alexametrics
28.6 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Pedagang Pasar Poncol Berharap Pengunjung Berlipat setelah MPP Beroperasi

Pedagang Pasar Poncol telah merasakan jatuh bangun menekuni usaha mereka. Penjualan mereka sempat laris saat Mal Poncol beroperasi. Tapi, kemudian merosot ketika mal itu tutup. Pasar semakin sepi. Satu-satunya harapan mereka kini yakni mal pelayanan publik (MPP).

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo

LANGIT masih redup. Tapi hujan sudah benar-benar reda. Bahkan, jalan paving menuju Pasar Poncol yang sempat basah oleh air hujan hampir mengering. Suasana tetap sepi. Sejumlah pedagang mulai membuka lagi lapaknya yang tadi ditutup kain terpal. Mereka kembali mengeluarkan satu per satu dagangannya.

Cak Mas, salah satu pedagang mulai terlihat sibuk. Dia sebenarnya sudah memajang dagangannya sejak pagi. Pukul 07.00, lapaknya sudah dibuka. Namun pagi itu ia harus melakukan pekerjaan yang sama dua kali. Sebab, baru beberapa saat ia membuka lapak, hujan tiba-tiba mengguyur.

Menjelang siang, ia kembali mengeluarkan dagangannya di sisi luar lapaknya. Sembari menenteng tongkat kayu, dia mengaitkan berbagai jenis tas di paku-paku yang terpasang di bagian atas lapak. Setelah semua beres, Cak Mas kembali masuk ke lapaknya. Merapikan lagi pakaian-pakaian di rak gantungan.

Warga Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, itu sudah cukup lama berjualan. Sekitar sepuluh tahun lalu. “Tambah lama ya tambah seperti ini. Sepi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Senin (14/2). Berbeda dengan beberapa tahun lalu. Ketika gedung di depan pasar itu masih difungsikan sebagai mal.

“Kalau dulu ya masih agak ramai. Karena orang ke mal kan mampir-mampir ke sini, keliling kalau ada yang cocok dibeli,” ungkapnya.

Tapi, sekarang, dia bilang, sangat sedikit pembeli yang datang ke pasar itu. “Apalagi sejak ada korona-korona ini,” keluhnya. Menurut Cak Mas, pandemi korona memperparah lesunya perdagangan di Pasar Poncol. Meski demikian, dia masih bertahan. Hampir setiap hari, ia tetap berjualan. Mulai pukul 07.00 hingga 23.00.

Pedagang Pasar Poncol telah merasakan jatuh bangun menekuni usaha mereka. Penjualan mereka sempat laris saat Mal Poncol beroperasi. Tapi, kemudian merosot ketika mal itu tutup. Pasar semakin sepi. Satu-satunya harapan mereka kini yakni mal pelayanan publik (MPP).

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo

LANGIT masih redup. Tapi hujan sudah benar-benar reda. Bahkan, jalan paving menuju Pasar Poncol yang sempat basah oleh air hujan hampir mengering. Suasana tetap sepi. Sejumlah pedagang mulai membuka lagi lapaknya yang tadi ditutup kain terpal. Mereka kembali mengeluarkan satu per satu dagangannya.

Cak Mas, salah satu pedagang mulai terlihat sibuk. Dia sebenarnya sudah memajang dagangannya sejak pagi. Pukul 07.00, lapaknya sudah dibuka. Namun pagi itu ia harus melakukan pekerjaan yang sama dua kali. Sebab, baru beberapa saat ia membuka lapak, hujan tiba-tiba mengguyur.

Menjelang siang, ia kembali mengeluarkan dagangannya di sisi luar lapaknya. Sembari menenteng tongkat kayu, dia mengaitkan berbagai jenis tas di paku-paku yang terpasang di bagian atas lapak. Setelah semua beres, Cak Mas kembali masuk ke lapaknya. Merapikan lagi pakaian-pakaian di rak gantungan.

Warga Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, itu sudah cukup lama berjualan. Sekitar sepuluh tahun lalu. “Tambah lama ya tambah seperti ini. Sepi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Senin (14/2). Berbeda dengan beberapa tahun lalu. Ketika gedung di depan pasar itu masih difungsikan sebagai mal.

“Kalau dulu ya masih agak ramai. Karena orang ke mal kan mampir-mampir ke sini, keliling kalau ada yang cocok dibeli,” ungkapnya.

Tapi, sekarang, dia bilang, sangat sedikit pembeli yang datang ke pasar itu. “Apalagi sejak ada korona-korona ini,” keluhnya. Menurut Cak Mas, pandemi korona memperparah lesunya perdagangan di Pasar Poncol. Meski demikian, dia masih bertahan. Hampir setiap hari, ia tetap berjualan. Mulai pukul 07.00 hingga 23.00.

MOST READ

BERITA TERBARU

/