alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Tuesday, 7 December 2021

Begini Peringatan Hari Disabilitas Internasional di Pasuruan

Warga disabilitas masih kerap dianggap warga kelas dua. Lewat peringatan hari Disabilitas Internasional di Pasuruan, mereka unjuk kemampuan untuk menegaskan bahwa mereka ada.

—————-

Puluhan anak berusia belasan tahun duduk-duduk di kafe minuman depan area swalayan Carrefour Pasuruan. Penampilan mereka seperti remaja lainnya. memakain celana jins, kemeja, dan sneakers. Mereka pun berbincang dan bercanda satu sama lain. Namun, percakapan mereka tanpa suara. Hanya dengan isyarat tangan.

Ya, Sabtu (14/12) malam di Carrefour Pasuruan memang ada peringatan Hari Disabilitas Internasional yang rutin dirayakan pada 3 Desember. Di Pasuruan, puncak peringatan diadakan dengan kegiatan talkshow dan unjuk bakat. Dengan tema “Indonesia Inklusi, Disabilitas Unggul,” teman disabilitas ingin mengajak masyarakat untuk lebih mengenal mereka.

Kegiatan yang dipusatkan di dalam swalayan, memang cukup menarik perhatian pengunjung. Bahkan, tak sedikit pengunjung yang kemudian melihat aksi teman-teman disabilitas. Ada yang berpantomim meskipun tunarungu, menari tari tradisional meskipun tuli, dan bermain musik meskipun tunanetra, tunadaksa, sampai tunagrahita.

ATRAKTIF: Lentera Band dari penyandang tunanetra dan tunadaksa. (Foto: Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Seperti yang dilakukan Putri Mauludia bersama tiga temannya dari SMALB Kota Pasuruan. Kendati tunarungu, mereka menarikan tari Pasuruan Kondang. Kendati tak bisa mendengar, mereka bisa menari dengan cara menghitung ketukan. Sehingga, gerakan mereka pas dengan irama musik.

“Memang keliatannya sulit, tapi mereka berlatih cuma satu minggu. Jadi, mereka pakai hitungan agar gerakan bisa sesuai dengan musik,” ujar Laras, guru pendamping mereka.

Mauludin, ketua Komunitas Penyandang Disabilitas Kota Pasuruan (KPDP) mengatakan, sosialisasi teman disabilitas ini rutin dilakukan. Termasuk Hari Disabilitas Internasional yang dijadikan momentum agar masyarakat lebih mengenal teman-teman yang keadaan fisiknya tak sempurna.

“Kami ingin masyarakat umum bisa mengenal teman-teman disabilitas. Tidak kaget saat ketemu mereka dan bisa membaur dengan mereka,” terangnya.

Di Kota Pasuruan, teman disabilitas memang mulai banyak dilibatkan. Tidak hanya di sekolah inklusi. Namun, beberapa fasilitas umum mulai ada yang ramah disabilitas.

“Fasilitas umum sudah mulai ada yang ramah disabilitas, namun tidak semua. Harapan kami ke depan semua bisa ramah. Seperti di kantor pemerintahan, trotoar, dan fasum lainnya,” terangnya.

Mauludin sendiri menilai, Pemkot Probolinggo sudah mengapresiasi mereka. Salah satunya, warga disabilitas mulai dilibatkan dalam kegiatan pemerintah. Harapannya, teman disabilitas ini bisa diberi kesempatan yang sama.

Mahrus Ali, distrik koordinator Pasuruan Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) mitra Unicef mengatakan, pada awalnya, masyarakat di Pasuruan belum banyak mengenal teman disabilitas, termasuk sekolah inklusi. “Namun dengan rutin sosialisasi, masyarakat Pasuruan kini mulai mengenal mereka. Bahkan, bisa menerima dan membaur jika ada teman-teman disabilitas di sekitar mereka,” terangnya.

Harapannya, masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata dan tidak membeda-bedakan mereka. Bahkan, menurutnya, masyarakat Pasuruan kini cukup terbuka untuk menerima teman disabilitas.

“Masyarakat Pasuruan ini justru saya lihat lebih terbuka dibanding daerah lain. Bahkan, penerimaan terhadap teman disabilitas juga terbuka dan tidak memandang sebelah mata,” terangnya.

Salah satu pengunjung swalayan, Sahid, 51, warga Purworejo, Kota Pasuruan, mengaku terharu dan bangga melihat teman disabilitas yang tampil menunjukkan bakat mereka. “Saya terenyuh dan memang jarang melihat teman disabilitas. Bagi saya mereka sama saja seperti yang lain. Bahkan, kalau diberikan kesempatan dan diwadahi, mereka bisa berkontribusi yang sama seperti masyarakat lain,” ungkapnya.

Denny Kurniawan, sekretaris KPDP Kota Pasuruan yang juga penyandang disabilitas netra mengatakan, dengan talkshow dan unjuk kreatif kemarin, harapannya masyarakat umum bisa termuka menerima mereka. “Jadi, juga berharap masyarakat, pemerintah, dan stakeholder bisa memberikan fasilitas. Termasuk memberikan wadah bagi kami untuk mengembangkan bakat,” terangnya.

Saat Denny tidak memungkiri, masih banyak teman disabilitas lain yang dipingit di rumah lantaran dianggap kurang bisa mandiri oleh keluarganya. Padahal, jika diberi kepercayaan, teman disabilitas bisa berkontribusi sama seperti masyarakat umum. Karena setiap kekurangan yang dimiliki, ada kelebihan yang bisa bisa diberikan. (eka/hn/fun)

Warga disabilitas masih kerap dianggap warga kelas dua. Lewat peringatan hari Disabilitas Internasional di Pasuruan, mereka unjuk kemampuan untuk menegaskan bahwa mereka ada.

—————-

Puluhan anak berusia belasan tahun duduk-duduk di kafe minuman depan area swalayan Carrefour Pasuruan. Penampilan mereka seperti remaja lainnya. memakain celana jins, kemeja, dan sneakers. Mereka pun berbincang dan bercanda satu sama lain. Namun, percakapan mereka tanpa suara. Hanya dengan isyarat tangan.

Ya, Sabtu (14/12) malam di Carrefour Pasuruan memang ada peringatan Hari Disabilitas Internasional yang rutin dirayakan pada 3 Desember. Di Pasuruan, puncak peringatan diadakan dengan kegiatan talkshow dan unjuk bakat. Dengan tema “Indonesia Inklusi, Disabilitas Unggul,” teman disabilitas ingin mengajak masyarakat untuk lebih mengenal mereka.

Kegiatan yang dipusatkan di dalam swalayan, memang cukup menarik perhatian pengunjung. Bahkan, tak sedikit pengunjung yang kemudian melihat aksi teman-teman disabilitas. Ada yang berpantomim meskipun tunarungu, menari tari tradisional meskipun tuli, dan bermain musik meskipun tunanetra, tunadaksa, sampai tunagrahita.

ATRAKTIF: Lentera Band dari penyandang tunanetra dan tunadaksa. (Foto: Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Seperti yang dilakukan Putri Mauludia bersama tiga temannya dari SMALB Kota Pasuruan. Kendati tunarungu, mereka menarikan tari Pasuruan Kondang. Kendati tak bisa mendengar, mereka bisa menari dengan cara menghitung ketukan. Sehingga, gerakan mereka pas dengan irama musik.

“Memang keliatannya sulit, tapi mereka berlatih cuma satu minggu. Jadi, mereka pakai hitungan agar gerakan bisa sesuai dengan musik,” ujar Laras, guru pendamping mereka.

Mauludin, ketua Komunitas Penyandang Disabilitas Kota Pasuruan (KPDP) mengatakan, sosialisasi teman disabilitas ini rutin dilakukan. Termasuk Hari Disabilitas Internasional yang dijadikan momentum agar masyarakat lebih mengenal teman-teman yang keadaan fisiknya tak sempurna.

“Kami ingin masyarakat umum bisa mengenal teman-teman disabilitas. Tidak kaget saat ketemu mereka dan bisa membaur dengan mereka,” terangnya.

Di Kota Pasuruan, teman disabilitas memang mulai banyak dilibatkan. Tidak hanya di sekolah inklusi. Namun, beberapa fasilitas umum mulai ada yang ramah disabilitas.

“Fasilitas umum sudah mulai ada yang ramah disabilitas, namun tidak semua. Harapan kami ke depan semua bisa ramah. Seperti di kantor pemerintahan, trotoar, dan fasum lainnya,” terangnya.

Mauludin sendiri menilai, Pemkot Probolinggo sudah mengapresiasi mereka. Salah satunya, warga disabilitas mulai dilibatkan dalam kegiatan pemerintah. Harapannya, teman disabilitas ini bisa diberi kesempatan yang sama.

Mahrus Ali, distrik koordinator Pasuruan Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) mitra Unicef mengatakan, pada awalnya, masyarakat di Pasuruan belum banyak mengenal teman disabilitas, termasuk sekolah inklusi. “Namun dengan rutin sosialisasi, masyarakat Pasuruan kini mulai mengenal mereka. Bahkan, bisa menerima dan membaur jika ada teman-teman disabilitas di sekitar mereka,” terangnya.

Harapannya, masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata dan tidak membeda-bedakan mereka. Bahkan, menurutnya, masyarakat Pasuruan kini cukup terbuka untuk menerima teman disabilitas.

“Masyarakat Pasuruan ini justru saya lihat lebih terbuka dibanding daerah lain. Bahkan, penerimaan terhadap teman disabilitas juga terbuka dan tidak memandang sebelah mata,” terangnya.

Salah satu pengunjung swalayan, Sahid, 51, warga Purworejo, Kota Pasuruan, mengaku terharu dan bangga melihat teman disabilitas yang tampil menunjukkan bakat mereka. “Saya terenyuh dan memang jarang melihat teman disabilitas. Bagi saya mereka sama saja seperti yang lain. Bahkan, kalau diberikan kesempatan dan diwadahi, mereka bisa berkontribusi yang sama seperti masyarakat lain,” ungkapnya.

Denny Kurniawan, sekretaris KPDP Kota Pasuruan yang juga penyandang disabilitas netra mengatakan, dengan talkshow dan unjuk kreatif kemarin, harapannya masyarakat umum bisa termuka menerima mereka. “Jadi, juga berharap masyarakat, pemerintah, dan stakeholder bisa memberikan fasilitas. Termasuk memberikan wadah bagi kami untuk mengembangkan bakat,” terangnya.

Saat Denny tidak memungkiri, masih banyak teman disabilitas lain yang dipingit di rumah lantaran dianggap kurang bisa mandiri oleh keluarganya. Padahal, jika diberi kepercayaan, teman disabilitas bisa berkontribusi sama seperti masyarakat umum. Karena setiap kekurangan yang dimiliki, ada kelebihan yang bisa bisa diberikan. (eka/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU