alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Menunggu Waktu Berbuka Puasa, Seniman di Pasuruan Melukis On The Spot di Depan Klenteng

Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan selama menunaikan ibadah puasa. Termasuk ketika menanti kumandang azan Magrib. Sejumlah seniman lukis di Kota Pasuruan mengisinya dengan ngabuburit asik. Mereka mengajak siapapun yang tertarik untuk melukis on the spot.

——————

Puluhan muda-mudi duduk di halaman Klenteng Tjoe Tik Kiong. Ada yang bersila, sebagian lainnya duduk setengah berjongkok. Ada yang duduk berdampingan. Ada juga yang memisahkan diri dari yang lainnya.

TUNGGU MAGRIB: Sejumlah seniman melukis di depan Klenteng Tjoe Tik Kiong, Minggu (12/5) lalu. Aksi itu digelar sembari menunggu waktu berbuka puasa. (Istimewa)

Yang jelas, mereka yang terdiri mulai usia remaja hingga dewasa itu, sama-sama memegangi kanvas. Tangan kanan mereka memegang kuas yang mondar-mandir mencelupkan cat di palet lalu menumpahkannya ke kanvas.

Dihadapan kanvas kosong itulah, mereka menuangkan segala pikiran, juga imajinasinya. Namun tak jarang yang melukis dengan media kertas dan pensil. Melukis on the spot yang digagas sekumpulan pelukis yang tergabung dalam Komunitas Kuas Pati’s sendiri, sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Ngabuburit, dinilai menjadi momentum yang tepat untuk kegiatan tersebut.

Tak hanya menumpahkan pikiran dan imajinasi dalam karya, Kuas Pati’s juga ingin menggali bakat-bakat melukis bagi siapapun. Karena itu semua kebutuhan seperti kanvas, cat, kertas gambar, kuas, hingga pensil disediakan cuma-cuma.

“Peserta yang bergabung hanya membawa imajinasi untuk diekspresikan dalam karya mereka,” kata Figo Dimas Saputra, salah satu anggota Komunitas Kuas Pati’s.

Sama halnya dengan kegiatan pada bulan Ramadan sebelumnya, tahun ini juga digelar di tiga tempat berbeda. Selain di Klenteng Tjoe Tik Kiong yang dihelat Minggu (12/5) lalu, juga akan dilanjutkan di Alun-alun Bangil dan di Grati.

Klenteng Tjoe Tik Kiong, salah satu lokasi kegiatan itu konon dibangun sekitar abat 17 Masehi. Nuansa historis yang melekat pada tempat ibadah itu, tentu juga kian menggelorakan para peserta mengungkap imaji dalam karya dua dimensi.

Disamping itu, juga menghidupkan nilai-nilai kerukunan. Sebab, para peserta tak hanya melukis. Di lokasi itu, ketika azan Magrib berkumandang, mereka berbuka bersama. Lantas membagi-bagikan makanan untuk masyarakat sekitarnya.

Buah karya para peserta melukis on the spot, nanti akan dipamerkan setelah Hari Raya Idul Fitri. “Khusus di Grati sebagai penghujung kegiatan, akan diadakan mural. Jadi teman-teman diberi ruang untuk melukis dengan media tembok,” tambah Figo.

Kebanyakan peserta melukis on the spot, menggunakan medium kanvas. Mereka pun mengusung genre masing-masing dalam guratan kanvasnya. Hanya saja, panitia menentukan tema besarnya yakni Klenteng Tjoe Tik Kiong yang dinilai artistik.

“View utama memang Klenteng, lukisannya bebas diambil dari sudut mana saja,” katanya.

Nofi Sucipto, salah seorang peserta Ngabuburit Asik mengaku terkesan selama mengikuti kegiatan tersebut. “Kalau menggambar atau melukis dirumah atau dimana saja bagi kami, sudah biasa. Semacam makanan sehari-hari,” kelakarnya.

Menurut pelukis yang juga anggota Komunitas Bolo Kulon itu, melukis on the spot bukan sekadar ngabuburit. Melainkan juga ajang memperluas jaringan. “Kita bisa sharing, kumpul bersama. Berbagi ilmu atau pengalaman. Dan yang paling penting, menjaga silahturahmi,” ujarnya.

Ngabuburit itu juga mendapat respons positif dari keluarga besar Tionghoa di Klenteng tersebut. Hal itu diutarakan Rohaniwan Konghucu, Yudhi Dharma Santoso. “Tentu kami juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan teman-teman pelukis selama ngabuburit ini,” terang Yudhi.

Menurut dia, para pelukis yang mengekspresikan karyanya dalam guratan kuas itu tidak hanya menghasilkan keindahan. Akan tetapi juga bentuk upaya untuk terus memupuk toleransi antar umat beragama.

“Inilah nafas kerukunan kehidupan bangsa Indonesia yang besar dan multikultur,” papar pria yang juga anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Pasuruan itu. (tom/fun)

Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan selama menunaikan ibadah puasa. Termasuk ketika menanti kumandang azan Magrib. Sejumlah seniman lukis di Kota Pasuruan mengisinya dengan ngabuburit asik. Mereka mengajak siapapun yang tertarik untuk melukis on the spot.

——————

Puluhan muda-mudi duduk di halaman Klenteng Tjoe Tik Kiong. Ada yang bersila, sebagian lainnya duduk setengah berjongkok. Ada yang duduk berdampingan. Ada juga yang memisahkan diri dari yang lainnya.

TUNGGU MAGRIB: Sejumlah seniman melukis di depan Klenteng Tjoe Tik Kiong, Minggu (12/5) lalu. Aksi itu digelar sembari menunggu waktu berbuka puasa. (Istimewa)

Yang jelas, mereka yang terdiri mulai usia remaja hingga dewasa itu, sama-sama memegangi kanvas. Tangan kanan mereka memegang kuas yang mondar-mandir mencelupkan cat di palet lalu menumpahkannya ke kanvas.

Dihadapan kanvas kosong itulah, mereka menuangkan segala pikiran, juga imajinasinya. Namun tak jarang yang melukis dengan media kertas dan pensil. Melukis on the spot yang digagas sekumpulan pelukis yang tergabung dalam Komunitas Kuas Pati’s sendiri, sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Ngabuburit, dinilai menjadi momentum yang tepat untuk kegiatan tersebut.

Tak hanya menumpahkan pikiran dan imajinasi dalam karya, Kuas Pati’s juga ingin menggali bakat-bakat melukis bagi siapapun. Karena itu semua kebutuhan seperti kanvas, cat, kertas gambar, kuas, hingga pensil disediakan cuma-cuma.

“Peserta yang bergabung hanya membawa imajinasi untuk diekspresikan dalam karya mereka,” kata Figo Dimas Saputra, salah satu anggota Komunitas Kuas Pati’s.

Sama halnya dengan kegiatan pada bulan Ramadan sebelumnya, tahun ini juga digelar di tiga tempat berbeda. Selain di Klenteng Tjoe Tik Kiong yang dihelat Minggu (12/5) lalu, juga akan dilanjutkan di Alun-alun Bangil dan di Grati.

Klenteng Tjoe Tik Kiong, salah satu lokasi kegiatan itu konon dibangun sekitar abat 17 Masehi. Nuansa historis yang melekat pada tempat ibadah itu, tentu juga kian menggelorakan para peserta mengungkap imaji dalam karya dua dimensi.

Disamping itu, juga menghidupkan nilai-nilai kerukunan. Sebab, para peserta tak hanya melukis. Di lokasi itu, ketika azan Magrib berkumandang, mereka berbuka bersama. Lantas membagi-bagikan makanan untuk masyarakat sekitarnya.

Buah karya para peserta melukis on the spot, nanti akan dipamerkan setelah Hari Raya Idul Fitri. “Khusus di Grati sebagai penghujung kegiatan, akan diadakan mural. Jadi teman-teman diberi ruang untuk melukis dengan media tembok,” tambah Figo.

Kebanyakan peserta melukis on the spot, menggunakan medium kanvas. Mereka pun mengusung genre masing-masing dalam guratan kanvasnya. Hanya saja, panitia menentukan tema besarnya yakni Klenteng Tjoe Tik Kiong yang dinilai artistik.

“View utama memang Klenteng, lukisannya bebas diambil dari sudut mana saja,” katanya.

Nofi Sucipto, salah seorang peserta Ngabuburit Asik mengaku terkesan selama mengikuti kegiatan tersebut. “Kalau menggambar atau melukis dirumah atau dimana saja bagi kami, sudah biasa. Semacam makanan sehari-hari,” kelakarnya.

Menurut pelukis yang juga anggota Komunitas Bolo Kulon itu, melukis on the spot bukan sekadar ngabuburit. Melainkan juga ajang memperluas jaringan. “Kita bisa sharing, kumpul bersama. Berbagi ilmu atau pengalaman. Dan yang paling penting, menjaga silahturahmi,” ujarnya.

Ngabuburit itu juga mendapat respons positif dari keluarga besar Tionghoa di Klenteng tersebut. Hal itu diutarakan Rohaniwan Konghucu, Yudhi Dharma Santoso. “Tentu kami juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan teman-teman pelukis selama ngabuburit ini,” terang Yudhi.

Menurut dia, para pelukis yang mengekspresikan karyanya dalam guratan kuas itu tidak hanya menghasilkan keindahan. Akan tetapi juga bentuk upaya untuk terus memupuk toleransi antar umat beragama.

“Inilah nafas kerukunan kehidupan bangsa Indonesia yang besar dan multikultur,” papar pria yang juga anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Pasuruan itu. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/