alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Gus Adib, Tanamkan Cara Berdakwah Melalui Tulisan

LAHIR sebagai putra pengasuh pesantren, Gus Adib Ali Rahbini, disiapkan menjadi penerus pesantren. Karenanya, pengetahuannya terus digembleng. Bahkan, sampai menempa pendidikan di Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

“Orang tua saya tidak mewariskan pabrik, melainkan tanggung jawab urusan pendidikan.”

Kalimat ini disampaikan Gus Adib Ali Rahbini. Salah seorang putra pendiri Pesantren Sirojul Ummah, Desa Kertosono, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Almarhum K.H. Ali Rahbini. Kini, Gus Adib merasakan betul, bagaimana harus berupaya tetap melestarikan warisan orang tuanya.

Gus Adib baru pulang dari Mesir. Di sana ia menyelesaikan pendidikan strata satu. Setelah enam tahun di Mesir, sejatinya masih ingin terus memompa pengetahuannya, sebelum terjun langsung di pesantren peninggalan orang tuanya.

Namun, keinginan menyelesaikan studi strata dua di Mesir, harus ditunda. “Saya kecelakaan waktu itu di Mesir. Akhirnya, saya putuskan balik ke Indonesia,” ujarnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Bromo di kediamannya di Pesantren Sirojul Ummah.

Ia mengaku dari awal memang berkeinginan mengembangkan Pesantren Sirojul Ummah. Karena itu, sejak pulang dari Mesir pada 2021, langsung berkecimpung membantu mengajar. Pesantrennya memiliki sejumlah lembaga pendidikan. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), Madrasaih Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Alhamdulillah, keluarga kompak dan berperan sesuai kesanggupannya. Yayasan diketuai kakak saya (Ning Hj Hakimah Ali Rahbini) dan pesantren diasuh suaminya, K.H Jamaluddin Husein. Saya membantu di Biro Pendidikan,” jelasnya.

LAHIR sebagai putra pengasuh pesantren, Gus Adib Ali Rahbini, disiapkan menjadi penerus pesantren. Karenanya, pengetahuannya terus digembleng. Bahkan, sampai menempa pendidikan di Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

“Orang tua saya tidak mewariskan pabrik, melainkan tanggung jawab urusan pendidikan.”

Kalimat ini disampaikan Gus Adib Ali Rahbini. Salah seorang putra pendiri Pesantren Sirojul Ummah, Desa Kertosono, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Almarhum K.H. Ali Rahbini. Kini, Gus Adib merasakan betul, bagaimana harus berupaya tetap melestarikan warisan orang tuanya.

Gus Adib baru pulang dari Mesir. Di sana ia menyelesaikan pendidikan strata satu. Setelah enam tahun di Mesir, sejatinya masih ingin terus memompa pengetahuannya, sebelum terjun langsung di pesantren peninggalan orang tuanya.

Namun, keinginan menyelesaikan studi strata dua di Mesir, harus ditunda. “Saya kecelakaan waktu itu di Mesir. Akhirnya, saya putuskan balik ke Indonesia,” ujarnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Bromo di kediamannya di Pesantren Sirojul Ummah.

Ia mengaku dari awal memang berkeinginan mengembangkan Pesantren Sirojul Ummah. Karena itu, sejak pulang dari Mesir pada 2021, langsung berkecimpung membantu mengajar. Pesantrennya memiliki sejumlah lembaga pendidikan. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), Madrasaih Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Alhamdulillah, keluarga kompak dan berperan sesuai kesanggupannya. Yayasan diketuai kakak saya (Ning Hj Hakimah Ali Rahbini) dan pesantren diasuh suaminya, K.H Jamaluddin Husein. Saya membantu di Biro Pendidikan,” jelasnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/