirikan TPQ Al Hidayah pada 2000. Ia pun kerap melihat orang tuanya mengajarkan anak-anak sekitar mengaji.

Lalu, pada 2008, orang tuanya dipindahkan ke Kota Pasuruan. Ia pun juga pindah sekolah di MI Nurul Islam di Kecamatan Bugul Kidul. Saat itu, sebagian surah pendek dan Surah Al Waqi’ah, Al Mulk, dan Al Kahfi berhasil dihafal olehnya. Dari sini, muncul keinginan dari dalam dirinya untuk menghafalkan Alquran secara keseluruhan.

Usai lulus dari MI, ia melanjutkan pendidikan ke MTs Nurul Huda Singosari, Kabupaten Malang. Di tempat ini, ia mendapatkan teknik dasar membaca Alquran dengan baik selama satu semester.

Pada 2013, ia pindah ke MTS As Salam Pohjentrek. Selama tiga tahun di sini, ia menghafal 30 juz dibimbing oleh almarhum KH Abdus Salam. “Saya menyelesaikan hafalan pada 2016 saat usia 14 tahun. Lalu sempat mempedalam Alquran di bimbing oleh Ustadz Muhammad di MA An Nur Bululawang Malang, tapi cuma setengah tahun,” ungkapnya.

TIGA TAHUN: Diana Qurotun Nada perlu waktu tiga tahun untuk menjadi hafizah. (Foto: dok Pribadi)

Selanjutnya, ia pindah ke Pesantren Alquran An Najah Podokaton Gondang Wetan. Di tempat ini, ia dibimbing memperbagus bacaan Alquran oleh Ustadzah Luluk Iliyah. Lalu pada 2019, ia pindah ke Ponpes Al Yasini dan menempuh pendidikan MAN. Di MAN Al Yasini, ia mendapatkan beasiswa atas prestasi akademi dan tahfidzul Quran.

“Sejak saya menghafal Alquran, sampai kini terhitung saya sudah tiga kali tamat dalam menghafal. Dan di Pesantren Al Yasini, saya ikut membantu santriwati dalam menghafal Alquran,” jelas warga Jalan Pattimura, Kelurahan/Kecamatan Bugul Kidul ini.

Sejumlah prestasi membanggakan berhasil diraihnya baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Terhitung sampai kini ada 10 penghargaan yang sudah didapatkannya. Di antaranya juara lomba pidato bahasa Arab tingkat Kota Pasuruan pada 2012 dan juara I Musabaqoh Hifdzil Quran tingkat Kota Pasuruan pada 2014 lalu.

“Alhamdulillah, banyak hikmah yang saya dapatkan dari menghafal Alquran. Saya menjadi lebih mudah menghafal pelajaran karena sudah terbiasa menghafal. Dan pernah ranking I di MTs As Salam,” sebutnya.

Sementara itu, Mashadi, ayah Diana mengaku, awalnya ia tidak langsung mengiyakan saat putrinya ingin jadi hafizah. Saat melihat potensi dalam dirinya, ia pun mendukung penuh.

Namun, bukannya tanpa kendala untuk mewujudkan sang putri menjadi hafizah. Putrinya kerap sakit karena makan kurang teratur. Pasalnya, saat ia sudah konsentrasi pada hafalan, putrinya itu kerap melupakan hal lainnya seperti makan.

“Keinginan saya selaku orang tua, ya ingin agar ia memperdalam ilmu tafsir. Jadi tidak hanya hafal ayatnya, tapi juga menguasai isi dan memahaminya. Dan dari sini bisa melahirkan penerus penghafal lainnya,” tuturnya. (fahrizal firmani/fun)

Punya orang tua yang menjadi guru ngaji, menjadi keuntungan bagi Diana Qurotun Nada. Berkat orang tuanya, dia menjadi seorang hafizah. Ini tidak terlepas dari aktivitas orang tuanya sebagai guru ngaji di TPQ milik mereka.

————-

DIANA berhasil menghafalkan 30 juz dalam tempo tiga tahun. Bahkan, kini ia sudah menamatkan hafalan sebanyak tiga kali.

Minat Diana pada menghafal Alquran mulai tumbuh saat ia masih tinggal di Desa Sidowayah, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Saat tinggal di Sidowayah, orang tuanya mendirikan TPQ Al Hidayah pada 2000. Ia pun kerap melihat orang tuanya mengajarkan anak-anak sekitar mengaji.

Lalu, pada 2008, orang tuanya dipindahkan ke Kota Pasuruan. Ia pun juga pindah sekolah di MI Nurul Islam di Kecamatan Bugul Kidul. Saat itu, sebagian surah pendek dan Surah Al Waqi’ah, Al Mulk, dan Al Kahfi berhasil dihafal olehnya. Dari sini, muncul keinginan dari dalam dirinya untuk menghafalkan Alquran secara keseluruhan.

Usai lulus dari MI, ia melanjutkan pendidikan ke MTs Nurul Huda Singosari, Kabupaten Malang. Di tempat ini, ia mendapatkan teknik dasar membaca Alquran dengan baik selama satu semester.

Pada 2013, ia pindah ke MTS As Salam Pohjentrek. Selama tiga tahun di sini, ia menghafal 30 juz dibimbing oleh almarhum KH Abdus Salam. “Saya menyelesaikan hafalan pada 2016 saat usia 14 tahun. Lalu sempat mempedalam Alquran di bimbing oleh Ustadz Muhammad di MA An Nur Bululawang Malang, tapi cuma setengah tahun,” ungkapnya.

TIGA TAHUN: Diana Qurotun Nada perlu waktu tiga tahun untuk menjadi hafizah. (Foto: dok Pribadi)

Selanjutnya, ia pindah ke Pesantren Alquran An Najah Podokaton Gondang Wetan. Di tempat ini, ia dibimbing memperbagus bacaan Alquran oleh Ustadzah Luluk Iliyah. Lalu pada 2019, ia pindah ke Ponpes Al Yasini dan menempuh pendidikan MAN. Di MAN Al Yasini, ia mendapatkan beasiswa atas prestasi akademi dan tahfidzul Quran.

“Sejak saya menghafal Alquran, sampai kini terhitung saya sudah tiga kali tamat dalam menghafal. Dan di Pesantren Al Yasini, saya ikut membantu santriwati dalam menghafal Alquran,” jelas warga Jalan Pattimura, Kelurahan/Kecamatan Bugul Kidul ini.

Sejumlah prestasi membanggakan berhasil diraihnya baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Terhitung sampai kini ada 10 penghargaan yang sudah didapatkannya. Di antaranya juara lomba pidato bahasa Arab tingkat Kota Pasuruan pada 2012 dan juara I Musabaqoh Hifdzil Quran tingkat Kota Pasuruan pada 2014 lalu.

“Alhamdulillah, banyak hikmah yang saya dapatkan dari menghafal Alquran. Saya menjadi lebih mudah menghafal pelajaran karena sudah terbiasa menghafal. Dan pernah ranking I di MTs As Salam,” sebutnya.

Sementara itu, Mashadi, ayah Diana mengaku, awalnya ia tidak langsung mengiyakan saat putrinya ingin jadi hafizah. Saat melihat potensi dalam dirinya, ia pun mendukung penuh.

Namun, bukannya tanpa kendala untuk mewujudkan sang putri menjadi hafizah. Putrinya kerap sakit karena makan kurang teratur. Pasalnya, saat ia sudah konsentrasi pada hafalan, putrinya itu kerap melupakan hal lainnya seperti makan.

“Keinginan saya selaku orang tua, ya ingin agar ia memperdalam ilmu tafsir. Jadi tidak hanya hafal ayatnya, tapi juga menguasai isi dan memahaminya. Dan dari sini bisa melahirkan penerus penghafal lainnya,” tuturnya. (fahrizal firmani/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/