alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Gus Mamat, Bangkitkan Jiwa Wirausaha Santri Ponpes Terpadu Al-Yasini

SANTRI masa kini tidak melulu mengaji dan beribadah. Tetapi, juga harus bisa berwirausaha. Inilah yang terus diusahakan Gus Mochammad Gozali di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Pasuruan.

Semasa kecil, Gus Mochammad Gozali belajar mengaji kepada ayahnya, K.H. M. Ali Ridlo. Sementara, sang ibu, Nyai Hj. Chanifah memupuk nyalinya untuk tampil di depan banyak orang melalui belajar pidato. Gus Mochammad Gozali pun tumbuh sebagai remaja yang tidak hanya cakap dalam belajar.

Ia juga sering diajak sang ibu menghadiri pengajian. Selulus dari SMPN Wonorejo, Gus Mamat -sapaan Gus Mochammad Gozali- melanjutkan pendidikannya di SMA Unggulan Darul Ulum Jombang. Mondok di Pesantren Terpadu Darul Ulum Peterongan, Jombang.

Jiwa wirausaha mulai tumbuh ketika pria kelahiran 18 Mei 1982 ini bermukim di pesantren. Ia mulai belajar berdagang. Mulai dari kitab, buku, dan lainnya.

Awalnya, kegiatan ini hanya dilakukan untuk menambah uang saku. Demi bekal menimba ilmu di pesantren asuhan K.H. Dimyati Romli. Namun, Gus Mamat kian serius dalam berwirausaha. Terutama ketika kuliah di Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga. Semakin aktif berdagang. Bahkan, sempat tertipu puluhan juta rupiah dalam menjalani usaha.

Namun, pengalaman pahit itu tak membuatnya patah arang. Ia malah menyewa sebuah rumah di dekat kampusnya untuk membuka rental komputer. Selepas kuliah, Gus Mamat direkrut sebuah perusahaan sebagai supervisor divisi human resource and development di Malang. Tak lama kemudian pindah ke Jakarta.

Gus Mamat juga pernah menjadi direktur sebuah perusahaan yang menangani perdugaan koperasi ritel. Namun, merasa ada yang kurang meski sudah berada di posisi yang cukup diperhitungkan. Ia ingin mengerjakan sesuatu yang lebih banyak bersentuhan langsung dengan umat.

SANTRI masa kini tidak melulu mengaji dan beribadah. Tetapi, juga harus bisa berwirausaha. Inilah yang terus diusahakan Gus Mochammad Gozali di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Pasuruan.

Semasa kecil, Gus Mochammad Gozali belajar mengaji kepada ayahnya, K.H. M. Ali Ridlo. Sementara, sang ibu, Nyai Hj. Chanifah memupuk nyalinya untuk tampil di depan banyak orang melalui belajar pidato. Gus Mochammad Gozali pun tumbuh sebagai remaja yang tidak hanya cakap dalam belajar.

Ia juga sering diajak sang ibu menghadiri pengajian. Selulus dari SMPN Wonorejo, Gus Mamat -sapaan Gus Mochammad Gozali- melanjutkan pendidikannya di SMA Unggulan Darul Ulum Jombang. Mondok di Pesantren Terpadu Darul Ulum Peterongan, Jombang.

Jiwa wirausaha mulai tumbuh ketika pria kelahiran 18 Mei 1982 ini bermukim di pesantren. Ia mulai belajar berdagang. Mulai dari kitab, buku, dan lainnya.

Awalnya, kegiatan ini hanya dilakukan untuk menambah uang saku. Demi bekal menimba ilmu di pesantren asuhan K.H. Dimyati Romli. Namun, Gus Mamat kian serius dalam berwirausaha. Terutama ketika kuliah di Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga. Semakin aktif berdagang. Bahkan, sempat tertipu puluhan juta rupiah dalam menjalani usaha.

Namun, pengalaman pahit itu tak membuatnya patah arang. Ia malah menyewa sebuah rumah di dekat kampusnya untuk membuka rental komputer. Selepas kuliah, Gus Mamat direkrut sebuah perusahaan sebagai supervisor divisi human resource and development di Malang. Tak lama kemudian pindah ke Jakarta.

Gus Mamat juga pernah menjadi direktur sebuah perusahaan yang menangani perdugaan koperasi ritel. Namun, merasa ada yang kurang meski sudah berada di posisi yang cukup diperhitungkan. Ia ingin mengerjakan sesuatu yang lebih banyak bersentuhan langsung dengan umat.

MOST READ

BERITA TERBARU

/