alexametrics
28.6 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Curhat Tenaga Kontrak RSUD dr Saleh yang Diberhentikan

Ratusan tenaga kontrak yang diberhentikan di RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo, masih berharap bisa dipekerjakan lagi. Sebab, mencari pekerjaan saat ini tidak mudah. Mereka pun menunggu solusi dari pemerintah.

RIZKY PUTRA DINASTI, Kanigaran, Radar Bromo

Saat kondisi ekonomi sulit, mencari pekerjaan di saat pandemi menjadi hal yang tidak mudah. Itulah yang dirasakan 128 karyawan kontrak RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo yang diberhentikan, beberapa waktu lalu.

Pemberhentian yang dinilai sepihak itu membuat mereka kelimpungan. Keputusan itu membuat mereka kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, mereka tidak punya pekerjaan sampingan selama ini. Usia juga tidak lagi muda. Sulit untuk melamar pekerjaan di tempat baru.

Namun, perut harus tetap makan. Mereka, terutama para kepala keluarga, harus memastikan anak istri di rumah tetap makan.

Inilah yang dialami Mohammad Arif Latif, 47, salah satu karyawan kontrak yang diberhentikan. Dia telah mengabdi selama 6 tahun di RSUD dr. Mohamad Saleh. Tugasnya yaitu operator CCTV di rumah sakit pelat merah itu.

Sayangnya, setelah efisiensi dilakukan, ia pun ikut ‘kena depak.’ Harus melepas pekerjaan yang telah menghidupinya selama ini.

Keke –panggilannya-, mengaku berat menerima keputusan itu. Sebab, saat ini ia merupakan tulang punggung keluarga dengan satu anak. Saat ia tak lagi bekerja, secara tidak langsung keberlangsungan hidupnya kian menurun.

Ratusan tenaga kontrak yang diberhentikan di RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo, masih berharap bisa dipekerjakan lagi. Sebab, mencari pekerjaan saat ini tidak mudah. Mereka pun menunggu solusi dari pemerintah.

RIZKY PUTRA DINASTI, Kanigaran, Radar Bromo

Saat kondisi ekonomi sulit, mencari pekerjaan di saat pandemi menjadi hal yang tidak mudah. Itulah yang dirasakan 128 karyawan kontrak RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo yang diberhentikan, beberapa waktu lalu.

Pemberhentian yang dinilai sepihak itu membuat mereka kelimpungan. Keputusan itu membuat mereka kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, mereka tidak punya pekerjaan sampingan selama ini. Usia juga tidak lagi muda. Sulit untuk melamar pekerjaan di tempat baru.

Namun, perut harus tetap makan. Mereka, terutama para kepala keluarga, harus memastikan anak istri di rumah tetap makan.

Inilah yang dialami Mohammad Arif Latif, 47, salah satu karyawan kontrak yang diberhentikan. Dia telah mengabdi selama 6 tahun di RSUD dr. Mohamad Saleh. Tugasnya yaitu operator CCTV di rumah sakit pelat merah itu.

Sayangnya, setelah efisiensi dilakukan, ia pun ikut ‘kena depak.’ Harus melepas pekerjaan yang telah menghidupinya selama ini.

Keke –panggilannya-, mengaku berat menerima keputusan itu. Sebab, saat ini ia merupakan tulang punggung keluarga dengan satu anak. Saat ia tak lagi bekerja, secara tidak langsung keberlangsungan hidupnya kian menurun.

MOST READ

BERITA TERBARU

/