alexametrics
25 C
Probolinggo
Saturday, 13 August 2022

Pedagang Seragam yang Penjualannya Anjlok saat Tahun Ajaran Baru

Wabah yang belum berakhir juga mempengaruhi penjualan seragam sekolah. Beberapa pedagang di pasar Probolinggo-Pasuruan, yang biasanya panen saat tahun ajaran baru, kini rezekinya berkurang. Mereka menyadari omzet menurun karena semuanya akibat pandemi.

—————

Jarum jam Sabtu (11/7) menunjukkan pukul 10.00. Pagi itu suasana pasar Gotong Royong di Kota Probolinggo, terlihat ramai. Tak terkecuali di stan baju seragam sekolah. Banyak orangtua dan anaknya, melihat-lihat etalase.

Ada yang sekadar bertanya ukuran, namun terlihat juga mengukur baju ataupun celana. Supaya pas untuk dikenakan anaknya. Mereka tengah berbelanja kebutuhan sekolah. Guna menyambut tahun ajaran baru. Tentu saja kedatangan para pembeli itu, disambut senyum semringah bagi pemilik lapak.

Betapa tidak, pedagang jelas bisa mendulang rupiah. Apalagi, sudah beberapa lama ini mereka sepi pemasukan. Jelas para pedagang mengandalkan momen tahun ajaran baru. Meskipun pagi itu pasar terlihat ramai, itu hanya karena menjelang tahun ajaran baru mau dimulai kurang dua hari lagi. Padahal jika momen seperti ini, keramaian biasanya terjadi, jauh-jauh hari.

Ya, omzet pedagang seragam sekolah di pasar Gotong Royong kini tengah lesu. Penjualan jauh merosot sampai 80 persen. Para pedagang menyebut, beberapa orangtua memutuskan tetap berbelanja seragam untuk persiapan jika pembukaan sekolah diadakan secara mendadak.

TERPENGARUH: Pedagang seragam bersama barang jualannya. Penerapan belajar di rumah membuat penjualan seragam turun. (Foto: Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Salah satu toko yang ramai didatangi warga yang berbelanja adalah toko milik Anshori, warga Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran. Pagi itu tokonya nampak ramai dengan pembeli. Rata-rata yang membeli adalah ibu-ibu yang berbelanja seragam untuk tahun ajaran baru.

Salah satu ibu yang sedang berbelanja seragam adalah Yamanah, 32, warga Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. “Ini cuma beli seragam merah putih saja. Memang sampai sekarang belum pasti masuknya kapan. Ini buat siap-siap saja,” ujarnya.

Yamanah mengajak serta putranya untuk membeli seragam. Dia mencoba kemeja dan celana panjang untuk putranya. Selain itu dia juga melengkapi dengan aksesoris lain seperti topi. “Untuk sepatu sudah beli, tinggal beli seragam. Ini seragam 1 dulu,” ujarnya.

Sementara itu Anshori, pedagang di Pasar Gotong Royong mengungkapkan, bahwa untuk sejak beberapa hari terakhir ini penjualan seragam cukup ramai. Terutama untuk seragam bagi siswa kelas 1 SD.

“Informasi yang saya dapat tanggal 13 (kemarin, Red) besok ini siswa kelas 1 sudah masuk. Makanya banyak yang beli seragam,” ujarnya.

Meskipun penjualan cukup rami, Anshori mengakui, jika dibandingkan tahun sebelumnya, penjualan seragam sekolah sebenarnya turun drastis. Anjloknya bahkan lebih dari 50 persen.

“Jauh sekali penjualan dari tahun lalu. Kalau tahun lalu hampir semuanya beli seragam, sekarang ndak hanya yang kelas 1 SD. Yang SMP pun dapat seragam gratis meskipun, menunggu 6 bulan. Sekarang anjlok 80 persen,” ujarnya.

Tidak hanya toko Anshori saja yang ramai dengan pembeli seragam sekolah, Toko milik Faizah,30, warga asal Kelurahan Jati, juga dikunjungi pembeli. Pagi itu tokonya bahkan terbilang cukup ramai. Tentu saja Faizah bersykur.

“Kalau untuk di kabupaten Probolinggo belum ada kepastian masuknya. Kalau di Kota tanggal 3 ini yang kelas 1 SD dan SMP masuk. Jadi yang beli seragam ini kebanyakan beli seragam untuk anak kelas 1 SD,” ujarnya.

Penjualan seragam ini bisa sampai 30 stel baju seragam dalam 1 hari. Jumlah tersebut masih terbilang kecil jika dibandingkan penjualan seragam saat tahun ajaran baru sebelumnya. Tahun lalu, dalam sehari, Faizah bisa menjual lebih darui 50 stel baju seragam bisa terjual.

“Kebanyakan yang beli itu untuk seragam kelas 1 SD, kelas 1 SMP. Kalau kelas 2 sampai kelas 6 atau kelas 2-3 SMP, biasanya pakai baju yang lama,” ujarnya.

Faizah mematok, harga baju seragamnya Rp 130 ribu per stel untuk seragam pramuka. Sedangkan untuk seragam merah putih, kisaran Rp 110 ribu sampai Rp 120 ribu.

“Kalau kondisi aktivitas belajar tatap muka dibuka normal, saya yakin bisa lebih banyak yang beli seragam. Mungkin yang sekarang beli seragam ini, buat jaga-jaga kalau sekolah tiba-tiba dibuka aktivitas kembali,” terangnya.

Sejatinya tak hanya penjual seragam sekolah saja yang penjualannya anjlok. Kebutuhan aksesoris sekolah seperti toko sepatu atau tas, kini juga tergerus. Tilik saja di sejumlah pusat pertokoan di Jalan Niaga atau Wahid Hasyim, Kota Pasuruan.

Saat tahun ajaran baru seperti sekarang, toko-toko di sepanjang jalan biasanya penuh akan orang. Rata-rata, pengunjung adalah orangtua yang hendak membelikan anak-anaknya.

“Tapi kini sepi, Mas. Sejak pagi saja, hanya segelintir orang yang datang. Itupun Cuma cari sandal, bukan sepatu,” terang Pramono, salah satu pramuniaga di sebuah toko sepatu yang ditemui koran ini.

Pram yang mengaku sempat terancam dirumahkan oleh juragannya itu mengaku, sudah hafal betul akan masyarakat Kota Pasuruan. Terlebih saat tahun ajaran baru seperti sekarang. Toko yang menjadi ladang tempat nafkahnya itu, acapkali panen saat tahun ajaran baru tiba. Pemilik tokonya sering memberikannya bonus.

“Tapi sejak pandemi, saya sudah nyaris dirumahkan. Pertama saat awal Ramadan lalu, dan menjelang Idul Fitri. Lha mau bagaimana, saat itu sempat ada pembatasan kan di sepanjang ini (Jalan Wahid Hasyim). Otomatis, toko sepi. Saya tahu kondisi juragan, karena pasti juga bingung memutar modal,” kata Pramono.

Untungnya, dia tidak jadi dirumahkan. Bahkan dia masih bisa membelikan sang anak baju hari raya, dari uang tunjangan hari raya, meski jumlahnya tidak sebanyak Lebaran tahun 2019 lalu. Sang juragan, kata Pramono, terlihat kasihan dengan dirinya. Pramono pun berjanji menebusnya, dengan bakal bekerja lebih giat, terlebih saat tahun ajaran baru tiba.

“Tapi ternyata, yang beli sepatu sepi. Bisa dihitung dengan jari. Mungkin orang-orang kini lebih memilih menabung atau membeli beras. Apalagi, sekolah kan belajar di rumah. Jadi, sepatu itu ada di urutan nomor 2 atau tiga setelah beli seragam dan buku tulis. Mungkin lho Mas, karena sayapun pasti akan melakukan hal serupa kalau punya uang,” katanya.

Sembari membersihkan lantai toko yang dijaganya, Pramono menyapa pegawai di toko sebelah tempatnya bekerja. Kebetulan pula toko di sebelahnya menjual peralatan sekolah, juga sedang sepi. Keduanya terlihat bercanda sembari memperhatikan bagian depan. Dan Pram pun semringah, saat ada pengunjung yang datang dan membeli 4 kaus kaki. (put/tom/fun)

Wabah yang belum berakhir juga mempengaruhi penjualan seragam sekolah. Beberapa pedagang di pasar Probolinggo-Pasuruan, yang biasanya panen saat tahun ajaran baru, kini rezekinya berkurang. Mereka menyadari omzet menurun karena semuanya akibat pandemi.

—————

Jarum jam Sabtu (11/7) menunjukkan pukul 10.00. Pagi itu suasana pasar Gotong Royong di Kota Probolinggo, terlihat ramai. Tak terkecuali di stan baju seragam sekolah. Banyak orangtua dan anaknya, melihat-lihat etalase.

Ada yang sekadar bertanya ukuran, namun terlihat juga mengukur baju ataupun celana. Supaya pas untuk dikenakan anaknya. Mereka tengah berbelanja kebutuhan sekolah. Guna menyambut tahun ajaran baru. Tentu saja kedatangan para pembeli itu, disambut senyum semringah bagi pemilik lapak.

Betapa tidak, pedagang jelas bisa mendulang rupiah. Apalagi, sudah beberapa lama ini mereka sepi pemasukan. Jelas para pedagang mengandalkan momen tahun ajaran baru. Meskipun pagi itu pasar terlihat ramai, itu hanya karena menjelang tahun ajaran baru mau dimulai kurang dua hari lagi. Padahal jika momen seperti ini, keramaian biasanya terjadi, jauh-jauh hari.

Ya, omzet pedagang seragam sekolah di pasar Gotong Royong kini tengah lesu. Penjualan jauh merosot sampai 80 persen. Para pedagang menyebut, beberapa orangtua memutuskan tetap berbelanja seragam untuk persiapan jika pembukaan sekolah diadakan secara mendadak.

TERPENGARUH: Pedagang seragam bersama barang jualannya. Penerapan belajar di rumah membuat penjualan seragam turun. (Foto: Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Salah satu toko yang ramai didatangi warga yang berbelanja adalah toko milik Anshori, warga Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran. Pagi itu tokonya nampak ramai dengan pembeli. Rata-rata yang membeli adalah ibu-ibu yang berbelanja seragam untuk tahun ajaran baru.

Salah satu ibu yang sedang berbelanja seragam adalah Yamanah, 32, warga Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. “Ini cuma beli seragam merah putih saja. Memang sampai sekarang belum pasti masuknya kapan. Ini buat siap-siap saja,” ujarnya.

Yamanah mengajak serta putranya untuk membeli seragam. Dia mencoba kemeja dan celana panjang untuk putranya. Selain itu dia juga melengkapi dengan aksesoris lain seperti topi. “Untuk sepatu sudah beli, tinggal beli seragam. Ini seragam 1 dulu,” ujarnya.

Sementara itu Anshori, pedagang di Pasar Gotong Royong mengungkapkan, bahwa untuk sejak beberapa hari terakhir ini penjualan seragam cukup ramai. Terutama untuk seragam bagi siswa kelas 1 SD.

“Informasi yang saya dapat tanggal 13 (kemarin, Red) besok ini siswa kelas 1 sudah masuk. Makanya banyak yang beli seragam,” ujarnya.

Meskipun penjualan cukup rami, Anshori mengakui, jika dibandingkan tahun sebelumnya, penjualan seragam sekolah sebenarnya turun drastis. Anjloknya bahkan lebih dari 50 persen.

“Jauh sekali penjualan dari tahun lalu. Kalau tahun lalu hampir semuanya beli seragam, sekarang ndak hanya yang kelas 1 SD. Yang SMP pun dapat seragam gratis meskipun, menunggu 6 bulan. Sekarang anjlok 80 persen,” ujarnya.

Tidak hanya toko Anshori saja yang ramai dengan pembeli seragam sekolah, Toko milik Faizah,30, warga asal Kelurahan Jati, juga dikunjungi pembeli. Pagi itu tokonya bahkan terbilang cukup ramai. Tentu saja Faizah bersykur.

“Kalau untuk di kabupaten Probolinggo belum ada kepastian masuknya. Kalau di Kota tanggal 3 ini yang kelas 1 SD dan SMP masuk. Jadi yang beli seragam ini kebanyakan beli seragam untuk anak kelas 1 SD,” ujarnya.

Penjualan seragam ini bisa sampai 30 stel baju seragam dalam 1 hari. Jumlah tersebut masih terbilang kecil jika dibandingkan penjualan seragam saat tahun ajaran baru sebelumnya. Tahun lalu, dalam sehari, Faizah bisa menjual lebih darui 50 stel baju seragam bisa terjual.

“Kebanyakan yang beli itu untuk seragam kelas 1 SD, kelas 1 SMP. Kalau kelas 2 sampai kelas 6 atau kelas 2-3 SMP, biasanya pakai baju yang lama,” ujarnya.

Faizah mematok, harga baju seragamnya Rp 130 ribu per stel untuk seragam pramuka. Sedangkan untuk seragam merah putih, kisaran Rp 110 ribu sampai Rp 120 ribu.

“Kalau kondisi aktivitas belajar tatap muka dibuka normal, saya yakin bisa lebih banyak yang beli seragam. Mungkin yang sekarang beli seragam ini, buat jaga-jaga kalau sekolah tiba-tiba dibuka aktivitas kembali,” terangnya.

Sejatinya tak hanya penjual seragam sekolah saja yang penjualannya anjlok. Kebutuhan aksesoris sekolah seperti toko sepatu atau tas, kini juga tergerus. Tilik saja di sejumlah pusat pertokoan di Jalan Niaga atau Wahid Hasyim, Kota Pasuruan.

Saat tahun ajaran baru seperti sekarang, toko-toko di sepanjang jalan biasanya penuh akan orang. Rata-rata, pengunjung adalah orangtua yang hendak membelikan anak-anaknya.

“Tapi kini sepi, Mas. Sejak pagi saja, hanya segelintir orang yang datang. Itupun Cuma cari sandal, bukan sepatu,” terang Pramono, salah satu pramuniaga di sebuah toko sepatu yang ditemui koran ini.

Pram yang mengaku sempat terancam dirumahkan oleh juragannya itu mengaku, sudah hafal betul akan masyarakat Kota Pasuruan. Terlebih saat tahun ajaran baru seperti sekarang. Toko yang menjadi ladang tempat nafkahnya itu, acapkali panen saat tahun ajaran baru tiba. Pemilik tokonya sering memberikannya bonus.

“Tapi sejak pandemi, saya sudah nyaris dirumahkan. Pertama saat awal Ramadan lalu, dan menjelang Idul Fitri. Lha mau bagaimana, saat itu sempat ada pembatasan kan di sepanjang ini (Jalan Wahid Hasyim). Otomatis, toko sepi. Saya tahu kondisi juragan, karena pasti juga bingung memutar modal,” kata Pramono.

Untungnya, dia tidak jadi dirumahkan. Bahkan dia masih bisa membelikan sang anak baju hari raya, dari uang tunjangan hari raya, meski jumlahnya tidak sebanyak Lebaran tahun 2019 lalu. Sang juragan, kata Pramono, terlihat kasihan dengan dirinya. Pramono pun berjanji menebusnya, dengan bakal bekerja lebih giat, terlebih saat tahun ajaran baru tiba.

“Tapi ternyata, yang beli sepatu sepi. Bisa dihitung dengan jari. Mungkin orang-orang kini lebih memilih menabung atau membeli beras. Apalagi, sekolah kan belajar di rumah. Jadi, sepatu itu ada di urutan nomor 2 atau tiga setelah beli seragam dan buku tulis. Mungkin lho Mas, karena sayapun pasti akan melakukan hal serupa kalau punya uang,” katanya.

Sembari membersihkan lantai toko yang dijaganya, Pramono menyapa pegawai di toko sebelah tempatnya bekerja. Kebetulan pula toko di sebelahnya menjual peralatan sekolah, juga sedang sepi. Keduanya terlihat bercanda sembari memperhatikan bagian depan. Dan Pram pun semringah, saat ada pengunjung yang datang dan membeli 4 kaus kaki. (put/tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/