Mengenal Kapolres Pasuruan AKBP Rofik RH; Sempat Bercita-cita Jadi ABK

Pucuk pimpinan Polres Pasuruan diduduki AKBP Rofik Ripto Himawan, sejak 23 September 2019. Sebelum menjadi polisi, Rofik –sapaannya- adalah anak kuliahan yang bercita-cita menjadi anak buah kapal (ABK) dan pengusaha.

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

Rambut klemis, penampilannya pun rapi. Ditunjang dengan kulit yang putih, AKBP Rofik Ripto Himawan tampak bak seorang artis.

Kamis (10/10) siang itu, ia terlihat begitu sibuk. Selain memimpin jalannya gelar di Mapolres Pasuruan, ia juga diminta salah satu televisi swasta untuk wawancara perihal sebuah kasus pembunuhan. Selain itu, ia juga harus bersiap-siap menyambut tamu dari Polda.

Belum lagi, banyak tamu yang antre. Maka, Rofik –panggilannya- harus bisa benar-benar maksimal membagi waktu. Khususnya untuk tugas kedinasan.

“Beginilah tugas. Bahkan, untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga adalah sesuatu yang langka,” ungkapnya menceritakan suka duka menjadi polisi.

Kondisi itu, hampir dilakoninya setiap hari. Apalagi, dengan jabatan barunya saat ini sebagai Kapolres Pasuruan. Banyak masyarakat yang membutuhkan pengayomannya. Terlebih, jika merujuk pada filosofi hidup yang dianutnya.

Baginya, konsep hidup itu adalah bermanfaat bagi orang lain. “Saya berusaha untuk bisa bagaimana caranya bermanfaat bagi orang lain,” aku dia.

Menurut Rofik, sebelum menjadi polisi, cita-citanya adalah menjadi Anak Buah Kapal (ABK) dan wirausahawan. Bukan tanpa alasan. Dengan menjadi ABK, ia bisa pergi menjelajah dunia.

Bahkan, untuk memuluskan niatnya, ia sempat kuliah pelayaran di Semarang. Meski akhirnya ia mundur setelah menjalani kuliah selama kurang lebih 1,5 tahun.

“Cita-cita saya memang ingin menjadi wirausahawan agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Dan juga ABK, agar bisa keliling dunia serta mengetahui luasnya dunia. Bahkan, setelah lulus SMA di Magelang, saya kuliah pelayaran. Tapi, tidak sampai tamat,” ungkap lulusan SMAN 1 Magelang tersebut.

Ia memilih berhenti kuliah setelah orang tuanya memintanya mendaftar polisi. Waktu itu, kepolisian masih berada di bawah naungan ABRI. Putra pasangan H. Taufik Supangkah dan Hj Muhinah itu pun mendaftar perwira di AKBRI pada tahun 1998.

Ada ribuan pendaftar, namun hanya 200 orang yang lulus seleksi administrasi, kesehatan, tulis, dan ujian lainnya untuk perwira polisi. Termasuk dirinya.

“Setelah dinyatakan lulus, saya dan peserta lainnya menjalani pendidikan selama 4 tahun di Semarang,” ungkap kelahiran Magelang, 19 November 1978 ini.

Setelah menjalani pendidikan, ia “diterbangkan” ke Kalimantan Timur untuk mengisi kursi staf Pusat Kordaof di Mapolda Kalimantan Timur. Tidak lama, hanya selang tujuh bulan. Ia kemudian diangkat menjadi KSPKT dan kemudian dimutasi sebagai Kanit Samapta Polsek Kota Samarinda pada 2003.

Beberapa bulan kemudian, ia ditempatkan di serse hingga tahun 2007. Karirnya terus menanjak sampai kemudian dipercaya menjabat Kasat Reskrim di Mojokerto, Lamongan, Malang hingga Kediri hingga tahun 2014.

Ia juga pernah mendapat penugasan khusus ke Papua dan daerah-daerah konflik, termasuk di Jakarta. Ia kemudian dipercaya menjabat Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim hingga 2019. Sampai kemudian ditempatkan sebagai Kapolres Pasuruan. Dia mengganti posisi AKBP Rizal Martomo yang diamanahi jabatan Kasubbaganevdalpro Baganev Rojianstra SSDM Polri.

Seabrek pengalaman yang dimilikinya dalam menata karir dari nol hingga sekarang. Apalagi, posisinya banyak berhubungan dengan perkara-perkara kriminal. Banyak pihak-pihak pelaku kejahatan yang kerap mengusiknya. Namun, ia bergeming.

“Namanya penegakan hukum, kadang banyak yang tidak puas. Khususnya, pihak-pihak yang melanggar hukum. Kami sering diusik. Tapi, bila berani mengancam saya, saya tembak,” tegasnya tanpa menceritakan kasus-kasus besar yang pernah diungkapnya. (hn)