alexametrics
31.7 C
Probolinggo
Saturday, 13 August 2022

Kreativitas Syafaatul Asrofil Melukis Wajah dengan Media Kayu, Pesanan Sampai Palembang

Apa yang dilakukan Syafaatul Asrofil, 21, memang kreatif. Pemuda asal Kemeranggeng, Desa Winong, Kecamatan Gempol ini, mampu melukis wajah orang dengan media kanvas tak biasa, yakni kayu. Kreasinya pun dibanjiri peminat, bukan hanya dari wilayah Pasuruan. Tetapi  juga, merambah Palembang.

IWAN ANDRIK, Pasuruan, Radar Bromo

Ujung pensil travo itu dibuat panas dengan listrik. Begitu panas, tinggal ditempelkan pada kayu jati belanda yang telah disiapkan. Tidak hanya sekali, tetapi berulang kali.

Sampai, sketsa yang dibuat, berubah. Tidak lagi tampak goresan pensil tulis. Melainkan menjadi hitam gosong lantaran pembakaran. Butuh seharian bagi Syafaatul Asrofil untuk menyelesaikan lukisannya.

Itu bila moodnya tengah baik. “Namun, kalau lagi tidak mood, bisa sampai tiga hari bahkan lebih,” tutur pemuda 21 tahun tersebut.

Lukisan yang dibuat Asrofil-sapaannya memang tak biasa. Umumnya, sebuah lukisan dibuat pada kanvas. Namun dirinya, menggunakan media kayu sebagai kanvasnya.

Ide kreatif itu muncul tahun 2019. Ketika ia melihat tumpukan kayu palet di wilayah Prigen yang tak dipakai. Dalam benaknya terbersit keinginan, untuk memanfaatkan media kayu sebagai lukisan.

“Saya memang suka menggambar. Seperti menggambar di media tembok atau mural. Dalam benak saya, ada keinginan untuk melukis pada media yang jarang digunakan. Hingga ketika jalan-jalan di Prigen, saya mendapati tumpukan kayu, yang menginspirasi saya,” kata pemuda yang juga bekerja sebagai tukang las ini.

Sejak itulah ia mencoba mengkreasikan bakatnya melukis, pada media kayu. Semula ia menggunakan kayu tripleks. Namun, hasilnya jelek. Begitupun dengan kayu mahoni. Minim orang yang berminat.

“Saya kemudian memakai kayu jati belanda ini, karena teksturnya bagus,” sambung pemuda kelahiran 15 Maret 1999 ini.

Awal membuat lukisan bakar, diakui Asrofil memang tak mudah. Beberapa kali ia mengalami kegagalan. Pernah, warna hitam lukisan bakarnya tidak merata. Pernah juga, lukisannya terlalu gosong.

Itu semua, lantaran ia tidak mampu mengatur panas serta gradasi wajah. Namun, hal itu tak membuatnya menyerah. Ia terus berusaha hingga hasilnya tercapai seperti yang diharapkannya.

“Kurang lebih seminggu lamanya, saya belajar membuat lukisan bakar ini hingga hasilnya benar-benar seperti yang diharapkan,” beber dia.

Kreasi lukis bakar wajah buatannya, rupanya disukai temannya. Dari situ, banyak pesanan yang datang kepadanya. Dalam sebulan, ia bisa menerima pesanan lukis bakar hingga 10 unit.

Pesanan yang datang, bukan hanya dari wilayah Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga merambah Surabaya, Malang, Lumajang hingga Palembang. Harga seni lukis wajah bakarnya itu, dibanderol antara Rp 100 ribu hingga lebih.

Tergantung besaran ukuran serta banyaknya wajah yang harus dibuatnya. Biasanya, kreasinya itu dibuat untuk pajangan. “Atau mahar untuk pernikahan,” tuturnya.

Menurut Asrofil, ada suka maupun duka yang diterima dalam menjalankan usahanya itu. Pernah, ia membuat lukisan, dengan harga yang sudah ditentukan. Namun, ketika lukisan telah jadi, ternyata tidak kunjung diambil oleh pemesan.

“Makanya, sekarang saya pakai DP kalau ada yang pesan. Tanpa DP, saya ogah untuk membuatkan,” urainya.

Hal yang membahagiakan, tentu ketika ia bisa menyelesaikan pesanan orang tepat waktu. Di samping juga, pemesan tersebut puas dengan lukisan bakar yang dibuatnya. “Tentunya, kalau mereka puas, saya juga merasa senang,” tutupnya. (hn)

Apa yang dilakukan Syafaatul Asrofil, 21, memang kreatif. Pemuda asal Kemeranggeng, Desa Winong, Kecamatan Gempol ini, mampu melukis wajah orang dengan media kanvas tak biasa, yakni kayu. Kreasinya pun dibanjiri peminat, bukan hanya dari wilayah Pasuruan. Tetapi  juga, merambah Palembang.

IWAN ANDRIK, Pasuruan, Radar Bromo

Ujung pensil travo itu dibuat panas dengan listrik. Begitu panas, tinggal ditempelkan pada kayu jati belanda yang telah disiapkan. Tidak hanya sekali, tetapi berulang kali.

Sampai, sketsa yang dibuat, berubah. Tidak lagi tampak goresan pensil tulis. Melainkan menjadi hitam gosong lantaran pembakaran. Butuh seharian bagi Syafaatul Asrofil untuk menyelesaikan lukisannya.

Itu bila moodnya tengah baik. “Namun, kalau lagi tidak mood, bisa sampai tiga hari bahkan lebih,” tutur pemuda 21 tahun tersebut.

Lukisan yang dibuat Asrofil-sapaannya memang tak biasa. Umumnya, sebuah lukisan dibuat pada kanvas. Namun dirinya, menggunakan media kayu sebagai kanvasnya.

Ide kreatif itu muncul tahun 2019. Ketika ia melihat tumpukan kayu palet di wilayah Prigen yang tak dipakai. Dalam benaknya terbersit keinginan, untuk memanfaatkan media kayu sebagai lukisan.

“Saya memang suka menggambar. Seperti menggambar di media tembok atau mural. Dalam benak saya, ada keinginan untuk melukis pada media yang jarang digunakan. Hingga ketika jalan-jalan di Prigen, saya mendapati tumpukan kayu, yang menginspirasi saya,” kata pemuda yang juga bekerja sebagai tukang las ini.

Sejak itulah ia mencoba mengkreasikan bakatnya melukis, pada media kayu. Semula ia menggunakan kayu tripleks. Namun, hasilnya jelek. Begitupun dengan kayu mahoni. Minim orang yang berminat.

“Saya kemudian memakai kayu jati belanda ini, karena teksturnya bagus,” sambung pemuda kelahiran 15 Maret 1999 ini.

Awal membuat lukisan bakar, diakui Asrofil memang tak mudah. Beberapa kali ia mengalami kegagalan. Pernah, warna hitam lukisan bakarnya tidak merata. Pernah juga, lukisannya terlalu gosong.

Itu semua, lantaran ia tidak mampu mengatur panas serta gradasi wajah. Namun, hal itu tak membuatnya menyerah. Ia terus berusaha hingga hasilnya tercapai seperti yang diharapkannya.

“Kurang lebih seminggu lamanya, saya belajar membuat lukisan bakar ini hingga hasilnya benar-benar seperti yang diharapkan,” beber dia.

Kreasi lukis bakar wajah buatannya, rupanya disukai temannya. Dari situ, banyak pesanan yang datang kepadanya. Dalam sebulan, ia bisa menerima pesanan lukis bakar hingga 10 unit.

Pesanan yang datang, bukan hanya dari wilayah Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga merambah Surabaya, Malang, Lumajang hingga Palembang. Harga seni lukis wajah bakarnya itu, dibanderol antara Rp 100 ribu hingga lebih.

Tergantung besaran ukuran serta banyaknya wajah yang harus dibuatnya. Biasanya, kreasinya itu dibuat untuk pajangan. “Atau mahar untuk pernikahan,” tuturnya.

Menurut Asrofil, ada suka maupun duka yang diterima dalam menjalankan usahanya itu. Pernah, ia membuat lukisan, dengan harga yang sudah ditentukan. Namun, ketika lukisan telah jadi, ternyata tidak kunjung diambil oleh pemesan.

“Makanya, sekarang saya pakai DP kalau ada yang pesan. Tanpa DP, saya ogah untuk membuatkan,” urainya.

Hal yang membahagiakan, tentu ketika ia bisa menyelesaikan pesanan orang tepat waktu. Di samping juga, pemesan tersebut puas dengan lukisan bakar yang dibuatnya. “Tentunya, kalau mereka puas, saya juga merasa senang,” tutupnya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/