alexametrics
24C
Probolinggo
Monday, 18 January 2021

Pot Bunga dari Rotan Kreasi Samuji Diekspor Hingga ke Belanda

Kreativitas dan keuletan Samuji, 48, menekuni pembuatan pot bunga dari rotan layak ditiru. Sempat nyaris menjual rumah untuk modal usaha, kini produksi pot bunga rotan buatannya bisa menembus pasar Belanda.

——————

RIBUAN pot bunga itu tersusun rapi di gudang produksi milik Samuji, 48. Susunannya disesuaikan dengan ukurannya. Maklum, pot-pot tersebut memiliki ukuran berbeda-beda. Ada yang berdiameter 18 cm, 20 cm hingga 70 cm.

Tampilan pot tersebut, memang berbeda. Tidak seperti pot pada umumnya yang terbuat dari plastik atau tanah liat. Pot kreasi Samuji dibuat khusus dari rotan.

“Pot-pot ini sudah siap kirim. Tinggal menunggu kurir perusahaan yang mengambil,” ungkap Samuji saat ditemui di gudang produksi samping rumahnya yang ada di Pekeboh, Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Sudah tiga tahun terakhir Samuji menekuni pembuatan pot bunga dari rotan. Awalnya, dia diajak rekannya membangun usaha pembuatan pot bunga dari rotan tersebut. Samuji pun tertarik dan menekuninya hingga saat ini.

Sebelumnya, ia memang pernah bekerja di industri rotan. Sejak 1987, ia bekerja sebagai buruh pabrik rotan yang memproduksi kursi dan meja.

Lalu pada tahun 1996, ia keluar dari pabrik rotan yang ada di Bangil itu. Ia kemudian bekerja sama dengan rekannya, memulai usaha mandiri. Sayangnya, usaha patungan itu tak berjalan mulus seperti yang diharapkan.

JATUH-BANGUN: Selama melakoni usahanya, Samuji nyaris menjual rumah untuk modal. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Ia lantas memutus kerja sama itu dan mendirikan usaha furniture dari rotan secara mandiri di rumahnya. “Saya membuka usaha sendiri itu tahun 1998. Modalnya utang. Tapi, tak lama usaha saya gulung tikar. Sebab, pabrik yang menerima barang sedang goncang,” kenang suami dari Latifa ini.

Sejak tahun 2000, ia pun bekerja serabutan. Mulai jadi tukang ojek, hingga buruh pabrik untuk pembuatan meja belajar di Pekoren, Kecamatan Rembang.

Sayang, petaka menimpanya pada 2016. Saat bekerja, tiga jarinya terkena gergaji mesin kayu. Hal itu membuatnya memilih untuk berhenti bekerja.

Sumaji pun nganggur di rumah. Di saat bersamaan, ada orang yang menawarinya kerja sama jual beli kayu jati. Keuntungan yang dijanjikan menggiurkan. Ia pun tertarik. Bermodal nekat, ia utang ke saudaranya Rp 27 juta untuk modal usaha.

Tapi, nasib belum berpihak kepadanya. Ia justru ditipu. Rekannya yang mengajak kerja sama lantas menghilang. Lenyap bersama uangnya yang ia pinjam dari kerabatnya. “Saya stres. Sudah kena musibah, malah ditipu orang,” kisahnya.

Untungnya, ia memiliki istri yang selalu memotivasinya. Samuji kembali berusaha bangkit dari keterpurukan. Ia pun membuka usaha barunya, yakni membuat pot bunga dari rotan.

Ia mulai merintis usaha itu tahun 2017 silam. Ketika itu, ada salah satu teman baiknya yang menawari bisnis tersebut. Sumaji sebenarnya tak memiliki banyak modal saat itu. Apalagi, dia masih memiliki utang kepada saudaranya.

“Saya nyaris menjual rumah untuk modal usaha dan membayar utang. Untungnya hal itu tidak sampai terjadi. Karena, kebaikan saudara saya yang memberi waktu untuk melunasi utang saya,” tambah bapak dua anak ini.

Ia pun kembali pinjam uang ke saudaranya untuk modal. Hanya Rp 100 ribu kala itu, untuk membeli paku. Karena rotan yang menjadi bahan baku produksi berasal dari perusahaan yang menampung produksinya.

Saat memulai usaha, ia merekrut tiga pekerja. Dalam sehari, ratusan pot bunga dari rotan mampu diproduksi. Samuji semakin semangat. Ketika usahanya itu tampak mulai lancar.

Pundi-pundi rupiah pun mulai mengalir. Hingga pada 2018, ia melakukan pengembangan usaha dengan meminjam modal. “Saya pinjam uang ke Bank. Tidak banyak sekitar Rp 5 juta untuk mengembangkan usaha,” ceritanya.

Usahanya itu tak sia-sia. Karena seiring berjalannya waktu, usahanya terus berkembang. Bahkan, saat ini dia memiliki 14 karyawan.

Dalam sepekan, mereka mampu memproduksi hingga 2 ribu pot bunga. Pot-pot bunga itu dibuat dengan cara menggulung kayu rotan agar lurus. Selanjutnya dilingkarkan pada cetakan. “Finishing-nya berupa pengecatan diselesaikan perusahaan di Ngoro, Sidoarjo,” bebernya.

Menurut lelaki kelahiran 3 Januari 1972 itu, harga pot bunga buatannya antara Rp 9 ribu hingga 69 ribu. Tergantung besar kecilnya ukuran. Barang-barang produksinya itu disetorkan ke perusahaan di Ngoro tersebut untuk kemudian diekspor ke Belanda.

Dari industri itu pula, ia mampu meraup omzet yang tak sedikit. Setidaknya, Rp 24 juta mampu diraupnya dalam sepekan. “Tentunya, itu omzet kotor. Belum termasuk pembelian bahan baku dari perusahaan hingga buruh karyawan,” tandasnya. (one/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU