alexametrics
30.6 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

Pedagang Pasar Poncol Berharap Pengunjung Berlipat setelah MPP Beroperasi

Dia pun berangan-angan pasar itu bisa ramai seperti dulu lagi. Ia menggantungkan harapannya itu dengan adanya MPP yang bakal menempati gedung bekas Mal Poncol. “Namanya saja berharap. Mudah-mudahan saja memang seperti itu. Orang nunggu suaminya ke kantor (MPP), sambil beli barang di sini,” katanya.

Sementara, Nining, pedagang kopi juga berharap demikian. Hanya saja, dia ingin agar Pasar Poncol juga ikut ditata. “Paling tidak ditata lagi tempat-tempat jualannya supaya lebih menarik. Masak pasar sepinya kayak kuburan begini,” tukasnya.

Nining sendiri berjualan kopi meneruskan usaha ibunya. Dulu, ia berjualan di kawasan alun-alun. Tapi, kawasan itu kemudian ditertibkan dari pedagang kaki lima.

Nining kemudian menempati lapak di Pasar Poncol. Itu pun letaknya di sisi belakang. Untuk menuju warungnya melewati lompongan di antara lapak-lapak pedagang pakaian.

“Jadi nggak kelihatan warungnya dari luar. Yang beli ya pedagang sini. Kalau orang-orang nggak jajan ya nggak laku,” bebernya.

Dia menginginkan agar penataan pasar tersebut lebih pas. Misalnya, penjual makanan dan minuman diberi tempat yang terjangkau pembeli. Sehingga suasana di pasar itu bisa lebih hidup. “Kalau tetap seperti ini, meski nanti ada mal (pelayanan publik) ya saya rasa tetap saja orang nggak tertarik,” ujarnya. (mie)

Dia pun berangan-angan pasar itu bisa ramai seperti dulu lagi. Ia menggantungkan harapannya itu dengan adanya MPP yang bakal menempati gedung bekas Mal Poncol. “Namanya saja berharap. Mudah-mudahan saja memang seperti itu. Orang nunggu suaminya ke kantor (MPP), sambil beli barang di sini,” katanya.

Sementara, Nining, pedagang kopi juga berharap demikian. Hanya saja, dia ingin agar Pasar Poncol juga ikut ditata. “Paling tidak ditata lagi tempat-tempat jualannya supaya lebih menarik. Masak pasar sepinya kayak kuburan begini,” tukasnya.

Nining sendiri berjualan kopi meneruskan usaha ibunya. Dulu, ia berjualan di kawasan alun-alun. Tapi, kawasan itu kemudian ditertibkan dari pedagang kaki lima.

Nining kemudian menempati lapak di Pasar Poncol. Itu pun letaknya di sisi belakang. Untuk menuju warungnya melewati lompongan di antara lapak-lapak pedagang pakaian.

“Jadi nggak kelihatan warungnya dari luar. Yang beli ya pedagang sini. Kalau orang-orang nggak jajan ya nggak laku,” bebernya.

Dia menginginkan agar penataan pasar tersebut lebih pas. Misalnya, penjual makanan dan minuman diberi tempat yang terjangkau pembeli. Sehingga suasana di pasar itu bisa lebih hidup. “Kalau tetap seperti ini, meski nanti ada mal (pelayanan publik) ya saya rasa tetap saja orang nggak tertarik,” ujarnya. (mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/