alexametrics
25.4 C
Probolinggo
Saturday, 25 June 2022

Mutholib, Juru Pelihara Candi Jawi Sering Dapat Pengalaman Mistis

Sudah tiga tahun Mutholib jadi juru pelihara (jupel) Candi Jawi. Selama di sana, pengalaman mistis sering dialaminya. Namun, ia tak pernah keder. Justru, menganggap tempatnya kerjanya sebagai rumah kedua.

 

SEBENARNYA, Mutholib sudah belasan tahun jadi jupel cagar budaya berupa candi. Sebelum menjadi jupel Candi Jawi, warga Jedong, Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, itu pernah menjadi jupel Candi Pandawa.

BERPENGALAMAN: Selain Candi Jawi, Mutholib pernah menjadi juru pelihara Candi Pandawa di Mojokerto. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Bahkan, sejak 2002 dia jadi jupel candi yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, itu. Lalu mulai awal 2019, dia dipindah menjadi jupel Candi Jawi di Candiwates, Kecamatan Prigen.

Secara lokasi, sebenarnya Candi Jawi jauh lebih terjangkau dibanding Candi Pandawa. Bisa dibilang, Candi Jawi dekat dengan pusat kota. Namun, bagi PNS di kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim itu, saat ini tugasnya justru jauh lebih sulit.

Sebab, Candi Jawi lebih luas dibanding Candi Pandawa. Lalu, pengunjungnya juga jauh lebih ramai.

“Candi Jawi ini tempat kedua saya sebagai jupel cagar budaya. Sudah saya anggap rumah sendiri. Sebab, tiap hari harus standby di lokasi mulai pagi hingga sore,” kata Tholib, sapaan akrabnya.

Tholib sendiri tidak menetap di sana. Meskipun di kompleks Candi Jawi ada kantor yang juga pos jaga. Dengan mengendarai motor, dia pulang tiap hari ke rumahnya di Ngoro yang berjarak sekitar 25 kilometer.

“Memang jupel tidak harus menetap di lokasi cagar budaya. Tapi, wajib atau datang tiap hari ke Candi Jawi,” terang suami dari Khusnul Faridah.

Di kompleks candi, pekerjaan Tholib cukup berat. Tapi, justru itu menurutnya yang bisa mengalihkan perhatian.

Tiap hari dia harus merawat candi. Mulai membersihkan, menjaga, dan melaporkan kondisi candi ke kantor. Di situlah beda antara jupel dengan juru kunci. Juru kunci hanya merawat. Sementara tugas jupel lebih kompleks.

“Jupel harus tahu sejarahnya tempat yang dijaga. Karena di lapangan melayani pengunjung. Termasuk memberikan penjelasan, apabila ada yang tanya dan kurang jelas,” kata penghobi burung berkicau ini.

Di luar tugasnya sebagai jupel Candi Jawi, Tholib mengaku banyak mendapat pengalaman mistis di sana. Tidak peduli pagi, siang, sore, atau malam. Entah saat santai di pos jaga ataupun ketika sedang bersih-bersih di kompleks candi yang dibangun pada abad ke-13 zaman kerajaan Singosari ini.

Di antaranya, Tholib mengaku sering mendapat petunjuk melalui mimpi. Dan keesokan harinya mimpi itu menjadi kenyataan.

Dia bahkan pernah melihat ada kilatan cahaya di puncak candi. Bayangan hitam berjalan di tembok candi seperti leak dan masih banyak pengalaman mistis lainnya.

“Bahkan, saya pernah dapat dua keris berukuran kecil. Dapatnya tidak sengaja. Saat potong rumput dan bersih-bersih dahan,” ungkapnya.

Meskipun banyak pengalaman mistis, hal itu dak membuatnya takut. Justru dianggapnya biasa.

“Saya anggap biasa. Namanya saja cagar budaya yang dibangun di zaman kerajaan. Ini hal yang wajar,” bebernya. (zal/fun)

Sudah tiga tahun Mutholib jadi juru pelihara (jupel) Candi Jawi. Selama di sana, pengalaman mistis sering dialaminya. Namun, ia tak pernah keder. Justru, menganggap tempatnya kerjanya sebagai rumah kedua.

 

SEBENARNYA, Mutholib sudah belasan tahun jadi jupel cagar budaya berupa candi. Sebelum menjadi jupel Candi Jawi, warga Jedong, Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, itu pernah menjadi jupel Candi Pandawa.

BERPENGALAMAN: Selain Candi Jawi, Mutholib pernah menjadi juru pelihara Candi Pandawa di Mojokerto. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Bahkan, sejak 2002 dia jadi jupel candi yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, itu. Lalu mulai awal 2019, dia dipindah menjadi jupel Candi Jawi di Candiwates, Kecamatan Prigen.

Secara lokasi, sebenarnya Candi Jawi jauh lebih terjangkau dibanding Candi Pandawa. Bisa dibilang, Candi Jawi dekat dengan pusat kota. Namun, bagi PNS di kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim itu, saat ini tugasnya justru jauh lebih sulit.

Sebab, Candi Jawi lebih luas dibanding Candi Pandawa. Lalu, pengunjungnya juga jauh lebih ramai.

“Candi Jawi ini tempat kedua saya sebagai jupel cagar budaya. Sudah saya anggap rumah sendiri. Sebab, tiap hari harus standby di lokasi mulai pagi hingga sore,” kata Tholib, sapaan akrabnya.

Tholib sendiri tidak menetap di sana. Meskipun di kompleks Candi Jawi ada kantor yang juga pos jaga. Dengan mengendarai motor, dia pulang tiap hari ke rumahnya di Ngoro yang berjarak sekitar 25 kilometer.

“Memang jupel tidak harus menetap di lokasi cagar budaya. Tapi, wajib atau datang tiap hari ke Candi Jawi,” terang suami dari Khusnul Faridah.

Di kompleks candi, pekerjaan Tholib cukup berat. Tapi, justru itu menurutnya yang bisa mengalihkan perhatian.

Tiap hari dia harus merawat candi. Mulai membersihkan, menjaga, dan melaporkan kondisi candi ke kantor. Di situlah beda antara jupel dengan juru kunci. Juru kunci hanya merawat. Sementara tugas jupel lebih kompleks.

“Jupel harus tahu sejarahnya tempat yang dijaga. Karena di lapangan melayani pengunjung. Termasuk memberikan penjelasan, apabila ada yang tanya dan kurang jelas,” kata penghobi burung berkicau ini.

Di luar tugasnya sebagai jupel Candi Jawi, Tholib mengaku banyak mendapat pengalaman mistis di sana. Tidak peduli pagi, siang, sore, atau malam. Entah saat santai di pos jaga ataupun ketika sedang bersih-bersih di kompleks candi yang dibangun pada abad ke-13 zaman kerajaan Singosari ini.

Di antaranya, Tholib mengaku sering mendapat petunjuk melalui mimpi. Dan keesokan harinya mimpi itu menjadi kenyataan.

Dia bahkan pernah melihat ada kilatan cahaya di puncak candi. Bayangan hitam berjalan di tembok candi seperti leak dan masih banyak pengalaman mistis lainnya.

“Bahkan, saya pernah dapat dua keris berukuran kecil. Dapatnya tidak sengaja. Saat potong rumput dan bersih-bersih dahan,” ungkapnya.

Meskipun banyak pengalaman mistis, hal itu dak membuatnya takut. Justru dianggapnya biasa.

“Saya anggap biasa. Namanya saja cagar budaya yang dibangun di zaman kerajaan. Ini hal yang wajar,” bebernya. (zal/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/