Sidi Asmadi, Mantri Hewan Peraih Juara Nasional Petugas Pemeriksa Kebuntingan Sapi

Pekerjaan mantri hewan memang bukan pekerjaan mudah. Selain rutin melakukan sosialisasi dan menjaga hubungan dengan peternak, mantri harus siap 24 jam untuk membantu sapi yang akan melahirkan atau birahi.

————–

Dandannya rapi, sama dengan PNS lainnya. Dengan seragam batik hijau yang rutin dipakai setiap Kamis, Sidi Asmadi, 42, tak canggung memeriksa sapi-sapi peternak. Bahkan dengan sarung tangan, tangannya hampir separohnya masuk ke alat kelamin sapi betina.

Pekerjaan Sidi memang tidak biasa. Sebagai mantri hewan, dia harus lebih dekat dengan peternak. Namun, juga harus rela dipanggil 24 jam.

“Kalau malam ada yang manggil karena sapinya birahi atau melahirkan, saya ya harus siap. Ini karena tugas saya membantu semua kegiatan peternakan termasuk saat lahir agar selamat,” cerita warga Desa Pakijangan, Kecamatan Wonorejo ini.

Bapak tiga anak ini mengaku sudah lebih 20 tahun menjadi mantri hewan. Yaitu, sejak tahun 1999. Saat itu dirinya lulus dari sekolah peternakan di Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Bina Tani, Grati (setara SMK). Saat lulus itu, dia sudah menjadi Petugas Inseminasi Buatan (IB) swadaya.

“Waktu itu statusnya belum pegawai negeri. Saat kerja menjadi petugas IB saya juga lanjut kuliah di Universitas Tribhuana Tunggadewi Malang, jurusan Produksi Ternak. Sampai akhirnya lulus dan ditahun 2007 lulus tes PNS menjadi mantri hewan,” terangnya.

TERBAIK: Sidi Asmadi (2 dari kiri berbaju biru) bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat menerima penghargaan sebagai petugas pemeriksa kebuntingan sapi terbaik se-Indonesia, Desember 2019 lalu. (Foto: Dok. Pribadi)

Sidi mengatakan, memang menyukai dunia peternakan. Kendati pekerjaan dinilai “kotor” karena harus ke kandang sapi. Bahkan membantu sapi melahirkan. Apalagi saat melakukan suntik Inseminasi Buatan (IB). Tangannya harus masuk ke alat kelamin sapi betina hingga separonya.

Awalnya dulu sebagai pemula, Sidi mengaku butuh perjuangan saat harus memeriksa sapi dan menyuntik IB. “Dulu ditendang sudah biasa, pernah juga sampai terdorong jauh 2 meter. Untungnya waktu itu saya pakai helm. Sehingga saat ditendang ke belakang, saya masih tidak apa-apa,” terangnya tertawa kecil.

Semakin tahun, Sidi mengaku makin hafal dengan gerak-gerik sapi. “Jika Sapi ancang-ancang pakai kaki kanan, maka saya ancang-ancang ambil posisi kiri. Jadi kalau sekarang Alhamdullah sudah jarang ditendang lagi,” ungkapnya.

Sebagai mantri hewan di Wonorejo, Sidi harus siap dan memantau kurang lebih 8 ribu populasi sapi di wilayahnya. Bahkan, di HP-nya mayoritas adalah kontak dari para peternak.

“Dengan kemajuan teknologi juga, saat ini komunikasi dengan peternak memang lebih mudah. Mereka bisa langsung memberi informasi lewat HP. Bahkan, kalau ada sapi yang birahi atau melahirkan bisa sherlock (Share Location),” terangnya.

Saat tengah malam ada sapi yang melahirkan, dirinya harus datang. Ini lantaran kelahiran sapi menjadi salah satu keberhasilan populasi ternak, sehingga juga harus dijaga penanganannya agar selamat.

Pada 11 Desember 2019, Sidi Asmadi bahkan mendapatkan penghargaan sebagai juara pertama nasional Petugas Pemeriksa Kebuntingan dari Kementerian Pertanian. Penghargaan diberikan di Pasar Minggu, Jakarta oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Ternak I Ketut Diarmita.

Penghargaan ini memang bukan pertama kali. Dia tahun 2016, Sidi mendapatkan juara II Nasional sebagai Petugas Inseminasi Buatan (IB).

Untuk penghargaan tahun 2019, Sidi mengaku sempat tidak percaya. Namun, dirinya bersyukur karena jerih payahnya dihargai oleh pemerintah bahkan dari kementerian. “Sebenarnya juga tak percaya, tapi juga bersyukur bisa mendapatkan penghargaan dari kementerian,” ungkapnya.

Terkait penilaian, Sidi mengatakan setiap hari setiap mantri melaporkan hasil kinerjanya. Sidi sendiri setiap hari paling tidak memeriksa 15-20 ekor sapi.

Dia juga melakukan suntik IB pada sapi. Sedangkan untuk IB, rata-rata per bulan ada 450 ekor sapi yang disuntik. Untuk keberhasilan suntik IB, 70 persennya berhasil bunting dan 60 persennya berhasil lahir.

“Mungkin dilihat dari persentase keberhasilan bunting dan lahir yang membuat kinerja saya dinilai bagus dan dapat penghargaan,” terangnya.

Sidi memang memiliki trik agar sapi yang disuntik IB keberhasilannya bunting tinggi. Setelah sapi birahi di hari pertama, Sidi memperkirakan baru 2-3 hari berikutnya suntik IB dilakukan.

“Saya memperkirakan saat birahi terakhir itu, tingkat keberhasilan bunting bisa tinggi. Sehingga, memang secara persentase tingkat kebuntingan sapi area saya dinilai cukup tinggi,” terangnya.

Selain kedekatan dan rutin menjalin komunikasi dengan peternak, Sidi juga harus ikut membantu proses kelahiran. “Tengah malam pun saya harus datang kalau peternak menginforkan sapinya mau melahirkan. Bahkan, pernah setahun kecelakaan sampai tujuh kali karena ngebut ke tempat peternak. Tapi ya itu bagian dari risiko agar sapi dan anak sapi sama-sama lahir selamat,” ungkapnya. (eka/hn/fun)