alexametrics
25C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Harus Rajin Mandi Sampai 4 Kali Sehari dan Sering Minum “Ramuan”

Syaifudin Ahmad dan Kokoh Arie Hidayat kerap berada di lingkaran orang-orang yang rentan terpapar Covid-19. Kedua orang yang juga tergabung sebagai Koordinator Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19 harus mengubah perilaku dari sebelumnya.

———————–

CAIRAN minyak kayu putih, dioles-oleskannya pada selembar kapas. Ia kemudian menempatkan kapas tersebut pada bagian dalam masker warna hijau yang disiapkannya. Selanjutnya, masker berlapiskan kapas itu, ditempelkannya pada bagian hidung dan mulutnya.

Aktivitas itu rutin dilakukannya. Setiap hari, ketika beraktivitas di luar rumah. Tidak sekedar memasang masker pada bagian bawah wajah, begitu saja. Tetapi juga, menambahi lapisan masker dengan kapas yang sudah ditetesi minyak kayu putih yang senantiasa ia bawa.

“Kayu putih ini, untuk menangkal dan membunuh virus,” ungkap Syaifudin Ahmad, saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di kantornya, kemarin (13/1).

Syaifudin Ahmad atau lebih akrab disapa Ifud, merupakan Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Pasuruan. Selain menjabat Kepala Diskominfo, ia juga tercatat sebagai Koordinator Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan. Jabatan tersebut disandangnya sejak 29 September 2020, setelah adanya transformasi nama dari Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan.

Sebelumnya, ia merupakan jubir Gugus Tugas, sejak April 2020. Namun, sebutan jubir tersebut, telah ditransformasi menjadi komunikasi publik Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan.

“Tugas kami, senantiasa menginformasikan kebijakan dan update berkaitan dengan Covid-19 di Kabupaten Pasuruan, sesuai petunjuk Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan,” jelasnya.

Setiap harinya, ia dan timnya harus mempublis perkembangan angka terkait update data Covid-19 di Kabupaten Pasuruan. Selain itu, juga menginformasikan dan mensosialisasikan kebijakan pemerintah, baik Pusat ataupun Daerah, sesuai petunjuk dari Satgas Penanganan Covid-19. “Kami berkolaborasi dengan kepolisian dan TNI dalam menjalankan tugas,” sambung dia.

Dengan jabatannya itulah, tak jarang ia harus berinteraksi dengan orang-orang yang rentan terpapar Covid-19. Sehingga, ia pun harus membentengi diri, untuk tercegah dari paparan virus yang tak kasat mata ini.

Pola hidupnya pun berubah. Tidak asal, seperti sebelumnya. Tetapi, lebih menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya.

Salah satu perubahan perilaku tersebut, dengan lebih rajin mencuci tangan. Ia bisa berkali-kali mencuci tangannya, dalam sehari. Padahal, hal itu jarang dilakukannya, sebelum wabah korona melanda. “Setiap selesai pegang microphone, pintu toilet dan bersentuhan dengan yang lain, saya mencuci tangan dengan sabun,” ulasnya.

Begitupula ketika bepergian. Ketika usai berkunjung ke tempat-tempat rawan. Semisal Kantor Satgas di Bangil, ia senantiasa untuk menyempatkan mandi. Bahkan, dalam sehari, ia bisa empat kali mandi. “Kalau dulu, dua kali cukup. Tapi, sekarang, bisa tiga kali bahkan sampai empat kali dalam sehari,” beber suami dari Wiwin Yuniarti ini.

Pejabat yang tinggal di Perum Taman Asri, Tembokrejo, Kota Pasuruan tersebut, juga tak sembarangan masuk rumah, ketika habis bepergian. Setelah memastikan diri untuk mencuci tangan dan kaki, ia juga lekas mandi.

Kendaraan yang ia bawa pun, tak lupa dicuci. Kalaupun tidak sempat, ia semprot dengan disinfektan. Baik bagian luar ataupun dalamnya. “Saya lakukan sendiri. Agar benar-benar steril. Bukan hanya kendaraan, kamar tidur saat hendak kami tempati, senantiasa disemprot disinfektan. Hampir setiap malamnya,” urai Alumnus APDN Malang 1991 ini.

Hal yang sama juga dilakukan Kkoh Arie Hidayat. Sejak awal virus korona merebak di Kota Pasuruan, Kokoh Arie Hidayat menjadi juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan. Tentu saja, ia menjadi salah satu orang yang kerap dicari awak media. Kokoh menyadari, tugasnya itu memang membuatnya harus akrab dengan wartawan.

Pria berkacamata itu harus memastikan informasi mengenai penanganan Covid-19 tersampaikan dengan baik ke masyarakat. Kokoh tak sendirian. Ia berbagi tugas dengan Kepala Dinas Kesehatan, dr Shierly Marlena yang juga sebagai juru bicara Gugus Tugas Covid-19.

Selama ini, ia selalu berusaha menggali informasi yang diperlukan untuk konsumsi media. Tidak jarang, kebutuhan informasi yang sifatnya mendesak mengharuskannya bekerja ekstra. Bahkan melampaui jam kerja sebagaimana mestinya.

“Saya memahami kalau teman-teman wartawan perlu konfirmasi, bahkan ada yang malam-malam telepon juga pernah,” ungkap Kepala Dinas Kominfo dan Statistik itu.

Karena itu, telepon selulernya nyaris tak pernah dalam keadaan mati. Kecuali untuk penggunaan data internet selalu ia matikan sekitar pukul 22.00. “Tapi kalau telepon biasa, selalu aktif,” jelasnya.

Dia sama sekali tak merasa terganggu dengan hal itu. Sekalipun tak memiliki latar belakang pendidikan mengenai kesehatan, Kokoh juga mengakui harus cepat dalam memahami persoalan-persoalan terkait kesehatan. Khususnya soal Covid-19.

“Kalau yang sifatnya teknis dan saya nggak paham, sebisa mungkin saya koordinasikan dengan perangkat daerah yang menangani,” bebernya.

Menurutnya, ada satu kasus yang paling menguras energi dan pikiran selama menjadi juru bicara. Yaitu saat proses pemakaman almarhum Habib Hasan yang dihadiri ribuan pelayat. Di samping perlu koordinasi yang baik dengan seluruh stakeholder, mengingat dirinya juga sebagai Koordinator Kurasi dan Tracing, Kokoh juga harus menjawab seluruh pertanyaan media.

“Sedangkan waktu itu peristiwanya jam 3, saya belum memahami kondisi secara utuh dan ada wartawan yang butuh konfirmasi sebelum jam 4,” terang dia.

Alhasil, Kokoh harus bergerak cepat untuk mendapatkan informasi dari lapangan. Disisi lain, dia pun harus mengoordinasikan dengan stakeholder.

Selama menangani Covid-19, Ifud dan Kokoh harus merubah perilaku sebelumnya. Termasuk menjaga stamina, ataupun menerapkan pola hidup bersih.

Ifud misalnya, demi menjaga kekebalan tubuh, ia tak sekedar rajin mengkonsumsi vitamin serta probiotik. Ia juga membuat ramuan khusus yang selalu ditentngnya di dalam botol. Minuman yang berasal dari olahan jahe, laos, kunir, daun salam, sere, dan kayu manis plus ketumbar itu, menjadi temannya setiap hari.

“Memang di tengah pandemi Covid-19 ini, kami harus mengubah perilaku dan kebiasaan yang sebelumnya jarang dilakukan,” jelas bapak empat anak ini. (one/tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU