alexametrics
27.8 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

Majelis Al Khair wal Barokah, Manfaatkan Kesenian sebagai Media Dakwah

Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, tak hanya mempunyai Majlis Ta’lim wal Maulid Raudhotul Ulum (Majlis Tamru). Ada juga Majelis Al Khair wal Barokah, majelis yang memanfaatkan kesenian sebagai media dakwah.

—————-

Majelis Al Khair Wal Barokah awalnya berupa majelis salawat yang rutin menggelar salawatan dan pengajian saban Selasa malam Legi (malam Rabu Legi). Berawal dari pengajian di lingkungan Pesantren Zainul Hasan Genggong, majelis ini melebarkan sayapnya memenuhi undangan jamaah.

Namun, kegiatan antara di lingkungan Pesantren Zainul Hasan dengan ketika diundang jamaah berbeda. Bila saban Selasa malam, majelis ini memulai kegiatannya dengan pembacaan ratib al haddad dilanjutkan tawassul dan hadrah basaudan. Setelah itu, membaca salawat bersama dan ditutup dengan kalam hikmah sekaligus doa.

Jika di luar pesantren, pembukaannya dilakukan dengan salat Magrib berjamaah dilanjut dengan pembacaan ratib al haddad, membaca maulid habsyi, dan pengajian kitab Nadhom Safinatun Najah. Tidak hanya itu, juga ada kesempatan atau waktu tanya jawab. Setelah selesai dilanjut doa dan langsung salat Isya berjamaah.

Majelis bentukan pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong K. H. Moh. Hasan Maulana, ini terus eksis. Tak hanya sering diundang masyarakat di Kota dan Kabupaten Probolinggo. Namun, juga sering tampil di daerah sekitar seperti Lumajang, Situbondo, dan Bondowoso. “Alhamdulillah, sudah di beberapa daerah,” ujarnya.

Ulama muda yang akrab disapa Nun Diego ini mengatakan, majelisnya berdiri bermula dari dorongan orang-orang di sekelilingnya. Itu, terjadi ketika dirinya baru pulang dari nyantri di Rubath Tarim Hadramaut Yaman.

“Dimulai dengan desakan sejumlah sahabat saya yang satu angkatan di Yaman. Termasuk saudara saya Lora Arif (Arifin Abdullah) yang men-support agar diadakan dakwah melalui kesenian di Genggong dan sekitarnya,” ujarnya.

Adanya dakwah yang dipadukan dengan kesenian ini, bertujuan agar para pemuda ada yang memperhatikan. Sehingga, mereka mengenal dan lebih mencintai serta meneladani Rasulullah SAW. Karenanya, Nun Diego pun beristikharah di makam Almarhum K.H. Moh. Hasan.

Di makam pengasuh kedua Pesantren Zainul Hasan Genggong, itu Nun Diego meminta petunjuk Allah SWT. “Setelah ada kemantapan hati, saya izin kepada kedua orang tua saya K.H. Moh. Hasan Saiful Islam dan ayah mertua saya K.H. Moh. Hasan Ainul Yaqin. Beliau berdua mendukung,” ujarnya.

Mendapat dukungan dari orang-orang yang dicintainya, membuat Nun Diego makin semangat. Namun, ia masih meminta restu kepada guru besarnya di Rubath Tarim Hadramaut Yaman, Al ‘Alim ‘Allamah Waliyullah Al Habib Salim Asyathiri.

Dari sana, muncullah nama Al Khair wal Barokah. Majelis ini pun resmi berdiri mulai 2014. “Maksudnya agar yang datang bisa Khair semakin baik dan ‘Barokah” semakin berkah dunia-akhirat. Kemudian, beliau Habib Salim Asyathiri mendoakan kami semua. Itu titik awal perjuangan kami,” ujarnya.

Nun Diego mengatakan, dakwah yang dikolaborasikan dengan kesenian sangat efektif. Tabuhan rebana ibarat garam bagi mereka yang berlidah hambar. Sedangkan bagi yang tidak berlidah hambar, ada rebana atau tidak tetap terasa nikmat di dalam sanubari.

“Ini kami lakukan tidak untuk melanjutkan cara dakwah Wali Songo. Yang mana menempuh dakwah perpaduan dengan kesenian. Alhamdulillah, sungguh efektif,” ujarnya.

Meski awalnya didorong untuk mewadahi muda-mudi, namun seiring berjalannya waktu, majelisnya tidaklah terpaku pada usia. Semua kalangan bisa berbaur, bersalawat dan ngaji bersama. “Siapapun tanpa terbatas umur. Kami mengajak untuk kebaikan mencintai dan berakhlak luhur di majelisnya Rasulullah. Lebih-lebih mengajak diri saya, sang pendosa ini agar bisa lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, seni mampu merangkul semua golongan. Sedangkan masyarakat, khususnya jamaah Al Khaibar (sebutan jamaah Majelis Al Khair Wal Barokah) terdiri atas beragam latar belakang, status, sosial, dan semacamnya. Namun, mereka bisa disatukan dengan perpaduan dakwah dan seni. “Itulah yang kami rasakan dalam setiap dakwah yang dipadukan dengan kesenian,” ujarnya.

Dakwah biasa dan dakwan yang dikolaborasikan dengan kesenian, menurutnya tidak berbeda. Karena hakikatnya keduanya sama-sama mengajak kepada Allah SWT. Selama Ramadan ini, Majelis Al Khair Wal Barokah, masih vakum. Namun, Laskar Alkhaibar setiap tahun rutin bagi-bagi takjil kepada masyarakat. (sid/rud)

Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, tak hanya mempunyai Majlis Ta’lim wal Maulid Raudhotul Ulum (Majlis Tamru). Ada juga Majelis Al Khair wal Barokah, majelis yang memanfaatkan kesenian sebagai media dakwah.

—————-

Majelis Al Khair Wal Barokah awalnya berupa majelis salawat yang rutin menggelar salawatan dan pengajian saban Selasa malam Legi (malam Rabu Legi). Berawal dari pengajian di lingkungan Pesantren Zainul Hasan Genggong, majelis ini melebarkan sayapnya memenuhi undangan jamaah.

Namun, kegiatan antara di lingkungan Pesantren Zainul Hasan dengan ketika diundang jamaah berbeda. Bila saban Selasa malam, majelis ini memulai kegiatannya dengan pembacaan ratib al haddad dilanjutkan tawassul dan hadrah basaudan. Setelah itu, membaca salawat bersama dan ditutup dengan kalam hikmah sekaligus doa.

Jika di luar pesantren, pembukaannya dilakukan dengan salat Magrib berjamaah dilanjut dengan pembacaan ratib al haddad, membaca maulid habsyi, dan pengajian kitab Nadhom Safinatun Najah. Tidak hanya itu, juga ada kesempatan atau waktu tanya jawab. Setelah selesai dilanjut doa dan langsung salat Isya berjamaah.

Majelis bentukan pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong K. H. Moh. Hasan Maulana, ini terus eksis. Tak hanya sering diundang masyarakat di Kota dan Kabupaten Probolinggo. Namun, juga sering tampil di daerah sekitar seperti Lumajang, Situbondo, dan Bondowoso. “Alhamdulillah, sudah di beberapa daerah,” ujarnya.

Ulama muda yang akrab disapa Nun Diego ini mengatakan, majelisnya berdiri bermula dari dorongan orang-orang di sekelilingnya. Itu, terjadi ketika dirinya baru pulang dari nyantri di Rubath Tarim Hadramaut Yaman.

“Dimulai dengan desakan sejumlah sahabat saya yang satu angkatan di Yaman. Termasuk saudara saya Lora Arif (Arifin Abdullah) yang men-support agar diadakan dakwah melalui kesenian di Genggong dan sekitarnya,” ujarnya.

Adanya dakwah yang dipadukan dengan kesenian ini, bertujuan agar para pemuda ada yang memperhatikan. Sehingga, mereka mengenal dan lebih mencintai serta meneladani Rasulullah SAW. Karenanya, Nun Diego pun beristikharah di makam Almarhum K.H. Moh. Hasan.

Di makam pengasuh kedua Pesantren Zainul Hasan Genggong, itu Nun Diego meminta petunjuk Allah SWT. “Setelah ada kemantapan hati, saya izin kepada kedua orang tua saya K.H. Moh. Hasan Saiful Islam dan ayah mertua saya K.H. Moh. Hasan Ainul Yaqin. Beliau berdua mendukung,” ujarnya.

Mendapat dukungan dari orang-orang yang dicintainya, membuat Nun Diego makin semangat. Namun, ia masih meminta restu kepada guru besarnya di Rubath Tarim Hadramaut Yaman, Al ‘Alim ‘Allamah Waliyullah Al Habib Salim Asyathiri.

Dari sana, muncullah nama Al Khair wal Barokah. Majelis ini pun resmi berdiri mulai 2014. “Maksudnya agar yang datang bisa Khair semakin baik dan ‘Barokah” semakin berkah dunia-akhirat. Kemudian, beliau Habib Salim Asyathiri mendoakan kami semua. Itu titik awal perjuangan kami,” ujarnya.

Nun Diego mengatakan, dakwah yang dikolaborasikan dengan kesenian sangat efektif. Tabuhan rebana ibarat garam bagi mereka yang berlidah hambar. Sedangkan bagi yang tidak berlidah hambar, ada rebana atau tidak tetap terasa nikmat di dalam sanubari.

“Ini kami lakukan tidak untuk melanjutkan cara dakwah Wali Songo. Yang mana menempuh dakwah perpaduan dengan kesenian. Alhamdulillah, sungguh efektif,” ujarnya.

Meski awalnya didorong untuk mewadahi muda-mudi, namun seiring berjalannya waktu, majelisnya tidaklah terpaku pada usia. Semua kalangan bisa berbaur, bersalawat dan ngaji bersama. “Siapapun tanpa terbatas umur. Kami mengajak untuk kebaikan mencintai dan berakhlak luhur di majelisnya Rasulullah. Lebih-lebih mengajak diri saya, sang pendosa ini agar bisa lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, seni mampu merangkul semua golongan. Sedangkan masyarakat, khususnya jamaah Al Khaibar (sebutan jamaah Majelis Al Khair Wal Barokah) terdiri atas beragam latar belakang, status, sosial, dan semacamnya. Namun, mereka bisa disatukan dengan perpaduan dakwah dan seni. “Itulah yang kami rasakan dalam setiap dakwah yang dipadukan dengan kesenian,” ujarnya.

Dakwah biasa dan dakwan yang dikolaborasikan dengan kesenian, menurutnya tidak berbeda. Karena hakikatnya keduanya sama-sama mengajak kepada Allah SWT. Selama Ramadan ini, Majelis Al Khair Wal Barokah, masih vakum. Namun, Laskar Alkhaibar setiap tahun rutin bagi-bagi takjil kepada masyarakat. (sid/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/