alexametrics
25C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Ketika Warga Desa Randuputih Menggelar Petik Laut dan Karnaval

Tradisi petik laut dipertahankan warga Desa Randuputih, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (13/10). Tak hanya tradisi petik laut, untuk menambah semaraknya acara, juga digelar karnaval budaya. Kegiatan ini rencananya rutin dilakukan. Selain menjadi tradisi, juga akan dijadikan promosi wisata.

MUKHAMAD ROSYIDI, Dringu

Warga Desa Randuputih Sabtu (13/10) tumpek blek di pantai desa setempat. Mereka berkumpul untuk menggelar tradisi petik laut yang memang telah dilaksanakan turun temurun. Sebelum digelar petik laut, warga dihibur dengan gelaran karnaval keliling desa. Karnaval diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri dari masyarakat setempat.

BUDAYA: Karnaval budaya di Desa Randuputih. Selain tradisi, kegiatan tersebut juga menjadi ajang promosi wisata. (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Alam karnaval tersebut, ditampilkan berbagai macam kesenian dan juga kreativitas masyarakat. Ada yang menampilkan tari glipang, tari ronjengen, dan lain-lain. Bahkan ada pula yang mengambil tema tentang kerajaan tempo dulu. Sejumlah tokoh ikut menikmati sajian tradisi tersebut. Di antaranya anggota DPR-RI Hasan Aminuddin, anggota DPRD Provinsi Jatim Mahdi, dan tokoh lainnya.

Agus Lithanta, ketua panitia kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan ini sebagai wujud kecerdasan spiritual warga. Yang mana mereka mengetahui kepada siapa harus meminta petunjuk dan kepada siapa harus meminta pertolongan.

“Jadi petik laut ini adalah wujud kecerdasan spiritual dari pada warga. Yang mana mereka mengetahui kepada siapa harus meminta petunjuk dan kepada siapa harus meminta pertolongan. Yaitu kepada Allah SWT,” ujarnya. Tujuannya untuk mengucapkan rasa syukur pada sang pencipta.

“Jadi disamping melakukan doa, ngaji hataman Alquran, dan lain sebagainya. Syukur juga dilakukan dengan upacara ini. Sehingga ada rasa memiliki dan rasa mencintai alam. Sehingga, mereka nanti akan menjaga dan melestarikan laut ini seterusnya,” terangnya.

Setelah pawai budaya atau karnaval itu selesai, barulah acara inti dimulai. Yakni di tepi pantai sudah ada replica perahu. Yang mana didalam perahu itu sudah ada berbagai macam isinya. Mulai dari hasil bumi hingga juga peralatan dapur ada. Tidak lupa di bagian depan perahu sudah ada kepala sapi yang hendak dilarung nantinya ketengah laut.

Sebelum larung dimulai, tokoh masyarakat setempat membacakan doa terlbih dahulu. Tidak lama setelah doa dibaca, petugas yang sedari tadi berada disamping perahu langsung mengangkatnya. Perahu itu diangkat kurang lebih oleh 8 orang. Mereka mengangkat perahu tersebut kebibir pantai. Setelah sampai baru bersama warga lain melakukan perjalanan ketengah laut untuk melarrung.

“Selain sebagai ungkapan rasa syukur, kegiatan ini juga untuk berdoa. Yaitu berdoa agar yang maha kuasa semakin memberikan rejeki yang banyak bagi warga. Dan khusus masyarakat keseluruhan, semoga dijaga dan dijauhkan dari balak atau bencana,” jelas Agus.

Ke depan, rencananya Desa Randuputih akan dijadikan desa wisata. Melalui tradisi petik laut hingga keseniannya akan menjadi daya tarik datang ke panitia. Diharapkan banyak wisatawan yang akan datang. Selain itu, pihak pemerintah desa juga telah menyulap desanya dengan berbagai warna.

“Kami ke depan akan berupaya untuk menjadi desa wisata. Tahun ini sudah dimulai dengan mengecat berbagai rumah warga. Kami harapkan bisa mengalahkan Jodipan Malang. Untuk di Malang kan kampung warna warni dan untuk di Randuputih adalah kampung pelangi,” jelasnya. (rf)

MOST READ

BERITA TERBARU