alexametrics
24C
Probolinggo
Monday, 18 January 2021

Mengenal Komunitas Jagongan 1926 alias Jamaah Gowes Sarungan

Selama masa pandemi Covid-19, sejumlah komunitas bersepeda muncul. Di Kabupaten Pasuruan misalnya, ada Jagongan 1926. Memiliki akronim jamaah gowes sarungan, anggotanya berasal dari berbagai latar belakang. Mulai gus dan kiai, camat, kades, anggota dewan, dan lain-lain.

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwosari, Radar Bromo

PULUHAN pesepeda mengayuh medan di jalur tanjakan yang lumayan tinggi. Start dari kediaman Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf di Kauman, Kelurahan/ Kecamatan Purwosari, mereka menuju pit stop di Ponpes Walisongo, Dusun Rejoso, Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari.

Sabtu (14/11) pagi itu, mereka bersepeda dengan keringat bercucuran dan wajah lelah. Namun, kegembiraan tetap tergambar di wajah-wajah mereka.

Itulah para peserta mancal bareng yang tergabung dalam Jamaah Gowes Sarungan (Jagongan) 1926. Jagongan adalah sebuah komunitas bersepeda yang cukup aktif beraktivitas selama masa pandemi.

Acara mancal bareng itu sendiri, sudah ketujuh kalinya digelar Jagongan 1926. Dengan rute dan jalur selalu berbeda di setiap kegiatan.

Yang unik, setiap bersepeda anggota komunitas ini selalu memakai sarung. Tidak hanya pakai sarung, mereka juga memakai songkok dan peci, selain helm dan topi. Tak ayal, ‘seragam’ sarung itu selalu menjadi perhatian warga di jalanan yang mereka lintasi.

Sementara anggota yang ikut berasal dari beragam latar belakang. Mulai gus dan kiai. Ada juga camat, kades, anggota dewan, dan masyarakat umum lainnya.

Irsyad Yusuf yang juga anggota komunitas ini juga ikut bersepeda, Sabtu pagi itu. Menurutnya, medan yang dilalui pada kegiatan ketujuh kalinya itu adalah yang paling berat dari sebelumnya.

“Mancal bareng jalur Purwosari ini adalah kegiatan yang ketujuh kalinya. Ini medan paling berat dari jalur-jalur atau rute sebelumnya. Tapi kami tetap riang, ceria dan senang,” ucap Gus Irsyad, panggilannya.

Selama beraktivitas, Jagongan 1926 menurutnya identik dengan sarungan saat mancal. Bahkan, komunitas ini identik dengan gus dan kiai. Sebab, banyak gus dan kiai dari sejumlah pesantren bergabung dalam komunitas ini. Mulai Besuk, Sidogiri, Gondangwetan, Lekok, Pasrepan, Rejoso, Kraton, Sukorejo dan lainnya. Dari sini pula, awal munculnya nama Jagongan.

Sedangkan 1926, diambil dari rute yang ditempuh selama tiga kali di awal mancal bareng sejak 22 Oktober. “Awalnya rute pertama jarak tempuhnya satu kilometer. Kedua, sembilan kilometer dan ketiga dalam sebulan sudah 26 kilometer. Jadi kami beri nama Jagongan 1926,” bebernya.

Sejak berdiri pada 22 Oktober lalu, giat mancal bareng Jagongan 1926 sudah digelar tujuh kali. Antara lain di Kejayan, Al Yasini, Wonorejo; dan Kecamatan Lekok. Kemudian Rejoso, Pasrepan, Gondangwetan dan terakhir pekan kemarin di Purwosari.

Biasanya, kegiatan ini digelar minimal sepekan sekali. Namun, pernah juga digelar sepekan dua kali. Rute dan lokasinya selalu berpindah tempat dan kecamatan. Awalnya dibentuk pesertanya hanya beberapa orang saja, kini mencapai puluhan.

Sebagai pembina Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, Wabub Mujib Imron dan ketua PCNU Kabupaten Pasuruan KH. Imron Mutamakkin atau Gus Ipong. Sedangkan ketuanya Gus Nasih dari Rejoso dibantu team loading Salim dan kawan-kawan.

“Jagongan ini ada bersamaan dengan adanya Covid. Saya inisiatif olahraga yang physical distancing. Juga untuk tetap produktif dan buat tambah imun sekaligus silaturahmi. Kami juga gencar sosialisai 5M,” ujarnya.

Ke depan, Jagongan 1926 diupayakan tetap eksis. Juga rutin mancal bareng, minimal sepekan sekali.

“Manfaatnya banyak sekali. Pastilah, ke depan kami akan terus eksis,” tuturnya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU