alexametrics
24C
Probolinggo
Monday, 18 January 2021

Geliat Kerajinan Bata di Desa Gejugjati yang Terus Berkembang

Mayoritas warga Desa Gejugjati, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, bermata pencaharian sebagai peternak sapi perah. Selain itu, ada juga yang menjadi perajin bata. Kerajinan bahan bangunan ini pun terus menggeliat.

FAHRIZAL FIRMANI, Lekok

Dianugerahi kualitas tanah yang baik, membuat sebagian warga Desa Gejugjati, Kecamatan Lekok, tak kesulitan untuk mencari rezeki. Mereka bisa mengolah tanah menjadi sebuah kerajinan yang bernilai jual tinggi. Salah satunya berupa kerajinan bata.

Hasilnya, dari penjualan bata ini mampu membuat mereka menyambung hidup. Bahkan, ada yang menggantungkan segala kebutuhan kelurganya dari hasil membuat bata. Maklum, salah satu bahan bangunan ini kini makin banyak dicari orang.

Sejauh ini, ada sekitar 100 kepala keluarga (KK) di Desa Gejugjati yang menjadi perajin bata. Mereka tersebar di enam dusun. Mereka sama-sama memanfaatkan kualitas tanah di desanya untuk mengais rezeki.

Kepala Desa Gejugjati Suprayitno mengatakan, ada dua jenis bata yang dibuat warganya. Berupa bata hitam dan merah. Adanya dua jenis bata ini, tidak terlepas dari kualitas tanah di desanya yang baik.

Menurutnya, warganya biasanya menerima permintaan, namun ada juga yang menjual sendiri. Hasil produksi warga ini dijual sejumlah toko bangunan di sekitar Kecamatan Grati dan Lekok. Banyak juga perajin yang menjual hasilnya sampai ke luar Kabupaten Pasuruan. Seperti, ke Kota Surabaya, Malang, dan Sidoarjo.

Pembuatan kerajinan bata ini seakan tak ada matinya. Sepanjang tahun para perajin ini selalu memproduksi untuk memenuhi permintaan konsumen. Bahkan, termasuk ketika musim hujan. Ketika musim hujan, para perajin mengeringkan cetakan batanya di dalam sebuah ruangan dengan ditutupi plastik

Upaya itu berbeda ketika musim kemarau. Kalau kemarau, warga cukup mejemurnya di ruang terbuka sebelum akhirnya dibakar. Suprayitno mengatakan, sejumlah perajin menjual bata Rp 475 ribu per 1.000 buah. “Mata pencaharian warga saya cukup beragam. Selain menjadi peternak sapi perah dan petani, ada juga yang menjadi perajin bata,” ujarnya.

Suprayitno mengatakan, seluruh modal usaha para perajin bata itu berasal dari kantong pribadi. Sedangkan, pihaknya hanya bersifat mendorong untuk pengembangan usahanya. Seperti, menjadi fasilitator pada Pemkab Pasuruan untuk mendapatkan bantuan modal. “Tentu kami tetap perhatikan. Ini kan potensi utama Desa Gejugjati. Jadi, kami upayakan agar usaha ini terus berkembang,” ujarnya. (fun)

MOST READ

BERITA TERBARU