Itmam Mudin, Santri Penjual Bubur yang Juga Pelukis Sketsa

Bermula dari keinginan menggambar kekasih, Itmam Mudin berhasil menjadi pelukis sketsa yang handal. Gambar sketsa kreasi pemuda 20 tahun yang juga seorang pegawai di sebuah kedai bubur ini, merambah sejumlah daerah.

IWAN ANDRIK, Beji, Radar Bromo

Kertas gambar itu tak lagi putih. Goresan pensil warna, membuat kertas A4 itu telah berubah. Tidak lagi putih polos, melainkan tergambar sketsa wajah.

Tidak hanya sekadar butuh ketelatenan. Itmam Mudin juga dituntut untuk teliti, dalam mencoret-coretkan pensil warna ke kertas gambar di depannya. Hingga gambar sketsa wajah yang dibuatnya, sesuai dengan contoh foto yang dipesan.

“Biasanya, butuh dua hari sampai tiga hari untuk menyelesaikan sebuah gambar sketsa wajah,” kata pemuda 20 tahun tersebut.

Pemuda yang tinggal di lingkungan Ponpes Modern Nurushobah, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji ini sudah lama menggeluti dunia gambar sketsa wajah. Bukan semata-mata karena memang hobi menggambar.

Ia kepincut untuk menggambar sketsa wajah, setelah bertemu dengan gadis pujaannya. Dalam benaknya, ada keinginan untuk menggambar si gadis. “Saat SMP, saya mulai belajar sketsa wajah,” timpal pemuda kelahiran Cirebon 24 Desember 1999 silam itu.

Itmam menceritakan, semula ia memang hobi menggambar. Hobi itu mulai digemarinya bahkan sejak SD. Layaknya anak-anak seusianya, ia gemar menggambar pemandangan. Seperti pegunungan.

Hingga lulus SD di Cirebon tahun 2013 silam. Ia kemudian pindah ke Gununggangsir, Kecamatan Beji, untuk mondok dan bersekolah di SMP Al Azhar. Di pondok setempat, ia banyak bertemu dengan teman-teman pondok yang hobi grafiti.

Ia pun tertarik untuk mengikuti jejak teman-teman dan kakak kelasnya. “Kebetulan ada wadah untuk menghiasi kelas. Teman-teman saya membuat grafiti. Saya pun tertarik dan mulai belajar grafiti,” timpalnya.

Bukan hanya grafiti, tetapi ia juga mulai belajar kaligrafi. Kebetulan, nuansa pondok memang tidak lepas dari seni tulisan arab, atau kaligrafi.

Hingga di sebuah momen, ia bertemu dengan seorang perempuan yang membuatnya terpesona. Ia pun tertarik untuk membuat gambar perempuan tersebut. Ia pun cari referensi. Termasuk belajar dari salah satu temannya, yang mahir membuat sketsa wajah.

Tidak mudah baginya untuk membuat sketsa wajah, hingga menyerupai aslinya. Setidaknya, butuh waktu sepekan untuknya belajar. Meski diakuinya, hasil yang dibuat, belum sempurna. “Sejak itu, saya semakin bersemangat untuk mendalami dan membuat sketsa wajah,” kisah Itmam.

Ia semakin rajin membuat karya. Tidak hanya teman-teman pondok, tetapi juga guru-guru di pondok pesantrennya. Sejak itu pula, kreativitasnya dalam membuat sketsa wajah semakin dikenal.

Pesanan pun berdatangan. Tidak hanya di lingkungan Pondok. Tetapi juga luar wilayah Pasuruan. Baik Jakarta, Sulawesi bahkan sampai Sumatera. “Sebulan, saya bisa menerima order sebanyak 10 lukisan sketsa,” akunya.

Lukisan yang dibuatnya, relatif terjangkau. Satu gambar dihargai Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Biasanya, ia melukis ketika waktu senggang. Setelah ia selesai menuntaskan pekerjaannya sebagai pegawai di kedai bubur milik kakaknya, Bang Oim. “Setelah berjualan bubur, biasanya saya menyelesaikan lukisan-lukisan pesanan,” imbuhnya.

Yang namanya lukisan, tak selalu ia berhasil menyelesaikannya. Pernah, ia gagal membuat sebuah lukisan sketsa pesanan dari seorang kiai asal Jawa Tengah. Ia sampai gagal tiga kali, hingga akhirnya membuatnya menyerah untuk menyelesaikannya.

“Saya sampai sebulan, untuk menggambar kiai. Memang beliau seorang kharismatik. Saya gagal sampai tiga kali, akhirnya saya memilih untuk tidak melanjutkan,” kenang lulusan SMK Al Azhar tersebut.

Kegagalan tersebut memang bukan yang pertama. Tapi, merupakan yang terberat. Karena, meski sempat gagal, gambar yang lain bisa diselesaikannya. “Biasanya, gagalnya kena air sehingga harus menggambar ulang,” jelasnya.

Meski begitu, menggambar memang menjadi hal yang menyenangkan. Khususnya, ketika ia berhasil menyelesaikannya. “Ada rasa puas, ketika gambar yang dibuat, bisa terselesaikan dengan baik,” jelasnya.

Lantaran itu, meski ia kini juga bekerja sebagai penjual bubur, dunia seni lukis tak pernah ditinggalkannya. (mie)