Inilah Kampung Sanitasi Hebat di Kelurahan Pekuncen yang Punya Produk Pot Bunga Berbahan Handuk Bekas

Pemandangan berbeda terlihat di sebuah kampung yang ada di Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Namanya, kampung Sanitasi Hebat. Berbagai jenis bunga menghiasai sepanjang gang. Pot yang digunakan terbuat dari handuk bekas.

—————

Untuk menuju ke kampung itu, melewati sebuah gang yang tak terlalu lebar. Tepat di seberang Puskesmas Kandangsapi atau di Jalan WR Supratman. Lebarnya mungkin sekitar 2 meter.

Sebuah plakat bertuliskan Kampung Sanitasi Hebat terpampang di ujung gang menuju kampung RT 01/RW 05. Nama itu merupakan kepanjangan dari untaian kalimat yang menyerupai slogan. Satukan seni berantas sifat individu harapkan lingkungan bersih dan sehat.

Dari kejauhan, corak cerah berseri mulai terlihat. Jalan paving dipoles dengan beragam warna. Sisi kanan kirinya, diapit tembok-tembok rumah warga. Berbagai lukisan pemandangan alam menghiasinya.

Lukisan itu merupakan buah karya Bukhori, warga setempat. Tembok-tembok itu tidak hanya dilukis. Segala jenis bunga juga tertempel. Berkembang di dalam pot yang terbuat dari bekas botol air mineral dan oli. Semuanya dipoles dengan warna cerah.

Di sepanjang pot-pot bunga yang tertempel itu juga terdapat saluran pipa kecil. Dipasang sekitar sepuluh sentimeter di atas pot bunga yang berjajar. Ada slang dengan ukuran yang lebih kecil. Pipa itu tersalur dengan tandon air yang jaraknya sekitar dua puluh meter dari ujung gang.

Warga biasanya mengalirkan air di saluran pipa itu. Air mengalir ke pot-pot bunga di sepanjang gang itu. Setiap pagi, air dibiarkan menyirami bunga sekitar satu jam. Kecuali di musim hujan seperti saat ini. Bunga yang ada sudah berkembang dengan siraman air hujan.

TANPA PLASTIK: Pot seperti ini adalah salah satu dari bagian kampung setempat untuk menjaga kebersihan lingkungan. (Foto M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

“Kalau musim hujan seperti ini tidak setiap hari dialirkan,” kata Amin Hidayat, seorang warga.

Sesampainya di salah satu sudut, terdapat sebuah banner terpasang di tembok. Isinya berupa tulisan. Nadanya seolah menjadi narasi yang disuarakan tumbuhan di sekitarnya. “Sedekah puntung rokokmu membuat diriku tumbuh hijau.”

Ya, selain pot bunga. Tembok-tembok itu juga ditempeli bekas kaleng rokok. Itu juga disediakan warga khusus untuk membuang puntung rokok. Sisa tembakau kemudian dikumpulkan. Dicampur dengan air.

Endapan sisa tembakau itu digunakan untuk mengusir hama cabuk putih. Caranya dengan disemprotkan menggunakan spray. Biasanya, hama itu kerap menyerang tanaman terong.

Tak hanya itu, hampir semua rumah warga juga dihiasi dengan bunga. Pot yang digunakan kebanyakan berbentuk tidak presisi. Pot-pot itu memang tak dibeli warga sebagaimana yang kerap dijual di toko kembang.

Melainkan pot yang memang dibuat warga secara swadaya. Bahan yang digunakan kali ini bukan bekas botol air mineral ataupun oli, tetapi handuk. Lantas bagaimana warga membuatnya hingga menjadi pot bunga?

“Dicelupkan dalam semen yang sudah dicampur air dan lem,” jawab Turmudzi, ketua RW setempat.

Beberapa bulan yang lalu, Turmudzi mengerahkan warganya untuk membuat pot semacam itu. Di kampung itu, tercatat ada 60 KK. Seluruh warga diminta mengumpulkan handuk bekas yang sudah tak terpakai.

Semuanya dikumpulkan di halaman Bank Sampah yang ada di kampung itu. Puluhan lembar handuk bekas itu dipotong sesuai dengan ukuran pot yang akan dibuat. Lantas dicelupkan dalam cairan semen yang bercampur air dan lem. “Supaya mengeras, sehingga mudah dibentuk,” tutur Turmudzi.

Selanjutnya, handuk itu ditelungkupkan dalam cetakan pot. Sebagian sisi handuk dipelintir, lalu dijemur agar lekas kering. Prosesnya memakan waktu sekitar dua hari. Pot yang berhasil dibuat jumlahnya sekitar lima puluh. Bentuknya beragam. Ada yang kecil, tanggung, dan besar.

Setelah kering, pot sebenarnya siap digunakan. Namun, tampilannya masih kasar. Tugas M Bukhori yang mempercantiknya. Polesan cat tak hanya satu warna. “Ada warna dasar, misalnya biru, merah, dan hijau. Kemudian dilapisi dengan bercak-bercak warna yang lebih cerah agar lebih menarik,” ujar Bukhori.

Ia juga berkreasi lebih. Sebagian pot tidak hanya dipajang begitu saja. Melainkan dibuatkan penyangga. Bentuk penyangganya juga tak sembarangan. “Menggunakan gipsum yang dicetak dengan sarung tangan karet,” sambung Amin Hidayat. Hasilnya, sebagian pot itu terlihat sedang dipegang tangan.

Meski begitu, warga setempat kerap mengeluh. Betapa tidak, kampungnya yang sudah indah itu kerap menjadi sasaran tangan jahil. “Biasanya ada kembang yang dicabut dari pot. Yang jelas bukan ulah warga sini,” tukas Turmudzi. (tom/fun)