alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Abdul Hamid, Mantan Pemain Timnas, Kini Menjadi Tukang Ojek Panggilan

Perjalanan hidup Abdul Hamid, 59, tak ubahnya roller coaster. Ketenaran dan banyak uang, bisa didapatkannya dengan mudah saat masih membela timnas sepak bola. Namun, kondisi itu berbanding terbalik sekarang. Untuk makan saja, ia harus bersusah payah.

IWAN ANDRIK, Rembang, Radar Bromo

Tampilan rumah di kawasan Desa Oro-oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, itu sederhana saja. Meski berada di kawasan perumahan, tidak ada hal mencolok pada rumah tersebut. Modelnya pun seperti rumah lama.

Warna hijau menghiasi lantai teras rumah tersebut. Sebuah motor Vario diparkir di sana. Dengan motor itu, si empunya bisa berkeliling mencari nafkah.

Yang menarik, di ruang tamu rumah itu ada foto jadul yang dipasang di dinding rumah. Yaitu, foto sebuah tim sepak bola. Foto itu sudah usang, namun tetap dipajang oleh pemiliknya. Menjadi salah satu bukti bahwa foto itu begitu dibanggakannya. Tidak heran, itulah foto timnas sepak bola Indonesia. Foto itu diambil pada tahun 1983.

“Foto ini diambil saat kami membela timnas, mengikuti piala Marah Halim tahun 1983,” ungkap Abdul Halim, pemilik rumah sembari menunjukkan foto berseragam timnas itu.

Abdul Halim memang merupakan salah satu legenda sepak bola Indonesia. Saat masih muda, ia menjadi tumpuan untuk membela negara dalam pertandingan sepak bola. Ia merupakan salah satu mantan pemain timnas Indonesia.

Sosoknya gagah waktu itu. Banyak orang memuja kemampuannya. Meski menjadi pemain belakang, tak jarang ia menjadi momok menakutkan bagi penjaga gawang lawan. Beberapa gol mampu dia ciptakan.

Namun, sosok hebatnya kala itu telah menghilang. Nasib hidup pahlawan bangsa di dunia sepak bola itu benar-benar berubah tajam. Jangankan mendapatkan ketenaran, untuk bisa makan sehari-hari saja kini ia kelimpungan. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang, dengan menjadi tukang ojek panggilan.

“Selain jadi tukang ojek, saya biasanya melatih sepak bola. Tapi karena wabah korona, kini lebih banyak ngojek,” beber dia.

Bagi Hamid –sapaannya- sendiri, meniti karir sebagai pesepak bola profesional tidak mudah. Bahkan, keinginannya untuk menjadi pemain sepak bola, ditentang orang tuanya. Karena ketika bermain sepak bola, Hamid menjadi lupa waktu. Bahkan, pernah ia sampai petang tidak kunjung pulang karena asyik bermain sepak bola.

“Daripada bermain sepak bola, orang tua saya lebih setuju kalau saya membantu mereka. Cari rumput atau bantu-bantu di rumah. Makanya, mereka melarang saya main sepak bola,” kenangnya.

Namun, larangan itu tak membuatnya patah arang. Saat usianya 12 tahun, ia masuk klub lokal, Bangil Muda. Ia belajar bermain bola selama kurang lebih tiga tahun di klub tersebut. Hingga pada usia 15 tahun, ia memiliki kesempatan untuk belajar di Assyabaab Surabaya.

Kebetulan, ada orang yang membantunya. Orang tersebut mau membantu setelah melihat potensi dan bakat bermain pada dirinya. “Waktu itu saya ikut pertandingan antarkampung. Rupanya, ada yang berminat dengan permainan saya. Saya kemudian diajak untuk masuk tim Assyabaab Surabaya,” kisah lelaki kelahiran 15 Mei 1961 ini.

Ia tinggal di mes Assyabaab Surabaya waktu itu. Tidak sekadar latihan, ia juga mulai mengikuti pertandingan antarklub. Bahkan, di usianya yang masih 15 tahun, ia dipercaya masuk tim U-16.

Saat itu, ada laga antarklub di Jatim. Pertandingan dengan klub-klub di Jatim itu, dilaluinya dengan baik. Bahkan, timnya berhasil meraih juara pertama. “Tentunya senang dan bangga,” ungkap pemain yang berada di posisi stopper ini.

Kemenangan itu, menjadi awal baik bagi karirnya. Ia dan timnya kemudian mewakili Jatim untuk mengikuti laga klub tingkat nasional. Pertandingan bertajuk Invintasi U-17 itu benar-benar membuat namanya semakin melambung.

Karena tidak hanya mengantar timnya juara pada laga yang digelar di Mandala Krida Yogyakarta pada 1979. Tetapi, ia juga berhasil menyumbang tiga gol. Selain dari penalti, juga dari tendangan bebas.

Keberhasilannya itu, membuatnya menjadi salah satu pemain yang dipanggil timnas U-17. Dia pun bergabung dengan timnas U-17. Sejak bergabung dengan timnas, sejumlah pertandingan internasional diikutinya. Khususnya lingkup Asia.

Ia pernah mengikuti kompetisi Marlian Cup di Singapura. Meski akhirnya, timnya tidak bisa berbuat banyak karena hanya bisa sampai empat besar.

Sejak saat itu pula, ia melanglang buana mengikuti kompetisi-kompetisi tingkat dunia. Sejumlah tim luar pernah menjadi lawannya. Mulai dari India, Korea, Thailand, dan berbagai tim lain, dari berbagai kompetisi. Tidak hanya kompetisi resmi, tetapi juga laga persahabatan.

Dari laga-laga internasional yang diikutinya, ada beberapa pertandingan yang masih membekas dalam benaknya. Seperti ketika timnas Indonesia menggelar laga uji coba melawan Arab Saudi di Senayan tahun 1984. Ketika itu, timnya berhasil memenangi laga dengan skor 2-1. Yang semakin membuatnya tak bisa lupa, ia berhasil mencetak gol kemenangan.

“Saya berhasil mencetak gol melalui umpan crossing saat kedudukan imbang. Saya mencetak gol terakhir. Gol itu membuat saya sampai sekarang terkenang,” ceritanya.

Laga lain yang tak bisa dilupakannya, ketika mengikuti Piala Raja di Thailand tahun 1984. Ketika itu, timnya bertemu dengan Australia. Pertandingan yang berlangsung sengit itu, berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan timnas Indonesia. Bangganya lagi, gol terakhir yang menjadi penentu kemenangan Indonesia kala itu dicetak olehnya.

“Saya kembali menjadi penentu saat melawan Australia. Itu benar-benar berkesan bagi saya dan tak lupa dari ingatan. Meski akhirnya, tim kami kalah dengan Thailand di final dan hanya mampu menjadi runner up,” ulas Hamid.

Sejak itu, karirnya dalam timnas berakhir. Ia akhirnya berlabuh ke klub-klub yang ada di Indonesia. Klub awal yang dinaunginya adalah Niac Mitra sejak 1985. Di tim Niac Mitra ia mampu mencuri hati pelatih kala itu.

Buktinya, ia selalu menjadi pemain inti. Bersama Niac Mitra pula, ia berhasil meraih tiga juara pertama berturut-turut dalam ajang kompetisi kasta tertinggi Indonesia, Galatama kala itu. “Kami meraih juara pertama, sejak 1987, 1988, hingga 1989,” tuturnya.

Hingga pada 1990, Niac Mitra bubar. Ia kemudian berlabuh ke Mitra Surabaya selama tiga tahun. Pada 1993, ia ikut Persegres. Tak lama ia di Persegres karena di tahun yang sama, ia kemudian pindah ke Pigi Balikpapan. “Saya juga pernah memakai seragam Arema pada tahun 1995,” papar dia.

Selama menjadi pesepak bola, ia merasa bagaikan seorang raja. Bagaimana tidak, semua kebutuhannya bisa dengan mudah didapatkan. Bergelimang uang, makanan penuh gizi dan vitamin tidak pernah telat dikonsumsi. Pakaian kotor pun tidak perlu susah-susah untuk mencuci.

Hingga pada tahun 2000, ia memutuskan untuk pensiun. Usianya yang sudah menginjak 40 tahun, tak memungkinkan untuk menjadi seorang pemain sepak bola.

Tapi, bukan berarti kecintaannya dengan sepak bola mati. Untuk mendedikasikan diri di dunia bola, ia menjadi pelatih. “Sejak tahun 2000 saya melatih Assyabaab Bangil hingga sekarang,” ucap dia.

Namun, menjadi pelatih sepak bola amatir, tentunya tak sebaik menjadi pemain dari sisi ekonomi. Karena itulah, untuk menambah penghasilannya, ia menjadi tukang ojek panggilan. Ketika ada orang yang membutuhkan jasa ojek, ia datang.

Di tengah pandemi korona, nasib tukang ojek seperti dirinya bertambah kelimpungan. Dalam sehari, ia hanya bisa mendapatkan tiga penumpang. “Bahkan sehari, kerap tidak mendapatkan penumpang sama sekali,” urai Hamid.

Kondisi itu, jauh berbeda dengan saat menjadi pemain. “Kalau dulu serba ada, sekarang harus berusaha untuk mencari makan,” bebernya menutup pembicaraan. (hn)

Perjalanan hidup Abdul Hamid, 59, tak ubahnya roller coaster. Ketenaran dan banyak uang, bisa didapatkannya dengan mudah saat masih membela timnas sepak bola. Namun, kondisi itu berbanding terbalik sekarang. Untuk makan saja, ia harus bersusah payah.

IWAN ANDRIK, Rembang, Radar Bromo

Tampilan rumah di kawasan Desa Oro-oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, itu sederhana saja. Meski berada di kawasan perumahan, tidak ada hal mencolok pada rumah tersebut. Modelnya pun seperti rumah lama.

Warna hijau menghiasi lantai teras rumah tersebut. Sebuah motor Vario diparkir di sana. Dengan motor itu, si empunya bisa berkeliling mencari nafkah.

Yang menarik, di ruang tamu rumah itu ada foto jadul yang dipasang di dinding rumah. Yaitu, foto sebuah tim sepak bola. Foto itu sudah usang, namun tetap dipajang oleh pemiliknya. Menjadi salah satu bukti bahwa foto itu begitu dibanggakannya. Tidak heran, itulah foto timnas sepak bola Indonesia. Foto itu diambil pada tahun 1983.

“Foto ini diambil saat kami membela timnas, mengikuti piala Marah Halim tahun 1983,” ungkap Abdul Halim, pemilik rumah sembari menunjukkan foto berseragam timnas itu.

Abdul Halim memang merupakan salah satu legenda sepak bola Indonesia. Saat masih muda, ia menjadi tumpuan untuk membela negara dalam pertandingan sepak bola. Ia merupakan salah satu mantan pemain timnas Indonesia.

Sosoknya gagah waktu itu. Banyak orang memuja kemampuannya. Meski menjadi pemain belakang, tak jarang ia menjadi momok menakutkan bagi penjaga gawang lawan. Beberapa gol mampu dia ciptakan.

Namun, sosok hebatnya kala itu telah menghilang. Nasib hidup pahlawan bangsa di dunia sepak bola itu benar-benar berubah tajam. Jangankan mendapatkan ketenaran, untuk bisa makan sehari-hari saja kini ia kelimpungan. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang, dengan menjadi tukang ojek panggilan.

“Selain jadi tukang ojek, saya biasanya melatih sepak bola. Tapi karena wabah korona, kini lebih banyak ngojek,” beber dia.

Bagi Hamid –sapaannya- sendiri, meniti karir sebagai pesepak bola profesional tidak mudah. Bahkan, keinginannya untuk menjadi pemain sepak bola, ditentang orang tuanya. Karena ketika bermain sepak bola, Hamid menjadi lupa waktu. Bahkan, pernah ia sampai petang tidak kunjung pulang karena asyik bermain sepak bola.

“Daripada bermain sepak bola, orang tua saya lebih setuju kalau saya membantu mereka. Cari rumput atau bantu-bantu di rumah. Makanya, mereka melarang saya main sepak bola,” kenangnya.

Namun, larangan itu tak membuatnya patah arang. Saat usianya 12 tahun, ia masuk klub lokal, Bangil Muda. Ia belajar bermain bola selama kurang lebih tiga tahun di klub tersebut. Hingga pada usia 15 tahun, ia memiliki kesempatan untuk belajar di Assyabaab Surabaya.

Kebetulan, ada orang yang membantunya. Orang tersebut mau membantu setelah melihat potensi dan bakat bermain pada dirinya. “Waktu itu saya ikut pertandingan antarkampung. Rupanya, ada yang berminat dengan permainan saya. Saya kemudian diajak untuk masuk tim Assyabaab Surabaya,” kisah lelaki kelahiran 15 Mei 1961 ini.

Ia tinggal di mes Assyabaab Surabaya waktu itu. Tidak sekadar latihan, ia juga mulai mengikuti pertandingan antarklub. Bahkan, di usianya yang masih 15 tahun, ia dipercaya masuk tim U-16.

Saat itu, ada laga antarklub di Jatim. Pertandingan dengan klub-klub di Jatim itu, dilaluinya dengan baik. Bahkan, timnya berhasil meraih juara pertama. “Tentunya senang dan bangga,” ungkap pemain yang berada di posisi stopper ini.

Kemenangan itu, menjadi awal baik bagi karirnya. Ia dan timnya kemudian mewakili Jatim untuk mengikuti laga klub tingkat nasional. Pertandingan bertajuk Invintasi U-17 itu benar-benar membuat namanya semakin melambung.

Karena tidak hanya mengantar timnya juara pada laga yang digelar di Mandala Krida Yogyakarta pada 1979. Tetapi, ia juga berhasil menyumbang tiga gol. Selain dari penalti, juga dari tendangan bebas.

Keberhasilannya itu, membuatnya menjadi salah satu pemain yang dipanggil timnas U-17. Dia pun bergabung dengan timnas U-17. Sejak bergabung dengan timnas, sejumlah pertandingan internasional diikutinya. Khususnya lingkup Asia.

Ia pernah mengikuti kompetisi Marlian Cup di Singapura. Meski akhirnya, timnya tidak bisa berbuat banyak karena hanya bisa sampai empat besar.

Sejak saat itu pula, ia melanglang buana mengikuti kompetisi-kompetisi tingkat dunia. Sejumlah tim luar pernah menjadi lawannya. Mulai dari India, Korea, Thailand, dan berbagai tim lain, dari berbagai kompetisi. Tidak hanya kompetisi resmi, tetapi juga laga persahabatan.

Dari laga-laga internasional yang diikutinya, ada beberapa pertandingan yang masih membekas dalam benaknya. Seperti ketika timnas Indonesia menggelar laga uji coba melawan Arab Saudi di Senayan tahun 1984. Ketika itu, timnya berhasil memenangi laga dengan skor 2-1. Yang semakin membuatnya tak bisa lupa, ia berhasil mencetak gol kemenangan.

“Saya berhasil mencetak gol melalui umpan crossing saat kedudukan imbang. Saya mencetak gol terakhir. Gol itu membuat saya sampai sekarang terkenang,” ceritanya.

Laga lain yang tak bisa dilupakannya, ketika mengikuti Piala Raja di Thailand tahun 1984. Ketika itu, timnya bertemu dengan Australia. Pertandingan yang berlangsung sengit itu, berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan timnas Indonesia. Bangganya lagi, gol terakhir yang menjadi penentu kemenangan Indonesia kala itu dicetak olehnya.

“Saya kembali menjadi penentu saat melawan Australia. Itu benar-benar berkesan bagi saya dan tak lupa dari ingatan. Meski akhirnya, tim kami kalah dengan Thailand di final dan hanya mampu menjadi runner up,” ulas Hamid.

Sejak itu, karirnya dalam timnas berakhir. Ia akhirnya berlabuh ke klub-klub yang ada di Indonesia. Klub awal yang dinaunginya adalah Niac Mitra sejak 1985. Di tim Niac Mitra ia mampu mencuri hati pelatih kala itu.

Buktinya, ia selalu menjadi pemain inti. Bersama Niac Mitra pula, ia berhasil meraih tiga juara pertama berturut-turut dalam ajang kompetisi kasta tertinggi Indonesia, Galatama kala itu. “Kami meraih juara pertama, sejak 1987, 1988, hingga 1989,” tuturnya.

Hingga pada 1990, Niac Mitra bubar. Ia kemudian berlabuh ke Mitra Surabaya selama tiga tahun. Pada 1993, ia ikut Persegres. Tak lama ia di Persegres karena di tahun yang sama, ia kemudian pindah ke Pigi Balikpapan. “Saya juga pernah memakai seragam Arema pada tahun 1995,” papar dia.

Selama menjadi pesepak bola, ia merasa bagaikan seorang raja. Bagaimana tidak, semua kebutuhannya bisa dengan mudah didapatkan. Bergelimang uang, makanan penuh gizi dan vitamin tidak pernah telat dikonsumsi. Pakaian kotor pun tidak perlu susah-susah untuk mencuci.

Hingga pada tahun 2000, ia memutuskan untuk pensiun. Usianya yang sudah menginjak 40 tahun, tak memungkinkan untuk menjadi seorang pemain sepak bola.

Tapi, bukan berarti kecintaannya dengan sepak bola mati. Untuk mendedikasikan diri di dunia bola, ia menjadi pelatih. “Sejak tahun 2000 saya melatih Assyabaab Bangil hingga sekarang,” ucap dia.

Namun, menjadi pelatih sepak bola amatir, tentunya tak sebaik menjadi pemain dari sisi ekonomi. Karena itulah, untuk menambah penghasilannya, ia menjadi tukang ojek panggilan. Ketika ada orang yang membutuhkan jasa ojek, ia datang.

Di tengah pandemi korona, nasib tukang ojek seperti dirinya bertambah kelimpungan. Dalam sehari, ia hanya bisa mendapatkan tiga penumpang. “Bahkan sehari, kerap tidak mendapatkan penumpang sama sekali,” urai Hamid.

Kondisi itu, jauh berbeda dengan saat menjadi pemain. “Kalau dulu serba ada, sekarang harus berusaha untuk mencari makan,” bebernya menutup pembicaraan. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/