alexametrics
27.9 C
Probolinggo
Wednesday, 16 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Asyiknya Offroad, Menjelajah sambil Berwisata

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Bersatu dengan alam sembari menjelajahi mobil. Inilah yang dirasakan penggemar offroad. Tak hanya menyalurkan kesenangan semata. Menjelajah tempat yang berlumpur, bebatuan, dan berair seakan menjadi sensasi tersendiri. Hobi ekstrem ini banyak peminatnya. Tidak terkecuali di Kabupaten Pasuruan. Salah satunya, KH Imron Mutamakkin.

——————–

GUS Ipong -sapaan akrabnya- mengungkapkan, ia sudah lama menyukai offroad. Tapi baru bergabung dengan komunitas dan menjajal lokasi ekstrem itu tidak begitu lama. Karena baginya bermain ekstrem ini hanya sekedar menyalurkan kesenangan.

Dirinya tidak selalu offroad setiap pekan. Ia bersama komunitas Jimkartubi (Jimny Katana untuk Bersilaturahmi) biasanya keluar sebulan sekali. “Saat senggang baru bermain offroad. Ya, hanya untuk menyalurkan kesenangan saja. Memang sudah lama menyukai hal yang berbau offroad seperti ini,” ungkapnya.

Ia mengaku, sejauh ini dirinya hanya memiliki satu mobil offroad yakni Suzuki Jimny. Tidak hanya saat offroad saja, setiap harinya ia kerap bepergian dengan mobilnya tersebut. Tentunya ia memacu kecepatannya tidak lebih dari 60 kilometer per jam. Sebab, di atas itu tubuh akan terasa lelah, mengingat ban yang digunakan bukan untuk aspal. Tapi medan jalan yang berat.

4×4: Mobil offroad yang digunakan untuk melintas, biasanya sudah dimodifikasi demi kenyamanan saat digunakan. Biasanya yang dimodifikasi adalah bagian kaki-kaki mobil. (Foto: Jimkartubi for Jawa Pos Radar Bromo)

“Kadang saat ada pertemuan atau rapat ya pakai mobil Jimny ini. Tapi, ya pakai kecepatan sedang,” jelasnya.

Huda, anggota Jimkartubi lainnya mengaku, ia juga menyukai offroad. Sama seperti Gus Ipong, ia memilih Jimny. Meski begitu, mobil Jimny miliknya hanya digunakan saat offroad.

Hobi ini biasanya dilakukan di sela-sela kesibukannya sebagai pengacara dan sedang berkumpul dengan sesama anggota Jimkartubi lainnya. “Lebih untuk melepas penat usai beraktivitas sehari-hari sih. Kalau jadwal bermain offroad biasanya mengikuti anggota Jimkartubi. Minimal sebulan sekali kami naik,” sebutnya.

MENIKMATI ALAM: Tak jarang saat menjelajahi medan, offroad bersatu dengan alam. (Foto: Jimkartubi for Jawa Pos Radar Bromo)

Perhatikan Spesifikasi Mobil

Sejatinya, ada banyak kendaraan yang bisa digunakan untuk offroad. Tak hanya merek tertentu. Karena, bengkel modifikasi saat ini ada banyak. Pun begitu dengan spare part. Di toko online bahkan bertebaran. Asalkan rela kendaraannya harus dimodifikasi, supaya bisa melibas medan jalan.

Mobil adalah hal utama yang harus dimiliki untuk menggeluti offroad. Kendaraan yang digunakan juga harus bisa dijalankan di medan berat. Nah, tentu saja spesifikasi mobil harus diperhatikan.

Semakin berat medan yang dilalui, spesifikasi kendaraan juga butuh penyesuaian. Tidak hanya mesin, penunjang lainnya seperti ban dan shock juga harus disesuaikan dengan lokasi tujuannya.

Gus Ipong menjelaskan, untuk offroad, mobil yang digunakan harus bersistem 4×4. Karena jika menggunakan 4×2, saat mobil melintasi medan berat seperti jalur penuh lumpur, mobil bisa selip, utamanya pada roda belakang. Tidak hanya itu, sistem 4×4 itu juga memiliki spesifikasi yang berbeda-beda.

SOSIAL: Anggota Jimkartubi saat berkumpul di Petuk, Lesung di Purwodadi. (Foto: Jimkartubi for Jawa Pos Radar Bromo)

Spesifikasi ini selayaknya disesuaikan dengan kebutuhan. Terutama untuk kaki-kaki mobil. Jelas akan berbeda dengan mobil yang digunakan untuk harian, seperti di aspal. Misalnya, saat medan yang dilalui itu bebatuan, maka mobil bisa ditinggikan.

Selain itu, mesin yang digunakan juga harus diperhatikan. Karena jika mesin besar tapi kaki tidak seimbang, dalam hal ini shock dan ban bisa putus. Untuk lokasi ekstrem, sebaiknya menggunakan ban jenis MT.

“Kalau punya mobil jenis Katana 4×2, ya harus diubah. Bukan masalah mobilnya. Banyak mobil keluaran lama tapi enak digunakan karena mesinnya bagus,” ujarnya.

Perawatan secara berkala juga menjadi agenda rutin dan wajib. Sebelum naik atau turun, pengecekan pada kondisi kendaraan harus dilakukan, mulai dari shock, baut, hingga kaki-kaki untuk menghindari kemungkinan longgar. Tujuannya, untuk menjaga keamanan selama berkendara. Jika ada kendala, baru pergi ke bengkel.

“Tidak ada jadwal khusus ke bengkel. Cuma kalau ada kendala saja. Bengkelnya juga harus bengkel khusus offroad. Selama ini saya ke bengkel di Purwosari,” tuturnya.

TANAM POHON: Anggota Jimkartubi menanam pohon bersama warga. (Foto: Jimkartubi for Jawa Pos Radar Bromo)

Jangan Pernah Sendirian

Alangkah baiknya saat offroad, tidak pergi sendiri. Itulah pesan yang didengungkan penggemar offroad. Tujuannya tentu saja demi keamanan saat berada di medan lintasan. Maka jika tergabung dengan komunitas, akan lebih bagus. Bisa berangkat bersama-sama. Dengan ada teman, bisa saling bertukar pengalaman.

Gus Ipong menuturkan, saat offroad, ia selalu berangkat bersama anggota komunitas Jimkartubi. Ini demi keamanan saat berada di medan yang ekstrem. Apalagi jika medan itu belum pernah di-explore. Sehingga ada yang membuka jalan, di belakangnya, anggota lain akan mengikuti. Apalagi jika offroad itu baru yang pertama kali dilakukan.

“Lebih baik berangkat bersama-sama. Jika ada apa-apa, bisa lebih aman. Apalagi yang masih pemula, nanti bisa jadi ajang bertukar pengalaman saat di lapangan,” terangnya.

Pria yang diamanahi menjadi ketua PC NU Kabupaten Pasuruan ini menyebut, lokasi yang dipilih untuk offroad itu sekitar Pasuruan saja. Seperti Bromo dengan melintasi jalur yang masih berupa jalan tanah. Asalkan mesinnya prima, maka tidak jadi masalah lewat jalur ini karena medan tidak terlalu ekstrem

“Selain itu, kami juga pernah mengeksplorasi Puspo melalui jalur baru yang bisa di-explore. Sekalian untuk mencari destinasi baru di Pasuruan,” jelasnya.

Meski begitu, ia mengaku jika selama ini komunitasnya kerap di tuding merusak alam. Seperti saat ia naik ke Petuk Lesung di lereng Gunung Arjuna. Saat itu ada suara miring jika komunitasnya merusak jalur hutan. Padahal, dia dan kawan-kawannya tidak melewati hutan. Bahkan pihaknya kerap menanami tanaman di lokasi yang dilewati.

Setiap kali mengeksplorasi jalur baru, pihaknya sekalian melakukan pembenahan jalur. Saat di Petuk Lesung juga begitu, komunitas Jimkartubi menemukan ada hamparan yang sangat cantik di dekat situ. Karena tidak ingin merusak, pihaknya mengubah jalur dan membuka jalur baru.

“Membuka jalur baru ini yang dinilai merusak alam. Padahal tidak ada tanaman yang dirusak. Di sini kami sekalian promosi lokasi baru yang belum terjamah,” tutupnya. (riz/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Bersatu dengan alam sembari menjelajahi mobil. Inilah yang dirasakan penggemar offroad. Tak hanya menyalurkan kesenangan semata. Menjelajah tempat yang berlumpur, bebatuan, dan berair seakan menjadi sensasi tersendiri. Hobi ekstrem ini banyak peminatnya. Tidak terkecuali di Kabupaten Pasuruan. Salah satunya, KH Imron Mutamakkin.

——————–

GUS Ipong -sapaan akrabnya- mengungkapkan, ia sudah lama menyukai offroad. Tapi baru bergabung dengan komunitas dan menjajal lokasi ekstrem itu tidak begitu lama. Karena baginya bermain ekstrem ini hanya sekedar menyalurkan kesenangan.

Mobile_AP_Half Page

Dirinya tidak selalu offroad setiap pekan. Ia bersama komunitas Jimkartubi (Jimny Katana untuk Bersilaturahmi) biasanya keluar sebulan sekali. “Saat senggang baru bermain offroad. Ya, hanya untuk menyalurkan kesenangan saja. Memang sudah lama menyukai hal yang berbau offroad seperti ini,” ungkapnya.

Ia mengaku, sejauh ini dirinya hanya memiliki satu mobil offroad yakni Suzuki Jimny. Tidak hanya saat offroad saja, setiap harinya ia kerap bepergian dengan mobilnya tersebut. Tentunya ia memacu kecepatannya tidak lebih dari 60 kilometer per jam. Sebab, di atas itu tubuh akan terasa lelah, mengingat ban yang digunakan bukan untuk aspal. Tapi medan jalan yang berat.

4×4: Mobil offroad yang digunakan untuk melintas, biasanya sudah dimodifikasi demi kenyamanan saat digunakan. Biasanya yang dimodifikasi adalah bagian kaki-kaki mobil. (Foto: Jimkartubi for Jawa Pos Radar Bromo)

“Kadang saat ada pertemuan atau rapat ya pakai mobil Jimny ini. Tapi, ya pakai kecepatan sedang,” jelasnya.

Huda, anggota Jimkartubi lainnya mengaku, ia juga menyukai offroad. Sama seperti Gus Ipong, ia memilih Jimny. Meski begitu, mobil Jimny miliknya hanya digunakan saat offroad.

Hobi ini biasanya dilakukan di sela-sela kesibukannya sebagai pengacara dan sedang berkumpul dengan sesama anggota Jimkartubi lainnya. “Lebih untuk melepas penat usai beraktivitas sehari-hari sih. Kalau jadwal bermain offroad biasanya mengikuti anggota Jimkartubi. Minimal sebulan sekali kami naik,” sebutnya.

MENIKMATI ALAM: Tak jarang saat menjelajahi medan, offroad bersatu dengan alam. (Foto: Jimkartubi for Jawa Pos Radar Bromo)

Perhatikan Spesifikasi Mobil

Sejatinya, ada banyak kendaraan yang bisa digunakan untuk offroad. Tak hanya merek tertentu. Karena, bengkel modifikasi saat ini ada banyak. Pun begitu dengan spare part. Di toko online bahkan bertebaran. Asalkan rela kendaraannya harus dimodifikasi, supaya bisa melibas medan jalan.

Mobil adalah hal utama yang harus dimiliki untuk menggeluti offroad. Kendaraan yang digunakan juga harus bisa dijalankan di medan berat. Nah, tentu saja spesifikasi mobil harus diperhatikan.

Semakin berat medan yang dilalui, spesifikasi kendaraan juga butuh penyesuaian. Tidak hanya mesin, penunjang lainnya seperti ban dan shock juga harus disesuaikan dengan lokasi tujuannya.

Gus Ipong menjelaskan, untuk offroad, mobil yang digunakan harus bersistem 4×4. Karena jika menggunakan 4×2, saat mobil melintasi medan berat seperti jalur penuh lumpur, mobil bisa selip, utamanya pada roda belakang. Tidak hanya itu, sistem 4×4 itu juga memiliki spesifikasi yang berbeda-beda.

SOSIAL: Anggota Jimkartubi saat berkumpul di Petuk, Lesung di Purwodadi. (Foto: Jimkartubi for Jawa Pos Radar Bromo)

Spesifikasi ini selayaknya disesuaikan dengan kebutuhan. Terutama untuk kaki-kaki mobil. Jelas akan berbeda dengan mobil yang digunakan untuk harian, seperti di aspal. Misalnya, saat medan yang dilalui itu bebatuan, maka mobil bisa ditinggikan.

Selain itu, mesin yang digunakan juga harus diperhatikan. Karena jika mesin besar tapi kaki tidak seimbang, dalam hal ini shock dan ban bisa putus. Untuk lokasi ekstrem, sebaiknya menggunakan ban jenis MT.

“Kalau punya mobil jenis Katana 4×2, ya harus diubah. Bukan masalah mobilnya. Banyak mobil keluaran lama tapi enak digunakan karena mesinnya bagus,” ujarnya.

Perawatan secara berkala juga menjadi agenda rutin dan wajib. Sebelum naik atau turun, pengecekan pada kondisi kendaraan harus dilakukan, mulai dari shock, baut, hingga kaki-kaki untuk menghindari kemungkinan longgar. Tujuannya, untuk menjaga keamanan selama berkendara. Jika ada kendala, baru pergi ke bengkel.

“Tidak ada jadwal khusus ke bengkel. Cuma kalau ada kendala saja. Bengkelnya juga harus bengkel khusus offroad. Selama ini saya ke bengkel di Purwosari,” tuturnya.

TANAM POHON: Anggota Jimkartubi menanam pohon bersama warga. (Foto: Jimkartubi for Jawa Pos Radar Bromo)

Jangan Pernah Sendirian

Alangkah baiknya saat offroad, tidak pergi sendiri. Itulah pesan yang didengungkan penggemar offroad. Tujuannya tentu saja demi keamanan saat berada di medan lintasan. Maka jika tergabung dengan komunitas, akan lebih bagus. Bisa berangkat bersama-sama. Dengan ada teman, bisa saling bertukar pengalaman.

Gus Ipong menuturkan, saat offroad, ia selalu berangkat bersama anggota komunitas Jimkartubi. Ini demi keamanan saat berada di medan yang ekstrem. Apalagi jika medan itu belum pernah di-explore. Sehingga ada yang membuka jalan, di belakangnya, anggota lain akan mengikuti. Apalagi jika offroad itu baru yang pertama kali dilakukan.

“Lebih baik berangkat bersama-sama. Jika ada apa-apa, bisa lebih aman. Apalagi yang masih pemula, nanti bisa jadi ajang bertukar pengalaman saat di lapangan,” terangnya.

Pria yang diamanahi menjadi ketua PC NU Kabupaten Pasuruan ini menyebut, lokasi yang dipilih untuk offroad itu sekitar Pasuruan saja. Seperti Bromo dengan melintasi jalur yang masih berupa jalan tanah. Asalkan mesinnya prima, maka tidak jadi masalah lewat jalur ini karena medan tidak terlalu ekstrem

“Selain itu, kami juga pernah mengeksplorasi Puspo melalui jalur baru yang bisa di-explore. Sekalian untuk mencari destinasi baru di Pasuruan,” jelasnya.

Meski begitu, ia mengaku jika selama ini komunitasnya kerap di tuding merusak alam. Seperti saat ia naik ke Petuk Lesung di lereng Gunung Arjuna. Saat itu ada suara miring jika komunitasnya merusak jalur hutan. Padahal, dia dan kawan-kawannya tidak melewati hutan. Bahkan pihaknya kerap menanami tanaman di lokasi yang dilewati.

Setiap kali mengeksplorasi jalur baru, pihaknya sekalian melakukan pembenahan jalur. Saat di Petuk Lesung juga begitu, komunitas Jimkartubi menemukan ada hamparan yang sangat cantik di dekat situ. Karena tidak ingin merusak, pihaknya mengubah jalur dan membuka jalur baru.

“Membuka jalur baru ini yang dinilai merusak alam. Padahal tidak ada tanaman yang dirusak. Di sini kami sekalian promosi lokasi baru yang belum terjamah,” tutupnya. (riz/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2