Nih Dia, Santri Ponpes Dalwa Peraih Juara Tahfidz Alquran Nasional

BANGGA: Ahmad Syauqi peraih juara I Tahfidz Alquran kategori SMA sederajat bersama Ustad M. Junaidi, penanggung jawab prestasi santri Ponpes Dalwa. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Prestasi gemilang berhasil diraih Ahmad Syauqi, 16, santri Madrasah Aliyah Ponpes Darullughoh Wadda’wah (Dalwa). Ia berhasil menjadi juara pertama dalam ajang lomba Tahfidz Alquran tingkat SMA sederajat di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

IWAN ANDRIK, Bangil

Sebuah piala ditentengnya dengan bangga. Kalimat juara pertama atas kejuaraan Tahfidz Alquran tertulis pada pelat piala tersebut. Senyumnya mengembang, ketika dirinya ditanya soal prestasi yang telah didapatkan. Remaja bernama Ahmad Syauqi itu, lantas menceritakan perjalanannya meraih juara.

“Saya berhasil meraih juara pertama dalam ajang Fakultas Agama Islam got Talent untuk kategori lomba Tahfidz Alquran,” kata pria yang akrab disapa Ahmad itu, saat ditemui di Ponpes Dalwa Raci, Kecamatan Bangil.

Ahmad menceritakan, kejuaraan itu baru diketahuinya dua minggu sebelum adanya kompetisi. Ia baru mengetahui setelah mendapat penunjukan dari pihak sekolah. Ahmad dipercaya untuk mewakili sekolah lantaran sudah hafal 10 juz. Saat itu, ia tidak sendirian. Karena ada dua rekannya yang juga mewakili sekolah. Sayangnya, keduanya gagal masuk tiga besar.

“Memang saya ditunjuk. Sebelum perlombaan itu saya meningkatkan hafalan untuk bekal kejuaraan,” ujar putra dari pasangan Syahrudin dan Nursyamsiah itu. Ketika hari H tiba, ia benar-benar dibuat gugup. Meski sudah pernah mengikuti lomba yang sama, namun rasa gugup itu tak bisa dihilangkan begitu saja dari benaknya. Apalagi melihat pesaingnya yang memiliki kemampuan tinggi.

Ia semakin dibuat grogi, hingga bolak-balik pergi ke kamar mandi. “Memang beberapa kali pernah ikut lomba. Tapi, skalanya baru tingkat daerah bukan nasional seperti yang baru saya ikuti. Jadi, saking groginya, saya sempat beberapa kali ke kamar mandi untuk buang air kecil,” kata pelajar kelas 2 MA Dalwa tersebut.

Menurut Ahmad, ada 60 peserta yang ikut unjuk kemampuan dalam kejuaraan tersebut. Mereka berasal dari MA sederajat di seluruh Indonesia. Kemampuan mereka pun tidak boleh dipandang sebelah mata. Lomba tahfidz tersebut digelar dua babak. Babak penyisihan dan diteruskan babak final. “Hanya diambil 6 orang dari 60 peserta,” sampainya.

Sistem yang digunakan adalah sambung ayat. Juri membacakan sebuah ayat kemudian dilanjutkan oleh peserta hingga delapan baris. Dalam babak penyisihan itu, tiga kali pertanyaan atau sambung surat dilakukan. Kalau salah dalam bacaan, akan diperingatkan. Hingga tiga kali. Kalau tidak bisa menjawab, akan dinyatakan gugur.

“Alhamdulillah, saya tidak ada yang salah. Saya pun lanjut ke final,” imbuh remaja asal Jembaran, Bali, tersebut. Nah, di final pertanyaan yang diajukan lebih sulit. Karena juri mengambil ayat-ayat terakhir. Sehingga, untuk menyambungkan ke surat yang lain, agak susah dari babak penyisihan.

Apalagi, tidak hanya delapan baris seperti sebelumnya. Melainkan satu halaman. Dengan jumlah pertanyaan atau sambungan sebanyak tiga kali. Namun, rasa grogi yang menyelimutinya, mampu dihalaunya. Ayat-ayat Alquran yang menjadi pertanyaannya, mampu dituntaskan dengan baik. Satu per satu peserta melakukan hal yang hampir sama. Hingga akhirnya, hasilnya pun diumumkan.

Jantungnya pun semakin berdebar ketika juri mengumumkan hasilnya. Seolah tak percaya, namanya ternyata bertengger di urutan pertama. Bangga sekaligus haru, menyelimuti perasaannya. Ustad yang membinanya, Saifur Rizal langsung memeluknya. “Saya hampir tak percaya bisa menang. Karena saingan saya sangat berat. Begitu nama saya diumumkan, saya langsung dipeluk Pak Ustad,” tuturnya.

Ahmad mengaku, prestasi tersebut menjadi pemacu untuk lebih semangat menghafal Alquran. Ia mengaku baru mampu menghafal 10 juz. Namun, ia menargetkan tiga tahun lagi bisa 30 juz.

Remaja kelahiran 29 Juli 2002 itu mulai menghafal Alquran sejak kelas tiga SD. Mulanya, hanya satu juz yang dihafalnya. Hingga kelas lima, ia mampu menghafal delapan juz. Namun, kesibukan sekolah, membuatnya vakum untuk terus menghafal kalam Ilahi. Hingga ia masuk MA di Dalwa dua tahun yang lalu. Ada perasaan sayang untuk melupakan Alquran yang sempat dihafalnya.

Ia pun kembali menghafal Alquran. Hingga saat ini, sudah 10 juz yang mampu dihafalnya. “Eman-eman, karena saya sebelumnya sudah hafal 8 juz. Makanya, saya hafalin lagi hingga sekarang sudah 10 juz,” jelasnya.

Ahmad memiliki trik untuk bisa menghafal Alquran. Kebetulan, ia didukung oleh guru pembinanya. Caranya, dengan menyetor hafalan Alquran setiap hari satu halaman. Untuk mengingat ayat-ayat yang sudah hafal, ia selalu melafalkan setiap hari. “Subuh 1 juz dan Duhur 1 juz. Setiap hari seperti itu. Sementara untuk mengafal halaman baru, saya lakukan setelah Duhur dan setelah Asar,” sambungnya.

Agar disiplin, pembinanya memang memberikan sanksi bila dirinya tidak setor hafalan. “Kalau tidak hafal, saya dihukum berdiri mulai Duhur sampai Asar di pojok musala. Hukuman itu, menjadi pelecut saya untuk terus menghafal,” katanya bangga. (rf/mie)