alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

Cerita Pasutri Perajin Mutiara Pasuruan Nekat Resign dari Bank

Usahanya pun lancar. Bahkan, ada salah satu temannya di Semarang sempat membeli mutiara hingga Rp 30 juta. Namun, saat asyik menekuni bisnis tersebut, suami dipindah ke Kota Probolinggo. Suaminya diharuskan tinggal di rumah dinas di Kota Pasuruan.

Ica tentu saja mengikuti suami pindah ke Probolinggo. Kepindahan itu membuat dia berpikir ulang untuk menekuni bisnis reseller yang sedang dijalaninya.

“Saya selalu ikut pindah ke manapun suami pindah. Karena suami harus pindah, saya akhirnya mikir bahwa bakal susah kalau tetap menekuni bisnis reseller ini. Sebab, kualitas produk tidak terkontrol karena lokasi yang jauh. Selain itu, bisa makan biaya dan waktu,” jelasnya.

Ia lantas memutuskan kembali ke Lombok untuk bertemu perajin mutiara di sana. Selama sepekan ia belajar cara merakit dan membuat mutiara menjadi aksesori. Mulai yang menggunakan bahan senar, hingga benang. Bahkan, ia sempat ke peternak kerang mutiara untuk melihat pengolahan kerang jadi mutiara.

Semua pengalaman itu ia rekam dalam video di smartphone. Namun, ternyata saat perempuan asli Semarang ini kembali ke Kota Pasuruan, ia tidak bisa mempraktikkan sama sekali.

Suaminya, Adip yang mengetahui kondisi itu, tergerak untuk mempelajari video rekaman yang dibuat Ica. Adip pun berusaha merakit mutiara dengan panduan video yang dibuat istrinya.

Ternyata, suaminya malah mampu. Akhirnya setiap pulang kerja, Adip merakit aksesori mutiara dan memotretnya untuk di-upload di media sosial (medsos). Sementara Ica memasarkan. Modelnya dibuat bersama-sama.

Usahanya pun lancar. Bahkan, ada salah satu temannya di Semarang sempat membeli mutiara hingga Rp 30 juta. Namun, saat asyik menekuni bisnis tersebut, suami dipindah ke Kota Probolinggo. Suaminya diharuskan tinggal di rumah dinas di Kota Pasuruan.

Ica tentu saja mengikuti suami pindah ke Probolinggo. Kepindahan itu membuat dia berpikir ulang untuk menekuni bisnis reseller yang sedang dijalaninya.

“Saya selalu ikut pindah ke manapun suami pindah. Karena suami harus pindah, saya akhirnya mikir bahwa bakal susah kalau tetap menekuni bisnis reseller ini. Sebab, kualitas produk tidak terkontrol karena lokasi yang jauh. Selain itu, bisa makan biaya dan waktu,” jelasnya.

Ia lantas memutuskan kembali ke Lombok untuk bertemu perajin mutiara di sana. Selama sepekan ia belajar cara merakit dan membuat mutiara menjadi aksesori. Mulai yang menggunakan bahan senar, hingga benang. Bahkan, ia sempat ke peternak kerang mutiara untuk melihat pengolahan kerang jadi mutiara.

Semua pengalaman itu ia rekam dalam video di smartphone. Namun, ternyata saat perempuan asli Semarang ini kembali ke Kota Pasuruan, ia tidak bisa mempraktikkan sama sekali.

Suaminya, Adip yang mengetahui kondisi itu, tergerak untuk mempelajari video rekaman yang dibuat Ica. Adip pun berusaha merakit mutiara dengan panduan video yang dibuat istrinya.

Ternyata, suaminya malah mampu. Akhirnya setiap pulang kerja, Adip merakit aksesori mutiara dan memotretnya untuk di-upload di media sosial (medsos). Sementara Ica memasarkan. Modelnya dibuat bersama-sama.

MOST READ

BERITA TERBARU

/