alexametrics
25.3 C
Probolinggo
Wednesday, 18 May 2022

Hafid Bauzir, Dokter Gigi di Bangil yang Juga Perancang Gigi Tiruan

Kesulitan memperoleh gigi tiruan untuk pasien menginspirasi drg. Hafid Bauzir, 45, untuk merangcang sendiri gigi tiruan. Siapa sangka, gigi tiruan pasang buatan warga Kauman, Kecamatan Bangil, ini tidak hanya berguna baginya dalam melayani pasien. Bahkan, teman-teman seprofesinya kerap memesan gigi tiruan rancangannya.

 

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

 

RUANGAN berukuran sekitar 4 x 6 meter persegi itu tampak sibuk. Seorang pasien duduk bersandar di kursi yang disediakan. Mulutnya menganga. Di sampingnya, drg. Hafid Bauzir sedang memeriksa.

Dua tangannya memegangi kaca mulut. Selain untuk membuka mulut pasien, juga untuk mengecek satu persatu gigi pasiennya. Ini dilakukannya untuk memastikan kondisi gigi pasiennya.

“Kalau memang perlu dicabut dan digantikan dengan gigi tiruan, tentunya akan kami lakukan. Selama pasien menghendakinya,” ungkapnya.

Memeriksa dan menangani gigi orang, memang pekerjaan Hafid yang merupakan seorang dokter gigi. Namun, selain mengobati keluhan pasien soal sakit gigi, ia juga seorang “perancang” gigi tiruan.

Aktivitas membuat gigi tiruan itu sudah bertahun-tahun dilakoninya. Semula, itu dilakukannya hanya untuk kebutuhannya dalam menangani pasien yang membutuhkan. Namun, lambat laun banyak rekan seprofesinya yang memesan.

Bapak tiga anak ini menceritakan ikhwal ia menerjuni pembuatan gigi tiruan. Ia yang berprofesi sebagai dokter gigi kerap membutuhkan gigi tiruan untuk pasiennya. Untuk mendapatkan gigi tiruan itu, ia harus memesan ke Surabaya.

Butuh waktu lama. Maklum, kebutuhan untuk membuat gigi tiruan cukup banyak. Sehingga harus antre. Bahkan, bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Hal ini membuatnya gerah. Maklum, ia memiliki tanggung jawab untuk melayani banyak pasiennya. Sementara, barang gigi tiruan yang dibutuhkan tak kunjung didapatkan. “Dari situlah saya tertarik untuk membuat gigi tiruan,” kenangnya.

Meski demikian, ia sempat tidak tahu harus memulainya dari mana. Maklum, ia tidak memiliki banyak pengalaman untuk membuat gigi tiruan tersebut.

Hingga tujuh tahun yang lalu, ia bertemu dengan teknisi gigi tiruan asal Jogjakarta. Bak gayung bersambut, keinginannya membuat gigi tiruan sendiri mulai terwujud. Ia pun pelan-pelan membangun laboratorium gigi tiruan.

Peralatan penunjang disediakan. Bersama partnernya itulah, bisnis gigi tiruan mulai dijalankan. “Saya juga belajar untuk membuat gigi tiruan sendiri waktu itu,” tandasnya.

Tak mudah saat awal membuat gigi tiruan. Beberapa kali percobaannya gagal membuahkan hasil yang diinginkan. Selain karena estetika kurang, juga karena warna gigi yang dirancang kurang bagus.

Tapi, ia tak menyerah. Pelan dan pasti ia belajar. Dan setelah sebulan lamanya, baru ia bisa merancang gigi tiruan sendiri.

Gigi tiruan yang dibuatnya menggunakan beragam bahan. Ada yang berbahan akrilik, ada pula yang porselen. “Kalau jenisnya bergantung keinginan pasien. Kami menyesuaikan,” sambungnya.

HITUNGAN HARI: Contoh produk gigi tiruan buatan Hafid Bauzir. Produknya bisa dibuat dalam hitungan hari. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Untuk membuat gigi tiruan, pertama ia harus membuat cetakan. Cetakan itu dibuat dengan alginate. Selanjutnya, dicor dengan gibs batu. Baru merancang desainnya di laboratorium. Seperti pemasangan lilin, perapian lilin, perendaman, hingga perebusan. Sampai kemudian gigi tiruan itu masuk finishing. Dipoles hingga tampilannya menawan.

Tak butuh waktu lama. Karena proses tersebut hanya memakan waku tiga hari sampai tujuh hari. Berbeda dengan sebelumnya yang bisa memakan waktu berminggu-minggu. “Dari sisi biaya pun, lebih bisa ditekan,” tandas dokter yang tercatat sebagai Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kabupaten Pasuruan tersebut.

Semula, pembuatan gigi tiruan itu digunakan untuk kebutuhan sendiri dalam melayani pasien. Namun, lambat laun banyak dokter sejawat yang memesan. Khususnya di wilayah Kabupaten Pasuruan.

“Saya hanya melayani kebutuhan dokter, bukan tukang gigi. Kalau sekarang, memang tak sebanyak sebelum-sebelumnya. Apalagi, saya fokus untuk memenuhi kebutuhan pasien saya juga,” urainya. (hn)

Kesulitan memperoleh gigi tiruan untuk pasien menginspirasi drg. Hafid Bauzir, 45, untuk merangcang sendiri gigi tiruan. Siapa sangka, gigi tiruan pasang buatan warga Kauman, Kecamatan Bangil, ini tidak hanya berguna baginya dalam melayani pasien. Bahkan, teman-teman seprofesinya kerap memesan gigi tiruan rancangannya.

 

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

 

RUANGAN berukuran sekitar 4 x 6 meter persegi itu tampak sibuk. Seorang pasien duduk bersandar di kursi yang disediakan. Mulutnya menganga. Di sampingnya, drg. Hafid Bauzir sedang memeriksa.

Dua tangannya memegangi kaca mulut. Selain untuk membuka mulut pasien, juga untuk mengecek satu persatu gigi pasiennya. Ini dilakukannya untuk memastikan kondisi gigi pasiennya.

“Kalau memang perlu dicabut dan digantikan dengan gigi tiruan, tentunya akan kami lakukan. Selama pasien menghendakinya,” ungkapnya.

Memeriksa dan menangani gigi orang, memang pekerjaan Hafid yang merupakan seorang dokter gigi. Namun, selain mengobati keluhan pasien soal sakit gigi, ia juga seorang “perancang” gigi tiruan.

Aktivitas membuat gigi tiruan itu sudah bertahun-tahun dilakoninya. Semula, itu dilakukannya hanya untuk kebutuhannya dalam menangani pasien yang membutuhkan. Namun, lambat laun banyak rekan seprofesinya yang memesan.

Bapak tiga anak ini menceritakan ikhwal ia menerjuni pembuatan gigi tiruan. Ia yang berprofesi sebagai dokter gigi kerap membutuhkan gigi tiruan untuk pasiennya. Untuk mendapatkan gigi tiruan itu, ia harus memesan ke Surabaya.

Butuh waktu lama. Maklum, kebutuhan untuk membuat gigi tiruan cukup banyak. Sehingga harus antre. Bahkan, bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Hal ini membuatnya gerah. Maklum, ia memiliki tanggung jawab untuk melayani banyak pasiennya. Sementara, barang gigi tiruan yang dibutuhkan tak kunjung didapatkan. “Dari situlah saya tertarik untuk membuat gigi tiruan,” kenangnya.

Meski demikian, ia sempat tidak tahu harus memulainya dari mana. Maklum, ia tidak memiliki banyak pengalaman untuk membuat gigi tiruan tersebut.

Hingga tujuh tahun yang lalu, ia bertemu dengan teknisi gigi tiruan asal Jogjakarta. Bak gayung bersambut, keinginannya membuat gigi tiruan sendiri mulai terwujud. Ia pun pelan-pelan membangun laboratorium gigi tiruan.

Peralatan penunjang disediakan. Bersama partnernya itulah, bisnis gigi tiruan mulai dijalankan. “Saya juga belajar untuk membuat gigi tiruan sendiri waktu itu,” tandasnya.

Tak mudah saat awal membuat gigi tiruan. Beberapa kali percobaannya gagal membuahkan hasil yang diinginkan. Selain karena estetika kurang, juga karena warna gigi yang dirancang kurang bagus.

Tapi, ia tak menyerah. Pelan dan pasti ia belajar. Dan setelah sebulan lamanya, baru ia bisa merancang gigi tiruan sendiri.

Gigi tiruan yang dibuatnya menggunakan beragam bahan. Ada yang berbahan akrilik, ada pula yang porselen. “Kalau jenisnya bergantung keinginan pasien. Kami menyesuaikan,” sambungnya.

HITUNGAN HARI: Contoh produk gigi tiruan buatan Hafid Bauzir. Produknya bisa dibuat dalam hitungan hari. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Untuk membuat gigi tiruan, pertama ia harus membuat cetakan. Cetakan itu dibuat dengan alginate. Selanjutnya, dicor dengan gibs batu. Baru merancang desainnya di laboratorium. Seperti pemasangan lilin, perapian lilin, perendaman, hingga perebusan. Sampai kemudian gigi tiruan itu masuk finishing. Dipoles hingga tampilannya menawan.

Tak butuh waktu lama. Karena proses tersebut hanya memakan waku tiga hari sampai tujuh hari. Berbeda dengan sebelumnya yang bisa memakan waktu berminggu-minggu. “Dari sisi biaya pun, lebih bisa ditekan,” tandas dokter yang tercatat sebagai Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kabupaten Pasuruan tersebut.

Semula, pembuatan gigi tiruan itu digunakan untuk kebutuhan sendiri dalam melayani pasien. Namun, lambat laun banyak dokter sejawat yang memesan. Khususnya di wilayah Kabupaten Pasuruan.

“Saya hanya melayani kebutuhan dokter, bukan tukang gigi. Kalau sekarang, memang tak sebanyak sebelum-sebelumnya. Apalagi, saya fokus untuk memenuhi kebutuhan pasien saya juga,” urainya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/