Atap Sekolah Ambruk, Siswa SDN Gunggungan Lor Belajar di Tenda

Pascaambruknya atap SDN Gunggungan Lor, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, siswa sekolah itu kini belajar di tenda. Mereka belajar di tenda sembari menunggu rehab bangunan itu selesai.

MUKHAMAD ROSYIDI, Pakuniran, Radar Bromo

Sebanyak 27 siswa-siswi SDN Gunggungan Lor sedang belajar Kamis (9/1) pagi itu. Bukan belajar di kelas, melainkan di tenda.

Ya, sejak beberapa minggu terakhir, mereka memang belajar di tenda. Bukan hanya siswa kelas tertentu. Namun, siswa semua kelas belajar di tenda. Mulai siswa kelas 1 hingga kelas VI.

Tenda-tenda itu dibangun di halaman SDN Gunggungan Lor. Ada beberapa tenda yang dibangun. Setiap tenda, ada siswa dan gurunya. Selayaknya berada dalam ruang kelas di gedung.

Namun, suasana di tenda tidak senyaman belajar di ruangan, tentu saja. Di tenda, udara terasa panas dan lembap. Saat kondisi kering, debu beterbangan tertiup angin.

Eka, salah satu siswa kelas V saat ditemui mengatakan, dirinya merasa kepanasan belajar di tenda. Eka pun jadi sering berkeringat. Meskipun demikian, ia merasa nyaman saja. Sebab, tidak ada tempat lain untuk belajar.

“Gak apa-apa meski berkeringat karena panas dalam tenda. Yang penting selamat. Mau belajar dalam ruang kelas takut ambruk. Yang penting masih bisa belajar saja,” katanya.

Eka mengaku rela belajar di tempat yang sempit dan panas. Menurutnya, tidak penting tempatnya seperti apa. Yang terpenting adalah hasil dari belajarnya.

“Kalau saya yang penting bisa belajar. Sehingga, setiap hari saya bisa mendapatkan ilmu,” ungkapnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, kondisi panas memang seolah tidak dipedulikan siswa. Semua siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan riang gembira. Layaknya anak-anak, mereka tetap bercanda.

Bahkan, hampir tidak ada anak yang mengeluh ataupun merasa risih. Mereka semua sangat antusias belajar. Mereka tekun mengikuti setiap mata pelajaran yang diberikan oleh guru.

Namun, di balik itu semua, mereka semua berharap bisa kembali belajar di ruang jelas. Karena itu, mereka berharap sekolah segera direnovasi. Sebab, ruangan belajar paling nyaman bagi mereka adalah ruang kelas.

“Harapan kami bisa segera diperbaiki. Sehingga kami bisa sekolah dan belajar di kelas kami lagi,” tutur Eka.

Di sisi lain, kerusakan di SDN Gunggungan Lor terjadi mulai fondasi. Fondasi beberapa ruang kelas anjlok. Bahkan, ada tembok yang retak karenanya.

Sloof fondasi beberapa ruang kelas anjlok, sehingga temboknya banyak yang retak. Ruang kelas III ambruk. Jadi kami belum memiliki ruang kelas lain untuk belajar mengajar,” tutur Adri, kepala sekolah.

Pada ruang kelas III, eternit dan plafonnya ambruk setelah diterjang angin dan hujan beberapa hari lalu. Sedangkan, ruang kelas lainnya rusak dengan kondisi retak pada temboknya.

Upaya yang dilakukan pihak sekolah yaitu mendatangkan ahli bangunan. Selain itu, sekolah juga telah didatangi konsultan bangunan dari Pemprov Jatim.

Berdasarkan analisis mereka, ruang kelas yang retak itu sudah tidak layak dipakai lagi. Karena itu, siswa-siwi harus belajar di luar ruang kelas dulu.

“Bagaimanapun, kami tetap menunggu selesainya renovasi ruang kelas di SDN Gunggungan Lor ini. Belum tahu sampai kapan akan direnovasi. Terpaksa siswa masih harus belajar dalam tenda,” tambahnya. (hn)