alexametrics
31 C
Probolinggo
Friday, 26 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Solikhin Pernah Menyalati 10 Jenazah Pasien Covid-19 dalam Sehari

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Menjadi imam salat jenazah untuk pasien Covid-19 di RSUD Bangil, memberi banyak cerita bagi Solikhin, 42. Lelaki yang tercatat sebagai rohaniawan di rumah sakit pelat merah itu, pernah menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19 hingga 10 kali dalam sehari.

——————-

LANTUNAN tahlil menggaung di ruangan khusus di gedung Instalasi Kamar Jenazah RSUD Bangil, Jumat (15/1). Satu orang memimpin membaca tahlil dan beberapa orang mengikuti.

Bacaan tahlil itu dilantunkan sebelum salat jenazah dilakukan. Di depan mereka, memang ada peti mati yang terbungkus plastik. Begitu tahlil disuarakan, salat jamaah untuk menyalati jenazah dijalankan.

“Dalam sehari ini saja, ini yang ketiga kalinya saya menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19,” kata Solikhin, rohaniawan di RSUD Bangil seusai mengimami salat jenazah pasien Covid-19 di RSUD Bangil, sekitar pukul 11.00, Jumat (15/1).

Lelaki asal Desa Karanganyar, Kecamatan Kraton, ini merupakan salah satu rohaniawan di RSUD Bangil. Ia tak hanya terlibat memandikan jenazah di tempat khusus. Tetapi juga menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19 di rumah sakit BLUD tersebut.

Sudah enam bulan terakhir, ia menjadi imam khusus untuk menyalati pasien Covid-19 di RSUD Bangil. Tepatnya, sejak bulan Juli 2020.

Ketika itu, RSUD Bangil membutuhkan petugas khusus untuk menyalati jenazah pasien Covid-19. “Saya diminta pihak rumah sakit dan kebetulan kiai memerintahkan saya. Sehingga, saya pun bersedia,” ujar Ustad Solikhin -sapaan karibnya-.

SUDAH BIASA: Solikhin (bersongkok) saat bersama Kepala Instalasi Kamar Jenazah RSUD Bangil Saiful Arifin. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Sejak itulah, ia bertugas mengurus pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 di RSUD Bangil atau dikenal dengan sebutan mudin. Mulai menjemput jenazah, memandikan, mengafani bersama petugas kamar jenazah, hingga menyalati jenazah tersebut.

Saat itu memang hanya dirinya yang menjadi mudin. Sehingga, tanggung jawab yang harus diembannya pun lebih berat. “Sebelumnya, saya sendirian menjadi mudin di sini. Tapi saat ini sudah ada dua orang lain. Sehingga, bisa bergantian sif dan lebih ringan,” bebernya.

Selama menjadi mudin di RSUD Bangil, banyak hal yang dialaminya. Di antaranya, harus bolak-balik mengimami jenazah pasien Covid-19. Bahkan, dalam sehari ia pernah sampai 10 kali mengimami salat jenazah di RSUD Bangil.

Saking banyaknya, ia sampai kewalahan. Betapa tidak, dia sendirian menjadi mudin saat itu. Otomatis, dia satu-satunya yang harus menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19.

Saat itu Solikhin harus standby di RSUD Bangil antara pukul 07.00 hingga 14.00. Ia baru boleh pulang ketika waktu menunjukkan pukul 14.00.

“Tapi karena tanggung jawab saya sering menunda pulang. Bahkan baru pulang pukul 15.00 atau lebih,” kenang dia.

Pernah suatu hari, dirinya sudah beberapa kali mengurus jenazah pasien Covid-19. Dia pun pulang, sekitar pukul 14.00. Ketika sampai di rumah, handphone-nya berdering. Ia diminta untuk kembali lantaran ada pasien Covid-19 yang meninggal.

“Padahal, baru mau makan. Sudah ada panggilan lagi. Ya harus berangkat segera,” kisahnya.

Tidak peduli siang, malam, atau dini hari, dia harus berangkat saat dibutuhkan. Rasa capek dan lelah harus dilawannya. Rasa kantuk pun ditahannya.

“Pukul 02.00 atau pukul 03.00, ketika ada panggilan mau tidak mau saya berangkat. Pernah, waktu itu ada panggilan pukul 02.00, ya harus berangkat,” tambahnya.

Bahkan, Solikhin pernah sampai kecelakaan dalam perjalanan ke RSUD Bangil untuk menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19. Saat itu ada panggilan mendadak dari RSUD Bangil.

Dia pun memacu motornya dengan cepat. Saat berada di jalan, ada truk yang berbelok arah mendadak. Ia kaget dan akhirnya celaka.

“Saya mendapat tiga jahitan di kepala. Begitu selesai dijahit, saya langsung menyalati jenazah pasien Covid-19 tersebut. Bagaimanapun ini tanggung jawab saya,” urai suami dari Erna Masruro itu.

Selama mengurusi jenazah pasien Covid-19, ia menyadari rentan terpapar. Namun, ia senantiasa berusaha agar Covid-19 tidak sampai menjangkitinya. Berbagai cara dilakukan. Termasuk mandi setelah memandikan jenazah.

Tak heran, Solikhin bisa berkali-kali mandi. Bahkan, bisa lebih dari lima kali dalam sehari.

“Kalau memahami penularannya, Insyaallah tidak sampai tertular. Karena bisa melakukan pencegahan. Selain itu juga harus banyak berdoa, serta mengonsumsi multivitamin agar tidak sampai kecapekan,” akunya.

Menurut Solikhin, mengurus jenazah Covid-19 memang berbeda dengan jenazah biasa. Seperti ketika memandikan. Untuk memandikan jenazah umum, bisa dipangku oleh keluarga. Tapi untuk jenazah Covid-19, harus menggunakan alat khusus.

“Kalau menyalatinya, secara umum sama. Hanya saja harus menerapkan protokoler kesehatan yang ketat. Seperti menjaga jarak,” tandas lelaki yang sempat menjadi RT dan BPD di kampungnya tersebut.

Meski terkesan berat, ia tak merasa terbebani. Karena hal itu menjadi tanggung jawabnya. Dia pun menjalankan tugas yang diberikan dengan sepenuh jiwa.

Kepala Instalasi Kamar Jenazah RSUD Bangil Saiful Arifin menguraikan, sebelum ada mudin, ia dan petugas di RSUD Bangil yang menyalati pasien-pasien Covid-19. Bahkan, Saiful pernah menjadi imam.

“Tapi, sekarang sudah ada mudin. Kami juga ikut menyalati, tapi sebagai makmum saja,” bebernya.

Semula, memang hanya satu mudin. Namun, sejak September 2020, RSUD Bangil menambah jumlah mudin. Sekarang, sudah ada tiga mudin di RSUD Bangil dengan pembagian sif kerja menjadi tiga.

“Kasian Pak Solikhin kalau hanya sendirian. Makanya, kami menambah supaya ada pembagian waktu,” jelasnya. (one/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Menjadi imam salat jenazah untuk pasien Covid-19 di RSUD Bangil, memberi banyak cerita bagi Solikhin, 42. Lelaki yang tercatat sebagai rohaniawan di rumah sakit pelat merah itu, pernah menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19 hingga 10 kali dalam sehari.

——————-

LANTUNAN tahlil menggaung di ruangan khusus di gedung Instalasi Kamar Jenazah RSUD Bangil, Jumat (15/1). Satu orang memimpin membaca tahlil dan beberapa orang mengikuti.

Mobile_AP_Half Page

Bacaan tahlil itu dilantunkan sebelum salat jenazah dilakukan. Di depan mereka, memang ada peti mati yang terbungkus plastik. Begitu tahlil disuarakan, salat jamaah untuk menyalati jenazah dijalankan.

“Dalam sehari ini saja, ini yang ketiga kalinya saya menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19,” kata Solikhin, rohaniawan di RSUD Bangil seusai mengimami salat jenazah pasien Covid-19 di RSUD Bangil, sekitar pukul 11.00, Jumat (15/1).

Lelaki asal Desa Karanganyar, Kecamatan Kraton, ini merupakan salah satu rohaniawan di RSUD Bangil. Ia tak hanya terlibat memandikan jenazah di tempat khusus. Tetapi juga menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19 di rumah sakit BLUD tersebut.

Sudah enam bulan terakhir, ia menjadi imam khusus untuk menyalati pasien Covid-19 di RSUD Bangil. Tepatnya, sejak bulan Juli 2020.

Ketika itu, RSUD Bangil membutuhkan petugas khusus untuk menyalati jenazah pasien Covid-19. “Saya diminta pihak rumah sakit dan kebetulan kiai memerintahkan saya. Sehingga, saya pun bersedia,” ujar Ustad Solikhin -sapaan karibnya-.

SUDAH BIASA: Solikhin (bersongkok) saat bersama Kepala Instalasi Kamar Jenazah RSUD Bangil Saiful Arifin. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Sejak itulah, ia bertugas mengurus pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 di RSUD Bangil atau dikenal dengan sebutan mudin. Mulai menjemput jenazah, memandikan, mengafani bersama petugas kamar jenazah, hingga menyalati jenazah tersebut.

Saat itu memang hanya dirinya yang menjadi mudin. Sehingga, tanggung jawab yang harus diembannya pun lebih berat. “Sebelumnya, saya sendirian menjadi mudin di sini. Tapi saat ini sudah ada dua orang lain. Sehingga, bisa bergantian sif dan lebih ringan,” bebernya.

Selama menjadi mudin di RSUD Bangil, banyak hal yang dialaminya. Di antaranya, harus bolak-balik mengimami jenazah pasien Covid-19. Bahkan, dalam sehari ia pernah sampai 10 kali mengimami salat jenazah di RSUD Bangil.

Saking banyaknya, ia sampai kewalahan. Betapa tidak, dia sendirian menjadi mudin saat itu. Otomatis, dia satu-satunya yang harus menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19.

Saat itu Solikhin harus standby di RSUD Bangil antara pukul 07.00 hingga 14.00. Ia baru boleh pulang ketika waktu menunjukkan pukul 14.00.

“Tapi karena tanggung jawab saya sering menunda pulang. Bahkan baru pulang pukul 15.00 atau lebih,” kenang dia.

Pernah suatu hari, dirinya sudah beberapa kali mengurus jenazah pasien Covid-19. Dia pun pulang, sekitar pukul 14.00. Ketika sampai di rumah, handphone-nya berdering. Ia diminta untuk kembali lantaran ada pasien Covid-19 yang meninggal.

“Padahal, baru mau makan. Sudah ada panggilan lagi. Ya harus berangkat segera,” kisahnya.

Tidak peduli siang, malam, atau dini hari, dia harus berangkat saat dibutuhkan. Rasa capek dan lelah harus dilawannya. Rasa kantuk pun ditahannya.

“Pukul 02.00 atau pukul 03.00, ketika ada panggilan mau tidak mau saya berangkat. Pernah, waktu itu ada panggilan pukul 02.00, ya harus berangkat,” tambahnya.

Bahkan, Solikhin pernah sampai kecelakaan dalam perjalanan ke RSUD Bangil untuk menjadi imam salat jenazah pasien Covid-19. Saat itu ada panggilan mendadak dari RSUD Bangil.

Dia pun memacu motornya dengan cepat. Saat berada di jalan, ada truk yang berbelok arah mendadak. Ia kaget dan akhirnya celaka.

“Saya mendapat tiga jahitan di kepala. Begitu selesai dijahit, saya langsung menyalati jenazah pasien Covid-19 tersebut. Bagaimanapun ini tanggung jawab saya,” urai suami dari Erna Masruro itu.

Selama mengurusi jenazah pasien Covid-19, ia menyadari rentan terpapar. Namun, ia senantiasa berusaha agar Covid-19 tidak sampai menjangkitinya. Berbagai cara dilakukan. Termasuk mandi setelah memandikan jenazah.

Tak heran, Solikhin bisa berkali-kali mandi. Bahkan, bisa lebih dari lima kali dalam sehari.

“Kalau memahami penularannya, Insyaallah tidak sampai tertular. Karena bisa melakukan pencegahan. Selain itu juga harus banyak berdoa, serta mengonsumsi multivitamin agar tidak sampai kecapekan,” akunya.

Menurut Solikhin, mengurus jenazah Covid-19 memang berbeda dengan jenazah biasa. Seperti ketika memandikan. Untuk memandikan jenazah umum, bisa dipangku oleh keluarga. Tapi untuk jenazah Covid-19, harus menggunakan alat khusus.

“Kalau menyalatinya, secara umum sama. Hanya saja harus menerapkan protokoler kesehatan yang ketat. Seperti menjaga jarak,” tandas lelaki yang sempat menjadi RT dan BPD di kampungnya tersebut.

Meski terkesan berat, ia tak merasa terbebani. Karena hal itu menjadi tanggung jawabnya. Dia pun menjalankan tugas yang diberikan dengan sepenuh jiwa.

Kepala Instalasi Kamar Jenazah RSUD Bangil Saiful Arifin menguraikan, sebelum ada mudin, ia dan petugas di RSUD Bangil yang menyalati pasien-pasien Covid-19. Bahkan, Saiful pernah menjadi imam.

“Tapi, sekarang sudah ada mudin. Kami juga ikut menyalati, tapi sebagai makmum saja,” bebernya.

Semula, memang hanya satu mudin. Namun, sejak September 2020, RSUD Bangil menambah jumlah mudin. Sekarang, sudah ada tiga mudin di RSUD Bangil dengan pembagian sif kerja menjadi tiga.

“Kasian Pak Solikhin kalau hanya sendirian. Makanya, kami menambah supaya ada pembagian waktu,” jelasnya. (one/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2