25.6 C
Probolinggo
Tuesday, October 4, 2022

Cerita Pembatik Probolinggo Dapat Pesanan Masker Batik dari Ibu Negara

Nico Sawiji, baru 10 tahun menjadi seorang pembatik. Namun, lelaki berusia 31 tahun warga Kota Probolinggo itu pernah dapat pesanan masker batik dari ibu negara, Iriana Jokowi.

FAHRIZAL FIRMANI, Kanigaran, Radar Bromo

RUMAH Poerwa Batik di Jalan Angguran Jaya 133, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, itu sedang sepi. Tidak ada aktivitas membatik yang biasanya terlihat di sana. Hanya ada Nico Sawiji yang sedang memilah-milah batik tulis yang sudah jadi.

“Kebetulan hari ini lagi libur. Beberapa batik tulis yang sudah jadi, kemarin (13/8) saya kirim ke pemesan. Memang di sini cuma sebagai lokasi display lembaran batik saja,” ungkap Nico memulai obrolan.

Nico mulai menyukai batik sejak masih SMA pada tahun 2006. Kesukaannya pada batik berlanjut setelah ia mengambil kuliah S-1 sastra Jepang di Universitas Brawijaya pada 2009.

Namun, ia hanya mengenyam pendidikan tinggi ini selama dua tahun. Tidak sampai selesai. Ia lantas bekerja freelance dengan ikut agen perjalanan di Jogjakarta dan Bali pada 2011. Di sela-sela pekerjaannya itu, ia diajak temannya untuk belajar batik di Sidoarjo pada 2012.

Nico sempat belajar dasar membuat batik selama sebulan. Setelah pulang ke Kota Probolinggo, ia memberanikan diri membuat batik tulis. Batik pertama yang dibuatnya adalah motif mangga anggur dan dijual dengan harga Rp 200 ribu.

“Waktu itu saya dibantu membuat oleh tujuh teman sesama anggota komunitas batik. Tapi, setelah setahun, kami memutuskan berpisah. Apalagi waktu itu kami masih merintis. Jadi, penghasilan masih naik turun,” jelas Nico.

Nico Sawiji, baru 10 tahun menjadi seorang pembatik. Namun, lelaki berusia 31 tahun warga Kota Probolinggo itu pernah dapat pesanan masker batik dari ibu negara, Iriana Jokowi.

FAHRIZAL FIRMANI, Kanigaran, Radar Bromo

RUMAH Poerwa Batik di Jalan Angguran Jaya 133, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, itu sedang sepi. Tidak ada aktivitas membatik yang biasanya terlihat di sana. Hanya ada Nico Sawiji yang sedang memilah-milah batik tulis yang sudah jadi.

“Kebetulan hari ini lagi libur. Beberapa batik tulis yang sudah jadi, kemarin (13/8) saya kirim ke pemesan. Memang di sini cuma sebagai lokasi display lembaran batik saja,” ungkap Nico memulai obrolan.

Nico mulai menyukai batik sejak masih SMA pada tahun 2006. Kesukaannya pada batik berlanjut setelah ia mengambil kuliah S-1 sastra Jepang di Universitas Brawijaya pada 2009.

Namun, ia hanya mengenyam pendidikan tinggi ini selama dua tahun. Tidak sampai selesai. Ia lantas bekerja freelance dengan ikut agen perjalanan di Jogjakarta dan Bali pada 2011. Di sela-sela pekerjaannya itu, ia diajak temannya untuk belajar batik di Sidoarjo pada 2012.

Nico sempat belajar dasar membuat batik selama sebulan. Setelah pulang ke Kota Probolinggo, ia memberanikan diri membuat batik tulis. Batik pertama yang dibuatnya adalah motif mangga anggur dan dijual dengan harga Rp 200 ribu.

“Waktu itu saya dibantu membuat oleh tujuh teman sesama anggota komunitas batik. Tapi, setelah setahun, kami memutuskan berpisah. Apalagi waktu itu kami masih merintis. Jadi, penghasilan masih naik turun,” jelas Nico.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/