alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Penjual dan Penjahit Seragam Sekolah Kembali Panen usai Pandemi Mereda

Tahun ajaran baru adalah masa-masa panen bagi penjual seragam sekolah, termasuk penjahit seragam sekolah. Para penjahit mulai menerima pesanan seragam di sejumlah sekolah, setelah usahanya sempat “mati suri” karena pandemi Covid-19.

 

FUAD ALYZEN, Bugul Kidul, Radar Bromo

Nam Lika, 36, tengah mengecek pekerjaan sejumlah karyawannya hari itu. Sambil mencatat satu persatu hasil jahitan seragam yang dikerjakan karyawannya.

Warga Jalan Pattimura, RT 1/RW 3, Kelurahan/Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, itu satu dari sekian banyak penjahit di Bugul Kidul. Mendekati tahun ajaran baru, Lika kebanjiran pesanan jahitan seragam sekolah.

Bahkan, usaha keluarga yang dirintis sejak tahun 1985 itu kini menjadi pusat pemesanan seragam sekolah di wilayah Bugul Kidul. Tahun ini, dia menerima pesanan dari empat sekolah. Terdiri atas tiga SD dan satu TK.

Dua SD memesan masing-masing 300 setel seragam merah putih. Lalu, satu SD lagi memesan 300 setel seragam merah putih dan 300 setel seragam olahraga. Sementara TK memesan 200 setel seragam biru putih.

Pesanan itu bahkan sudah dikerjakannya sejak Februari. Dan harus selesai bulan ini sebelum tahun ajaran baru dimulai minggu depan.

Karena banyaknya pesanan, Lika harus melimpahkan pesanan itu ke penjahit lain. Dengan harapan, pesanan konsumen bisa selesai tepat waktu. Selain itu, kualitas hasilnya juga bagus.

“Kalau semuanya diterima, khawatir hasilnya tidak maksimal. Tentunya akan mengecewakan konsumen. Jadi kami limpahkan juga ke penjahit lain,” beber Lika.

Kemarin (14/7) saat Jawa Pos Radar Bromo mendatangi tempatnya menjahit, Lika masih sibuk menjahit dibantu lima karyawannya. Namun, dia lebih fokus pada bagian kontrol.

Lika dan karyawannya pun harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menyelesaikan semua pesanan. Bahkan, di luar jam kerja, karyawannya harus mengerjakan jahitan di rumah masing-masing.

“Pesanan yang paling banyak adalah seragam SD merah putih dan TK putih biru. Karena yang paling umum adalah seragam itu. Pengerjaannya kami cicil sejak Februari,” tandasnya.

Tidak hanya Lika yang sedang panen pesanan seragam sekolah. Iin Sunaifah, 63, juga menerima banyak pesanan seragam. Iin yang pedagang seragam, sekaligus punya usaha menjahit ini juga menerima pesanan ratusan seragam sekolah.

BANYAK PESANAN: Iin Sunaifah, 63, di toko seragam miliknya. Tahun ini dia menerima pesanan
seragam dari puluhan sekolah di Pasuruan dan luar Pasuruan. (Fuad Alyzen/ Radar Bromo)

Sejak memasuki tahun ajaran baru, dia menerima pesanan dari puluhan sekolah di Kota dan Kabupaten Pasuruan. Bahkan, dari luar Pasuruan pun ada yang memesan padanya.

Tahun ajaran baru adalah masa-masa panen bagi penjual seragam sekolah, termasuk penjahit seragam sekolah. Para penjahit mulai menerima pesanan seragam di sejumlah sekolah, setelah usahanya sempat “mati suri” karena pandemi Covid-19.

 

FUAD ALYZEN, Bugul Kidul, Radar Bromo

Nam Lika, 36, tengah mengecek pekerjaan sejumlah karyawannya hari itu. Sambil mencatat satu persatu hasil jahitan seragam yang dikerjakan karyawannya.

Warga Jalan Pattimura, RT 1/RW 3, Kelurahan/Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, itu satu dari sekian banyak penjahit di Bugul Kidul. Mendekati tahun ajaran baru, Lika kebanjiran pesanan jahitan seragam sekolah.

Bahkan, usaha keluarga yang dirintis sejak tahun 1985 itu kini menjadi pusat pemesanan seragam sekolah di wilayah Bugul Kidul. Tahun ini, dia menerima pesanan dari empat sekolah. Terdiri atas tiga SD dan satu TK.

Dua SD memesan masing-masing 300 setel seragam merah putih. Lalu, satu SD lagi memesan 300 setel seragam merah putih dan 300 setel seragam olahraga. Sementara TK memesan 200 setel seragam biru putih.

Pesanan itu bahkan sudah dikerjakannya sejak Februari. Dan harus selesai bulan ini sebelum tahun ajaran baru dimulai minggu depan.

Karena banyaknya pesanan, Lika harus melimpahkan pesanan itu ke penjahit lain. Dengan harapan, pesanan konsumen bisa selesai tepat waktu. Selain itu, kualitas hasilnya juga bagus.

“Kalau semuanya diterima, khawatir hasilnya tidak maksimal. Tentunya akan mengecewakan konsumen. Jadi kami limpahkan juga ke penjahit lain,” beber Lika.

Kemarin (14/7) saat Jawa Pos Radar Bromo mendatangi tempatnya menjahit, Lika masih sibuk menjahit dibantu lima karyawannya. Namun, dia lebih fokus pada bagian kontrol.

Lika dan karyawannya pun harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menyelesaikan semua pesanan. Bahkan, di luar jam kerja, karyawannya harus mengerjakan jahitan di rumah masing-masing.

“Pesanan yang paling banyak adalah seragam SD merah putih dan TK putih biru. Karena yang paling umum adalah seragam itu. Pengerjaannya kami cicil sejak Februari,” tandasnya.

Tidak hanya Lika yang sedang panen pesanan seragam sekolah. Iin Sunaifah, 63, juga menerima banyak pesanan seragam. Iin yang pedagang seragam, sekaligus punya usaha menjahit ini juga menerima pesanan ratusan seragam sekolah.

BANYAK PESANAN: Iin Sunaifah, 63, di toko seragam miliknya. Tahun ini dia menerima pesanan
seragam dari puluhan sekolah di Pasuruan dan luar Pasuruan. (Fuad Alyzen/ Radar Bromo)

Sejak memasuki tahun ajaran baru, dia menerima pesanan dari puluhan sekolah di Kota dan Kabupaten Pasuruan. Bahkan, dari luar Pasuruan pun ada yang memesan padanya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/