alexametrics
26.4 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Cerita Pedagang Lantai 2 Pasar Besar Pasuruan Bertahan meski Sepi

Pasar selalu identik dengan keramaian, tempat bertemunya penjual dan pembeli. Namun, ternyata tidak semua pasar ramai. Sejumlah pedagang di kios lantai dua Pasar Besar Kota Pasuruan harus membiasakan diri dengan sepinya pembeli.

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo

BEBERAPA anak pedagang bermain layang-layang di atas gedung bertingkat yang lapang. Hari sedang terik-teriknya. Waktu sudah mendekati duhur. Masih juga tak terlihat orang yang menaiki tangga, menuju kios-kios yang sedari pagi memajang berbagai jenis pakaian di lantai dua Pasar Besar Kota Pasuruan. Sebagian besar kios tutup. Yang terbuka hanya segelintir. Bisa dihitung dengan jari.

Anisah masih merebahkan tubuhnya di atas bangku panjang. Sementara Fatimah sudah bersiap-siap pulang. Dia kembali merapikan dagangan untuk disimpan di kios.

Umar lebih dulu menyapu lantai sebelum meninggalkan kiosnya. Ketiganya berjualan sejak pagi. Namun, hingga siang, mereka tak mendapat seorang pun pembeli. “Ya, memang begini kondisinya. Hampir setiap hari sepi,” kata Umar yang masih mengayunkan gagang sapu.

Kakek asal Mandaranrejo, Kecamatan Panggungrejo, itu mengaku sudah lama berjualan. Sejak muda, Umar memang menggeluti dunia perdagangan.

Saat masih muda, dia bahkan berjualan di kota besar seperti Surabaya. Baru setelah usianya cukup matang, Umar memilih berjualan dekat dengan rumah. Yakni, di Pasar Besar Kota Pasuruan.

Dia tak ingat pasti sudah berapa tahun dia berjualan. “Pokoknya ya sudah lama sekali. Lha wong mulai saya masih belajar (sekolah) itu sudah jualan. Puluhan tahun,” ungkap Umar.

Hampir setiap hari, Umar menunggu kiosnya ditemani sang istri. Bertahun-tahun mereka merawat optimisme untuk tetap berjualan. Meski penjualannya tak seramai dulu.

“Ramainya itu cuma pas bulan puasa. Kalau sekarang sepi. Ditambah lagi keadaan korona begini, tambah parah. Mungkin orang takut mau ke pasar,” bebernya.

Yang dirasakan Anisah, tidak lebih baik. Dia bahkan jarang membuka lapak. Lebih sering membiarkan lapaknya tutup. “Percuma (buka), tidak laku,” katanya. Kalaupun buka, lanjut Anisah, mungkin hanya dua kali dalam sepekan. Itu pun kalau dia sedang ada perlu ke pasar untuk berbelanja kebutuhan bahan pokok.

“Kadang sepekan cuma satu kali buka, sekalian belanja,” tuturnya.

Sampai sekarang, masih banyak sisa dagangannya yang dikulak sebelum Lebaran lalu. Dia tetap berharap dagangannya bisa laku terjual. Meski harus diakui itu akan sangat lama.

Sebab, pasarnya sepi. Mau banting harga juga tidak akan lebih baik. Yang ada dia malah rugi modal. “Kalau beberapa tahun lalu masih ramai,” kata perempuan yang sudah 30 tahun menempati kiosnya di Pasar Besar itu.

Dia berusaha tetap menerima sepinya pembeli di pasar. Yang namanya berdagang, kata Anisah, memang susah ditebak. Kadang-kadang laris. Namun, lebih sering sepi tak dapat pembeli. “Ya harus menerima, namanya belum diberi,” akunya.

Fatimah menambahkan, tidak sedikit pedagang yang sampai harus berhenti jualan akibat kondisi lantai 2 Pasar Besar yang sepi. Satu demi satu di antara mereka mengosongkan kiosnya, berangsur-angsur dalam beberapa tahun terakhir. “Banyak yang sudah berhenti jualan,” kata Fatimah dengan logat Madura.

Beberapa kios yang ada di deretan kiosnya, kata Fatimah, kini sudah banyak yang bangkrut. Karena penjualan sepi, akhirnya terlilit utang.

“Saya saja, minggu ini baru dua hari ini buka. Karena kemarin ada yang laku. Tapi, karena sekarang sepi, besok ya nggak buka. Mungkin hari Minggu nanti dibuka lagi biasanya ramai,” ujarnya.

Fatimah mengaku dirinya lebih sering berada di rumah. “Sampai orang-orang kadang ngomong, Umik itu diam di rumah terus. Lha mau ke pasar gak dapat hasil. Malah keluar ongkos. Kan becaknya saja Rp 10 ribu,” terang warga Mandaranrejo itu.

Meski sudah banyak pedagang yang berhenti jualan, Fatimah mengaku tak akan menutup kiosnya. “Selama masih sehat, tetap buka. Ini sudah pesan dari almarhum Abah (suami),” jelasnya.

Sebelum suaminya meninggal, kata Fatimah, pernah berpesan agar dirinya tetap melanjutkan berjualan pakaian. Apapun kondisinya. Berapapun hasilnya.

“Karena ini riwayat bagi saya dan Abah. Mulai melarat ya dapat uang dari sini. Mulai rumah ngontrak sampai punya rumah sendiri ya dari jualan ini,”ceritanya. (hn)

Pasar selalu identik dengan keramaian, tempat bertemunya penjual dan pembeli. Namun, ternyata tidak semua pasar ramai. Sejumlah pedagang di kios lantai dua Pasar Besar Kota Pasuruan harus membiasakan diri dengan sepinya pembeli.

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo

BEBERAPA anak pedagang bermain layang-layang di atas gedung bertingkat yang lapang. Hari sedang terik-teriknya. Waktu sudah mendekati duhur. Masih juga tak terlihat orang yang menaiki tangga, menuju kios-kios yang sedari pagi memajang berbagai jenis pakaian di lantai dua Pasar Besar Kota Pasuruan. Sebagian besar kios tutup. Yang terbuka hanya segelintir. Bisa dihitung dengan jari.

Anisah masih merebahkan tubuhnya di atas bangku panjang. Sementara Fatimah sudah bersiap-siap pulang. Dia kembali merapikan dagangan untuk disimpan di kios.

Umar lebih dulu menyapu lantai sebelum meninggalkan kiosnya. Ketiganya berjualan sejak pagi. Namun, hingga siang, mereka tak mendapat seorang pun pembeli. “Ya, memang begini kondisinya. Hampir setiap hari sepi,” kata Umar yang masih mengayunkan gagang sapu.

Kakek asal Mandaranrejo, Kecamatan Panggungrejo, itu mengaku sudah lama berjualan. Sejak muda, Umar memang menggeluti dunia perdagangan.

Saat masih muda, dia bahkan berjualan di kota besar seperti Surabaya. Baru setelah usianya cukup matang, Umar memilih berjualan dekat dengan rumah. Yakni, di Pasar Besar Kota Pasuruan.

Dia tak ingat pasti sudah berapa tahun dia berjualan. “Pokoknya ya sudah lama sekali. Lha wong mulai saya masih belajar (sekolah) itu sudah jualan. Puluhan tahun,” ungkap Umar.

Hampir setiap hari, Umar menunggu kiosnya ditemani sang istri. Bertahun-tahun mereka merawat optimisme untuk tetap berjualan. Meski penjualannya tak seramai dulu.

“Ramainya itu cuma pas bulan puasa. Kalau sekarang sepi. Ditambah lagi keadaan korona begini, tambah parah. Mungkin orang takut mau ke pasar,” bebernya.

Yang dirasakan Anisah, tidak lebih baik. Dia bahkan jarang membuka lapak. Lebih sering membiarkan lapaknya tutup. “Percuma (buka), tidak laku,” katanya. Kalaupun buka, lanjut Anisah, mungkin hanya dua kali dalam sepekan. Itu pun kalau dia sedang ada perlu ke pasar untuk berbelanja kebutuhan bahan pokok.

“Kadang sepekan cuma satu kali buka, sekalian belanja,” tuturnya.

Sampai sekarang, masih banyak sisa dagangannya yang dikulak sebelum Lebaran lalu. Dia tetap berharap dagangannya bisa laku terjual. Meski harus diakui itu akan sangat lama.

Sebab, pasarnya sepi. Mau banting harga juga tidak akan lebih baik. Yang ada dia malah rugi modal. “Kalau beberapa tahun lalu masih ramai,” kata perempuan yang sudah 30 tahun menempati kiosnya di Pasar Besar itu.

Dia berusaha tetap menerima sepinya pembeli di pasar. Yang namanya berdagang, kata Anisah, memang susah ditebak. Kadang-kadang laris. Namun, lebih sering sepi tak dapat pembeli. “Ya harus menerima, namanya belum diberi,” akunya.

Fatimah menambahkan, tidak sedikit pedagang yang sampai harus berhenti jualan akibat kondisi lantai 2 Pasar Besar yang sepi. Satu demi satu di antara mereka mengosongkan kiosnya, berangsur-angsur dalam beberapa tahun terakhir. “Banyak yang sudah berhenti jualan,” kata Fatimah dengan logat Madura.

Beberapa kios yang ada di deretan kiosnya, kata Fatimah, kini sudah banyak yang bangkrut. Karena penjualan sepi, akhirnya terlilit utang.

“Saya saja, minggu ini baru dua hari ini buka. Karena kemarin ada yang laku. Tapi, karena sekarang sepi, besok ya nggak buka. Mungkin hari Minggu nanti dibuka lagi biasanya ramai,” ujarnya.

Fatimah mengaku dirinya lebih sering berada di rumah. “Sampai orang-orang kadang ngomong, Umik itu diam di rumah terus. Lha mau ke pasar gak dapat hasil. Malah keluar ongkos. Kan becaknya saja Rp 10 ribu,” terang warga Mandaranrejo itu.

Meski sudah banyak pedagang yang berhenti jualan, Fatimah mengaku tak akan menutup kiosnya. “Selama masih sehat, tetap buka. Ini sudah pesan dari almarhum Abah (suami),” jelasnya.

Sebelum suaminya meninggal, kata Fatimah, pernah berpesan agar dirinya tetap melanjutkan berjualan pakaian. Apapun kondisinya. Berapapun hasilnya.

“Karena ini riwayat bagi saya dan Abah. Mulai melarat ya dapat uang dari sini. Mulai rumah ngontrak sampai punya rumah sendiri ya dari jualan ini,”ceritanya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/