alexametrics
28.1 C
Probolinggo
Sunday, 3 July 2022

Cerita Pasutri Perajin Mutiara Pasuruan Nekat Resign dari Bank

Kerajinan mutiara semakin diminati. Namun, belum banyak orang yang menekuni kerajinan ini. Di antara minimnya perajin mutiara itu, ada pasangan suami istri (pasutri) Nisa Septianing, 40 dan Adip Fachrizal, 39 di Kota Pasuruan.

FAHRIZAL FIRMANI, Purworejo, Radar Bromo

Perempuan itu mengambil batu mutiara yang disimpan dalam kotak berbentuk persegi. Dengan perlahan, satu per satu mutiara kecil itu dimasukkan dan diikat pada bagian benang dan senar. Lalu, dibentuk jadi beraneka bentuk.

Begitulah kegiatan sehari-hari yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) Nisa Septianing, 40 dan Adip Fahrizal, 39. Setiap Senin sampai Sabtu, rumah mereka di Jalan Sultan Agung, Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, disulap menjadi sanggar pembuatan mutiara beragam model dan bentuk.

“Batu mutiara ini kami bentuk menjadi beragam aksesori. Mulai dari bros, gelang, kalung, cincin, anting, strap, konektor, hingga ring hijab,” ungkap Ica –sapaan akrab Nisa Septianing- memulai obrolan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Ia mengungkapkan, perjalanannya menjadi perajin aksesori dari mutiara cukup berliku dan panjang. Usahanya ini dirintis sejak 2017. Kebetulan saat itu, suaminya, Adip Fachrizal yang masih bekerja di salah satu bank nasional ditempatkan kerja di wilayah Lombok.

Rupanya kepindahannya ini didengar oleh teman-temannya di Jawa. Mereka lantas meminta Ica untuk mencarikan mutiara khas Lombok. Sebab, mutiara Lombok dikenal dengan kualitasnya yang tinggi.

Karena banyaknya permintaan, Ica pun memutuskan menjadi reseller mutiara. Ia bekerja sama dengan pembudi daya kerang mutiara dan toko mutiara setempat.

Kerajinan mutiara semakin diminati. Namun, belum banyak orang yang menekuni kerajinan ini. Di antara minimnya perajin mutiara itu, ada pasangan suami istri (pasutri) Nisa Septianing, 40 dan Adip Fachrizal, 39 di Kota Pasuruan.

FAHRIZAL FIRMANI, Purworejo, Radar Bromo

Perempuan itu mengambil batu mutiara yang disimpan dalam kotak berbentuk persegi. Dengan perlahan, satu per satu mutiara kecil itu dimasukkan dan diikat pada bagian benang dan senar. Lalu, dibentuk jadi beraneka bentuk.

Begitulah kegiatan sehari-hari yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) Nisa Septianing, 40 dan Adip Fahrizal, 39. Setiap Senin sampai Sabtu, rumah mereka di Jalan Sultan Agung, Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, disulap menjadi sanggar pembuatan mutiara beragam model dan bentuk.

“Batu mutiara ini kami bentuk menjadi beragam aksesori. Mulai dari bros, gelang, kalung, cincin, anting, strap, konektor, hingga ring hijab,” ungkap Ica –sapaan akrab Nisa Septianing- memulai obrolan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Ia mengungkapkan, perjalanannya menjadi perajin aksesori dari mutiara cukup berliku dan panjang. Usahanya ini dirintis sejak 2017. Kebetulan saat itu, suaminya, Adip Fachrizal yang masih bekerja di salah satu bank nasional ditempatkan kerja di wilayah Lombok.

Rupanya kepindahannya ini didengar oleh teman-temannya di Jawa. Mereka lantas meminta Ica untuk mencarikan mutiara khas Lombok. Sebab, mutiara Lombok dikenal dengan kualitasnya yang tinggi.

Karena banyaknya permintaan, Ica pun memutuskan menjadi reseller mutiara. Ia bekerja sama dengan pembudi daya kerang mutiara dan toko mutiara setempat.

MOST READ

BERITA TERBARU

/