alexametrics
24C
Probolinggo
Monday, 18 January 2021

Melihat Pertashop Dandang, Penyalur Resmi BBM di Pelosok Desa

Pertashop Desa Dandang, Kecamatan Gading, menjadi satu dari tiga lembaga resmi penyalur BBM di pelosok desa di Kabupaten Probolinggo. Keberadaan pertashop ini sangat membantu memenuhi kebutuhan BBM masyarakat.

ARIF MASHUDI, Gading-Radar Bromo

 

SEJAK tiga bulan lalu, sebuah lembaga penyalur resmi BBM dari Pertamina berdiri di Desa Dandang, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Bukan pertamini, melainkan pertashop. Lokasinya tepat di tepi jalan Desa Dandang. Di sini, yang dijual hanya pertamax.

Salah satu syarat utama berdirinya Pertashop yaitu, berjarak paling dekat 5 kilometer dengan SPBU terdekat. SPBU terdekat dengan Pertashop Dandang adalah SPBU Kebonagung, Kecamatan Kraksaan. Jarak keduanya sekitar 15 kilometer. Pas dengan salah satu syarat yang diwajibkan Pertamina.

Pertashop sendiri, termasuk ‘barang’ baru. Tidak hanya di Desa Dandang, namun juga di Kabupaten Probolinggo secara umum. Selama ini, warga di pelosok desa biasa membeli BBM di penjual eceran. Terutama untuk membeli bensin jenis premium atau pertalite.

Selain kios bensin eceran, warga juga mengenal pertamini untuk membeli BBM. Namun, sama dengan kios bensin eceran, pertamini bukan lembaga resmi dari Pertamina. Status mereka juga penjual BBM eceran.

Karena itu, keberadaan Pertashop Dandang langsung menarik perhatian konsumen. Bukan hanya karena berdiri di pelosok desa. Lebih dari itu, harga jual BBM di Pertashop sama dengan di SPBU. Warga pun tidak perlu jauh-jauh ke SPBU, untuk membeli BBM dengan harga resmi.

Bukan hanya warga Desa Dandang yang merasa lebih mudah mendapatkan BBM. Warga desa sekitar pun ikut merasakan kemudahannya. ”Pertashop Dandang ini sangat menguntungkan masyarakat. Saya sendiri tidak perlu ke SPBU atau membeli BBM eceran. Apalagi, beli BBM eceran harganya jauh lebih mahal. Bensin (baca: premium) harga ecerannya Rp 8.500 dan bisa sampai Rp 9.000. Mending beli Pertamax di Pertashop ini, harganya Rp 9.000,” kata Tauhid, 42, warga Desa Dandang.

Selain mendapat harga yang lebih murah dari penjual eceran. Tauhid mengaku membeli BBM di perstashop akan terhindar dari bensin oplosan. Apalagi, saat ini menurutnya sedang viral penjual bensin oplosan di tingkat eceran.

Saat tidak ada pertashop, Tauhid lebih suka membeli bensin ke SPBU untuk menghindari bensin oplosan. Jaraknya lumayan jauh. Sebab, SPBU terdekat adanya di Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan.

Karena itu, keberadaan pertashop ini sangat memudahkan Tauhid untuk mendapat BBM sekelas dan seharga SPBU. ”Kalau beli ke SPBU jauh. Habis berapa bensinnya kalau ke SPBU Kebonagung. Mending ke pertashop. Bisa dapat pertamax, tapi tidak jauh belinya,” ungkapnya.

Tidak hanya Tauhid, warga sekitar pun merasakan benar kemudahan dengan adanya pertashop di desa. Mereka sangat anstusias membeli BBM di Pertashop Dandang. Buktinya, pukul 09.30 Senin (16/11), Pertashop Dandang sudah tutup. Pertamax habis terjual sekitar pukul 09.00. “Tadi pagi buka. Tapi karena sudah habis, jadi tutup,” kata Indra Febrianto, salah satu operator Pertashop Dandang.

LARIS: Pertashop Dandang yang sudah tutup pukul 09.30, Senin pagi (16/11). (Arif Mashudi/ Radar Bromo)

Indra yang juga pengurus BUMDes Al-Hidayah Desa Dandang mengatakan, penjualan pertamax di Pertashop dibatasi oleh PT. Pertamina. Tiap harinya, maksimal penjualan 1.000 liter.

Pertamina sendiri, menyuplai 2.000 liter pertamax untuk setiap kiriman. Jumlah itu habis dalam waktu dua hari. Setelah itu, pertashop akan dapat kiriman lagi dari Pertamina.

”Kiriman dilakukan dua hari sekali. Biasanya nanti sore atau malam, suplai pertamax dari Pertamina datang lagi. Jadi sesuai aturan, penjualan tiap harinya dibatasi maksimal 1.000 liter,” terangnya.

Indra menceritakan, pertashop Dandang beroperasi sejak awal Juli. Selain di Gading, berdiri dua pertashop lain di Kabupaten Probolinggo. Yaitu di Kecamatan Bantaran dan Tiris.

Saat itu, dirinya bersama rekannya, Aprianto Rais ditunjuk sebagai petugas Pertashop, perwakilan pengurus BUMDes. Nah, saat itu dirinya diberikan pelatihan lebih dulu.

”Sehari dilatih untuk tugas pemadamkebakaran di Malang. Karena BBM paling rawan terjadi kebakaran. Kemudian, pelatihan menjadi operator selama tiga hari di Lumajang,” ujarnya.

Setelah mendapatkan pelatihan, Pertashop yang didirikan oleh desa mulai beroperasi. Namun, dalam waktu 4 bulan operasional masih bersifat ujicoba. Selama ujicoba itu, Pertashop masih dibawah tanggungjawab Pertamina. Setelah uji coba, baru kemudian pengelolaan Pertashop diserahkan pada BUMDes.

”Kalau sekarang pengelolaannya masih di bawah Pertamina. Sekarang masih proses akan dilakukan penyerahan. Untuk pengawasannya akan terus dibawah Pertamina, karena pertashop ini lembaga penyalur resmi dari Pertamina,” terangnya.

Kebutuhan BBM masyarakat sekitar diakaui Indra sangat besar. Terbukti, kemarin (16/11) pagi, pertashop buka pukul 06.00. Dan dalam waktu tiga jam saja, penjualan sudah mencapai 1.000 liter. Sehingga, pihaknya menutup pertashop tersebut. Sebab sesuai aturan, penjualan BBM maksimal dibatasi 1.000 liter tiap harinya.

”Sempat dua hari berturut-turut dapat suplai BBM pertamax dari Pertamina. Akhirnya, kami seharian penuh mulai pagi sampai magrib buka. Penjualan bisa sampai 2.600 liter pertamax,” terangnya.

Saat pembelian pertamax sepi, pertashop bisa buka mulai pagi sampai siang atau sore. Biasanya, dalam sehari itu penjualan tetap mencapai 1.000 liter.

”Kalau penjualan pertamax sudah sampai 1.000 liter, kami tutup. Karena, kapasitas tangki bawah tanah tempat penyimpanan BBM itu kapasitasnya 3.000 liter,” ungkapnya.

Imam Suja’i, selaku Pj Kades Dandang mengatakan, keberadaan pertashop sangat membantu masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan BBM. Selain itu, pertashop tersebut akan dikelola oleh BUMDes Al-Hidayah Desa Dandang. Sehingga, bisa memberdayakakan masyarakat untuk pengelolaannya.

”Pertashop sangat membantu masayrakat di daerah pelosok. Karena harga eceran juga mahal,” ujarnya. (hn)

 

MOST READ

BERITA TERBARU