Mengintip CFD Kota Probolinggo di Tengah Merebaknya Virus Korona

Maraknya wabah korona belum berpengaruh banyak pada kegiatan car free day di seputaran Alun-Alun Kota Probolinggo. Meski demikian, sejumlah pengunjung telah mengantisipasi dengan membawa hand sanitizer untuk keamanan.

RIDHOWATI SAPUTRI, Radar Bromo, Mayangan

Di tengah maraknya penyebaran wabah virus korona, kegiatan car free day di Kota Probolinggo tidak berpengaruh. Terbukti Pasar Sabtu Minggu di alun-alun tetap dipadati warga.

Bahkan, Minggu (15/3) berlangsung acara kegiatan Pecah Rekor MURI memperingati Hari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di depan Kantor Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Probolinggo. Acara tersebut juga dihadiri ratusan peserta yang mengikuti kegiatan senam.

Warga yang datang ke Pasar Minggu pun tidak berkurang. Meskipun kondisi alun-alun masih tertutup pagar seng, warga yang datang menikmati wisata kuliner maupun permainan anak-anak.

Beberapa warga yang ditemui harian ini sudah mengetahui tentang wabah virus korona. Namun, karena desakan anak-anaknya untuk pergi ke Pasar Sabtu-Minggu (Tugu) memilih tetap datang.

“Kalau tidak ada desakan anak, saya milih di rumah. Ini anak-anak minta ke sini. Mau mainan di salah satu wahana permainan di sini,” ujar Sulisyani, 35, warga Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, kemarin (15/3).

Sulisyani sendiri mengaku waswas. Karena itu, dia membawa hand sanitizer. “Memang agak waswas, tapi saya bawa hand sanitizer karena anak-anak minta main ke alat permainan. Jadi, setelah main saya kasih ini,” tambahnya.

Kepada anak-anaknya, Sulis tidak memakaikan masker, mengingat kondisi mereka dalam kondisi sehat. Namun, supaya aman dari sentuhan-sentuhan yang tidak sehat, hand sanitizer (cairan pembersih tangan) jadi pilihan.

“Meskipun harganya mahal juga. Saya beli ukuran kecil ini sampai Rp 45 ribu. Padahal, biasanya hanya Rp 15-20 ribu,” keluhnya.

Sulis –panggilannya-, juga memilih datang ke Pasar Minggu agak siang. Tujuannya, supaya kondisinya tidak ramai seperti saat pagi hari.

“Saya datang ke sini jam 10-an, sudah gak seramai kalau pagi. Selain itu kan tempat permainan anak-anak juga lebih lengang, tidak seramai saat pagi,” ujarnya.

Dari pantauan harian ini, kegiatan permainan anak-anak di Pasar Minggu tetap ramai seperti biasa. Ada juga yang memilih kegiatan melukis yang juga tersedia di kawasan alun-alun.

Beberapa orang tua yang menunggu anak-anaknya juga tidak lupa menggantungkan hand sanitizer di tasnya. Beberapa kali digunakan setelah anak-anaknya menyelesaikan permainan yang dilakukannya.

“Pas liburan ke Probolinggo ada wabah seperti ini memang sedikit merepotkan. Anak-anak habis main harus disemprot hand sanitizer. Alhamdulillah mereka nurut,” ujar Lilik Sakdiyah, 35, warga asal Surabaya yang ditemui harian ini kemarin.

Lilik sudah menyampaikan kepada anak-anaknya saat datang ke Probolinggo agar tidak usah datang ke kegiatan ramai. Seperti Pasar Tugu. Namun, anak-anaknya yang masih berusia 7 dan 10 tahun memaksa untuk ke Pasar Tugu.

“Tadinya mau ke alun-alun yang katanya direnovasi, tapi ndak bisa masuk karena ditutup. Akhirnya main di area permainan ini,” ujarnya.

Sebagai orang tua, Lilik juga mengaku waswas dengan penyebaran virus korona. Pasalnya, penyebarannya juga cepat. Karena itu, dia membawa hand sanitizer ke alun-alun.

“Di Surabaya meskipun belum ada yang positif, tapi di sana juga banyak aktivitas warga negara asing atau aktivitas warga yang mobilitas keluar negeri cukup tinggi. Jadi, rawan juga dengan korona,” ujarnya. (hn)