alexametrics
24.4 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Nouval Zein, Santri Ponpes Dalwa Peraih Juara Festival Dai Jatim-Bali

Nouval Zein tak menyangka bisa menjadi juara pertama dalam ajang Festival Dai Muda yang mempertemukan para penceramah se-Jatim dan Bali. Persiapan yang singkat menjadi salah satu alasannya.

IWAN ANDRIK, Bangil

Nouval Zein masih ingat saat detik-detik lomba dilangsungkan. Atmosfer Ponpes Darussalam Banyuwangi tempat Festival Dai Muda digelar, terasa begitu tegang. Jantungnya dibuat berdebar kencang. Sampai-sampai, tetesan keringat dari pelipisnya tak mampu ditahan.

Padahal, suasana ponpes tersebut sebenarnya dingin. Bukan hanya karena pendingin ruangan. Tetapi, waktu itu hujan sedang deras-derasnya. “Saya benar-benar deg-degan waktu perlombaan dilangsungkan,” kata Nouval -sapaan akrabnya– saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di Ponpes Dalwa beberapa waktu lalu.

Ada 130 peserta yang berpartisipasi di ajang Festival Dai Muda yang digelar Maret silam. Mereka berasal dari sejumlah ponpes yang ada di Jawa Timur dan Bali. Mereka hebat-hebat. Sampai-sampai, Nouval mengaku dibuat grogi.

Waktu itu, pihak pondok memang memintanya untuk mewakili Dalwa. Permintaan itu dilayangkan hanya lima hari sebelum lomba dilangsungkan. Tentu, waktu tak sampai seminggu itu terasa singkat. “Saya mendapat informasi mendadak. Tapi, karena sudah terbiasa dengan dakwah Bahasa Arab, mau tidak mau harus siap,” akunya.

Ia pun berangkat ke Banyuwangi dengan modal latihan selama lima hari. Saat di arena lomba itulah, ia mulai nervous. Apalagi kalau bukan penampilan peserta lainnya yang cukup baik. Termasuk menunggu giliran tampil, juga membuatnya tertekan. Rasa lelah pun bekecamuk, hingga berpengaruh pada konsentrasinya.

“Saya menunggu mulai 07.00. Namun, baru dapat giliran jam 16.00. Rasanya sangat melelahkan. Tapi, tetap mencoba konsentrasi dan mengisi waktu menunggu itu dengan wiridan,” kenang remaja kelahiran Bogor 17 November 1998 ini.

Tiba gilirannya, hujan deras mendera. Suara hujan dan petir bergemuruh, membuat konsentrasinya terganggu. Antara suara pengeras suara dengan hujan, nyaris sama. Dampaknya, suaranya pun tak bisa keluar sempurna. “Di situ, saya sempat merasa down,” kenangnya.

Perasaan itu lama-lama hilang, setelah teman-temannya menyorakinya. Bukan meledek. Melainkan memberikan dukungan kepadanya. Semangatnya kembali bangkit. Dengan suara lebih lantang, ia melanjutkan ceramah bahasa Arab-nya. Ia mengambil tema eksistensi Alquran di era milenial bagi nusa, bangsa, dan agama.

Menurut Nouval, tema itu diambil lantaran ia memandang Indonesia mengalami krisis orang yang berpegang teguh terhadap Alquran. Dampaknya, terjadi kemerosotan moral. “Tema ke dua, ditentukan dewan juri. Saya kebagian urgensi teknologi bagi kemajuan Islam,” sambungnya.

Tak susah baginya untuk berdakwah. Karena hal itu sudah menjadi hal yang biasa di ponpesnya. “Alhamdulillah, meski sempat ada kendala, semuanya bisa teratasi,” kata mahasiswa yang menempuh pendidikan di Institute Agama Islam (IAI) Dalwa tersebut.

Ia pun benar-benar tak menyangka, setelah pengumuman hasil pemenang disebutkan. Namanya menjadi yang terbaik dari peserta yang lainnya. Rasa syukur pun berulang kali diucapkannya. “Alhamdulillah, saya bisa membanggakan orang tua serta Ponpes Dalwa,” katanya.

Penanggung Jawab Prestasi Santri Ponpes Dalwa Raci Ustad M. Junaidi memandang, prestasi yang diraih Nouval tak lepas dari didikan ustad-ustad serta kebiasaan ada di Ponpes Dalwa. Kebiasaan melafalkan bahasa Arab antar penghuni pondok, menjadi jalan untuk memudahkan dalam kegiatan-kegiatan lomba. Khususnya, yang berkaitan dengan bahasa Arab.

Ia juga memandang, kalau prestasi itu jelas membanggakan. “Tentunya, ini akan menjadi motivasi bagi santri-santri yang lain, agar bisa pula mendulang prestasi,” ulasnya. (rf)

Nouval Zein tak menyangka bisa menjadi juara pertama dalam ajang Festival Dai Muda yang mempertemukan para penceramah se-Jatim dan Bali. Persiapan yang singkat menjadi salah satu alasannya.

IWAN ANDRIK, Bangil

Nouval Zein masih ingat saat detik-detik lomba dilangsungkan. Atmosfer Ponpes Darussalam Banyuwangi tempat Festival Dai Muda digelar, terasa begitu tegang. Jantungnya dibuat berdebar kencang. Sampai-sampai, tetesan keringat dari pelipisnya tak mampu ditahan.

Padahal, suasana ponpes tersebut sebenarnya dingin. Bukan hanya karena pendingin ruangan. Tetapi, waktu itu hujan sedang deras-derasnya. “Saya benar-benar deg-degan waktu perlombaan dilangsungkan,” kata Nouval -sapaan akrabnya– saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di Ponpes Dalwa beberapa waktu lalu.

Ada 130 peserta yang berpartisipasi di ajang Festival Dai Muda yang digelar Maret silam. Mereka berasal dari sejumlah ponpes yang ada di Jawa Timur dan Bali. Mereka hebat-hebat. Sampai-sampai, Nouval mengaku dibuat grogi.

Waktu itu, pihak pondok memang memintanya untuk mewakili Dalwa. Permintaan itu dilayangkan hanya lima hari sebelum lomba dilangsungkan. Tentu, waktu tak sampai seminggu itu terasa singkat. “Saya mendapat informasi mendadak. Tapi, karena sudah terbiasa dengan dakwah Bahasa Arab, mau tidak mau harus siap,” akunya.

Ia pun berangkat ke Banyuwangi dengan modal latihan selama lima hari. Saat di arena lomba itulah, ia mulai nervous. Apalagi kalau bukan penampilan peserta lainnya yang cukup baik. Termasuk menunggu giliran tampil, juga membuatnya tertekan. Rasa lelah pun bekecamuk, hingga berpengaruh pada konsentrasinya.

“Saya menunggu mulai 07.00. Namun, baru dapat giliran jam 16.00. Rasanya sangat melelahkan. Tapi, tetap mencoba konsentrasi dan mengisi waktu menunggu itu dengan wiridan,” kenang remaja kelahiran Bogor 17 November 1998 ini.

Tiba gilirannya, hujan deras mendera. Suara hujan dan petir bergemuruh, membuat konsentrasinya terganggu. Antara suara pengeras suara dengan hujan, nyaris sama. Dampaknya, suaranya pun tak bisa keluar sempurna. “Di situ, saya sempat merasa down,” kenangnya.

Perasaan itu lama-lama hilang, setelah teman-temannya menyorakinya. Bukan meledek. Melainkan memberikan dukungan kepadanya. Semangatnya kembali bangkit. Dengan suara lebih lantang, ia melanjutkan ceramah bahasa Arab-nya. Ia mengambil tema eksistensi Alquran di era milenial bagi nusa, bangsa, dan agama.

Menurut Nouval, tema itu diambil lantaran ia memandang Indonesia mengalami krisis orang yang berpegang teguh terhadap Alquran. Dampaknya, terjadi kemerosotan moral. “Tema ke dua, ditentukan dewan juri. Saya kebagian urgensi teknologi bagi kemajuan Islam,” sambungnya.

Tak susah baginya untuk berdakwah. Karena hal itu sudah menjadi hal yang biasa di ponpesnya. “Alhamdulillah, meski sempat ada kendala, semuanya bisa teratasi,” kata mahasiswa yang menempuh pendidikan di Institute Agama Islam (IAI) Dalwa tersebut.

Ia pun benar-benar tak menyangka, setelah pengumuman hasil pemenang disebutkan. Namanya menjadi yang terbaik dari peserta yang lainnya. Rasa syukur pun berulang kali diucapkannya. “Alhamdulillah, saya bisa membanggakan orang tua serta Ponpes Dalwa,” katanya.

Penanggung Jawab Prestasi Santri Ponpes Dalwa Raci Ustad M. Junaidi memandang, prestasi yang diraih Nouval tak lepas dari didikan ustad-ustad serta kebiasaan ada di Ponpes Dalwa. Kebiasaan melafalkan bahasa Arab antar penghuni pondok, menjadi jalan untuk memudahkan dalam kegiatan-kegiatan lomba. Khususnya, yang berkaitan dengan bahasa Arab.

Ia juga memandang, kalau prestasi itu jelas membanggakan. “Tentunya, ini akan menjadi motivasi bagi santri-santri yang lain, agar bisa pula mendulang prestasi,” ulasnya. (rf)

MOST READ

BERITA TERBARU

/