alexametrics
25.5 C
Probolinggo
Friday, 12 August 2022

Toko Oleh-oleh Haji Pangkas Operasional sampai Rumahkan Karyawan Setelah Pemberangkatan Dibatalkan

Selepas Lebaran, biasanya toko oleh-oleh haji menjadi buruan calon jamaah haji (CJH) yang hendak berangkat. Namun, penundaan pemberangkatan jamaah haji tahun ini membuat toko oleh-oleh haji menjadi sepi. Bahkan, harus memangkas operasional dan mulai merumahkan karyawan.

———————–

Biasanya sebelum pukul 07.00, mobil dan motor sudah ramai terparkir di Jalan Mujaer, Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Dekat toko Terowongan Mina atau dikenal dengan Yik Gabin, sebuah toko oleh-oleh haji.

Sudah puluhan tahun, toko ini menjadi tempat calon jamaah haji (CJH) dan umrah berbelanja. Baik untuk persiapan sebelum berangkat, sampai serba-serbi oleh-oleh haji sepulang dari Tanah Suci.

Namun, sudah beberapa bulan ini parkir kendaraan di dekat toko tidak seramai dulu. Aktivitas CJH yang hendak ke Tanah Suci menurun drastis. Pembelian peralatan ibadah dan oleh-oleh pun jauh berkurang. Khususnya setelah Arab Saudi menutup pintu umrah akhir Februari lalu, ditambah penundaan pemberangkatan jamaah haji.

“Terasa sekali sepi pembeli sejak Maret. Yaitu, setelah umrah ditutup. Apalagi saat ini haji dipastikan ditunda, sehingga pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari,” keluh Yahya Ibrahim Assegraf, pengawas di Toko Terowongan Mina, Bangil.

Sejak sepi pembeli, menurutnya, operasional toko sampai dipangkas. AC tak lagi dinyalakan jika tak ada pembeli. Lampu juga tidak semua dinyalakan. Sehingga, biaya operasional sehari-hari masih bisa dihemat. Untungnya, 14 karyawan tetap dipekerjakan dan belum ada yang sampai dirumahkan.

Jika dibandingkan dengan kondisi normal tahun lalu, jumlah pengunjung menurun jauh. Dulu, sehari bisa ratusan pembeli datang. Saat ini hanya 2-3 orang yang datang per hari.

Kondisi ini terasa sejak pandemi korona. Dan terus menurun dengan ditutupkan umrah dan dibatalkannya pemberangkatan jamaah haji. Penurunan pengunjung dan omzet bahkan sampai mencapai 70 persen.

RUMAHKAN KARYAWAN: Said Sallum (kanan) melayani pembeli di toko oleh-oleh haji dan umrah Jafna Collection, Bangil. (Foto: Erri Kartika/Radar Bromo)

“Termasuk Ramadan juga sepi. Padahal, biasanya banyak pembeli baju, mukenah, dan sajadah. Mungkin karena ekonomi juga sedang lesu,” ujarnya.

Pembeli yang datang pun hanya dari warga sekitar Bangil saja. Itu pun hanya membeli untuk keperluan pribadi dengan jumlah terbatas. Berbeda dengan CJH dan umrah yang biasanya membeli dalam partai besar, utamanya untuk oleh-oleh.

“Dulu pembeli tak hanya warga Bangil dan Pasuruan. Ada banyak dari Mojokerto, Probolinggo, Sidoarjo, Jember, Malang, Jombang, bahkan sampai Bali. Tapi, karena ada social distancing dan PSBB, orang lokal saja yang beli,” ujarnya.

Meski demikian, saat ini menurutnya toko buka seperti biasa. Hanya, kegiatan yang bisa meningkatkan biaya operasional dikurangi.

Hal senada diungkapkan Said Sallum, pemilik Jafna Collection di Jalan Lumba-lumba, Bendomungal, Bangil. Said mengatakan, toko oleh-oleh umrah dan haji miliknya sudah terdampak korona sejak Maret.

“Dulu dari luar kota seperti Probolinggo, Situbondo, sampai Banyuwangi datang ke sini. Kebanyakan membeli oleh-oleh haji. Mulai dari jilbab, sajadah, surban, kurma, tasbih, kopiah, termasuk juga variasi bordir,” ujarnya.

Saat ini pembeli turun hingga 70 persen. Pembeli pun hanya warga sekitar Bangil dan Pasuruan. Itu pun hanya membeli unutk kebutuhan pribadi.

Karena sepi, operasional toko juga mulai dikurangi. Jika dulu buka dari pukul 07.00, saat ini pukul 08.00 baru buka. Sorenya, jika dulu asar sudah buka, saat ini baru pukul 17.00 dibuka.

“Termasuk dulu ada lima pegawai, habis Lebaran ini hanya satu pegawai saja. Yang lainnya sementara dirumahkan,” ujarnya.

Harapannya, wabah korona bisa segera usai. Sehingga, aktivitas masyarakat bisa kembali normal. Termasuk, kegiatan ibadah umrah dan haji bisa dilakukan kembali seperti semula. Sehingga, aktivitas ekonomi bisa kembali normal. (eka/hn/fun)

Selepas Lebaran, biasanya toko oleh-oleh haji menjadi buruan calon jamaah haji (CJH) yang hendak berangkat. Namun, penundaan pemberangkatan jamaah haji tahun ini membuat toko oleh-oleh haji menjadi sepi. Bahkan, harus memangkas operasional dan mulai merumahkan karyawan.

———————–

Biasanya sebelum pukul 07.00, mobil dan motor sudah ramai terparkir di Jalan Mujaer, Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Dekat toko Terowongan Mina atau dikenal dengan Yik Gabin, sebuah toko oleh-oleh haji.

Sudah puluhan tahun, toko ini menjadi tempat calon jamaah haji (CJH) dan umrah berbelanja. Baik untuk persiapan sebelum berangkat, sampai serba-serbi oleh-oleh haji sepulang dari Tanah Suci.

Namun, sudah beberapa bulan ini parkir kendaraan di dekat toko tidak seramai dulu. Aktivitas CJH yang hendak ke Tanah Suci menurun drastis. Pembelian peralatan ibadah dan oleh-oleh pun jauh berkurang. Khususnya setelah Arab Saudi menutup pintu umrah akhir Februari lalu, ditambah penundaan pemberangkatan jamaah haji.

“Terasa sekali sepi pembeli sejak Maret. Yaitu, setelah umrah ditutup. Apalagi saat ini haji dipastikan ditunda, sehingga pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari,” keluh Yahya Ibrahim Assegraf, pengawas di Toko Terowongan Mina, Bangil.

Sejak sepi pembeli, menurutnya, operasional toko sampai dipangkas. AC tak lagi dinyalakan jika tak ada pembeli. Lampu juga tidak semua dinyalakan. Sehingga, biaya operasional sehari-hari masih bisa dihemat. Untungnya, 14 karyawan tetap dipekerjakan dan belum ada yang sampai dirumahkan.

Jika dibandingkan dengan kondisi normal tahun lalu, jumlah pengunjung menurun jauh. Dulu, sehari bisa ratusan pembeli datang. Saat ini hanya 2-3 orang yang datang per hari.

Kondisi ini terasa sejak pandemi korona. Dan terus menurun dengan ditutupkan umrah dan dibatalkannya pemberangkatan jamaah haji. Penurunan pengunjung dan omzet bahkan sampai mencapai 70 persen.

RUMAHKAN KARYAWAN: Said Sallum (kanan) melayani pembeli di toko oleh-oleh haji dan umrah Jafna Collection, Bangil. (Foto: Erri Kartika/Radar Bromo)

“Termasuk Ramadan juga sepi. Padahal, biasanya banyak pembeli baju, mukenah, dan sajadah. Mungkin karena ekonomi juga sedang lesu,” ujarnya.

Pembeli yang datang pun hanya dari warga sekitar Bangil saja. Itu pun hanya membeli untuk keperluan pribadi dengan jumlah terbatas. Berbeda dengan CJH dan umrah yang biasanya membeli dalam partai besar, utamanya untuk oleh-oleh.

“Dulu pembeli tak hanya warga Bangil dan Pasuruan. Ada banyak dari Mojokerto, Probolinggo, Sidoarjo, Jember, Malang, Jombang, bahkan sampai Bali. Tapi, karena ada social distancing dan PSBB, orang lokal saja yang beli,” ujarnya.

Meski demikian, saat ini menurutnya toko buka seperti biasa. Hanya, kegiatan yang bisa meningkatkan biaya operasional dikurangi.

Hal senada diungkapkan Said Sallum, pemilik Jafna Collection di Jalan Lumba-lumba, Bendomungal, Bangil. Said mengatakan, toko oleh-oleh umrah dan haji miliknya sudah terdampak korona sejak Maret.

“Dulu dari luar kota seperti Probolinggo, Situbondo, sampai Banyuwangi datang ke sini. Kebanyakan membeli oleh-oleh haji. Mulai dari jilbab, sajadah, surban, kurma, tasbih, kopiah, termasuk juga variasi bordir,” ujarnya.

Saat ini pembeli turun hingga 70 persen. Pembeli pun hanya warga sekitar Bangil dan Pasuruan. Itu pun hanya membeli unutk kebutuhan pribadi.

Karena sepi, operasional toko juga mulai dikurangi. Jika dulu buka dari pukul 07.00, saat ini pukul 08.00 baru buka. Sorenya, jika dulu asar sudah buka, saat ini baru pukul 17.00 dibuka.

“Termasuk dulu ada lima pegawai, habis Lebaran ini hanya satu pegawai saja. Yang lainnya sementara dirumahkan,” ujarnya.

Harapannya, wabah korona bisa segera usai. Sehingga, aktivitas masyarakat bisa kembali normal. Termasuk, kegiatan ibadah umrah dan haji bisa dilakukan kembali seperti semula. Sehingga, aktivitas ekonomi bisa kembali normal. (eka/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/