alexametrics
25C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Ryu Argya, Balita asal Panggungrejo yang Idap Tumor Bibir sejak Lahir

Sejak lahir, ia harus merasakan sakit di bagian bibirnya. Lalu saat berusia sekitar setahun, Ryu Argya Maheswara Al Fatih, 2, dinyatakan mengidap tumor. Ia kesulitan mengunyah karena bibirnya membengkak dan kerap mengeluarkan darah.

—————–

RAUT mukanya begitu riang. Bocah laki-laki itu tengah asyik dengan mobil mainan di ruang tamu rumahnya. Dengan lincahnya, ia berlarian ke sana kemari.

Sesekali Ryu Argya Maheswara Al Fatih, 2, bermanja di pangkuan Siti Aisyah, ibunya. Seolah tak ada sesuatu yang terjadi padanya. Padahal, lebih dari setahun lalu ia dinyatakan mengidap tumor di bibir.

“Kadang kalau makan agak susah. Karena bibirnya kan sensitif, mudah luka dan keluar darah,” kata Sofyan Lutfi, 35, ayah Ryu.

Kelahiran Mei 2018 itu memang mengalami gangguan di bibirnya. Hal itu sudah berlangsung sejak ia dilahirkan. Lutfi dan Siti sudah menyadari pembengkakan di bibir anak keduanya setelah proses persalinan.

HANYA TUKANG PIJAT: Siti Aisyah, Ibu Ryu Argya berharap derma untuk operasi. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Memang sejak lahir ada bengkak di bibirnya,” ujar warga Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan itu.

Sempat ia memeriksakan kondisi anaknya itu. Namun saat itu dikira hanya pembengkakan akibat persalinan. Lutfi sempat berbesar hati. Saban hari ia mengompres bibir bayinya dengan air hangat ataupun air infus. Berharap pembengkakan bibir anaknya segera mengempis.

“Tapi tidak kunjung membaik. Karena itu, saya bawa periksa lagi. Katanya infeksi lalu dikasih vitamin,” terang Lutfi.

Dan kenyataan pahit itu harus diterima Lutfi dan Siti saat usia Ryu genap 1 tahun. Saat diperiksakan di RSUD Bangil, anaknya itu dinyatakan mengidap tumor bibir. Ryu sempat dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Dia pun sempat diobservasi di poli anak.

Di sana, bibirnya yang bengkak diperiksa. Terutama menyangkut pembuluh darahnya sebelum dilakukan tindakan operasi.

BUTUH ULURAN TANGAN: Untuk operasi Ryu, Siti mengaku butuh ratusan juta rupiah. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Karena sering mengalami pendarahan, Ryu harus dirujuk ke poli bedah plastik. Namun, belum sempat membawa anaknya ke poli bedah plastik, Lutfi kehabisan biaya. Ia tak lagi bisa bergantung pada penghasilannya sebagai tukang pijat. Terlebih sejak pandemi Covid-19.

“Orang kan mulai mikir-mikir karena pandemi ini banyak yang menghindari sentuhan,” ucapnya.

Satu-satunya sumber nafkah Lutfi hanya mencari rongsokan ponsel. Biasanya, ia berkeliling ke kampung-kampung mencari ponsel yang sudah rusak. Hasilnya ia setorkan ke temannya. Tentu saja, penghasilannya tak seberapa. Paling sedikit ia hanya bisa mengumpulkan uang Rp 20 ribu per harinya.

“Kalau dapat HP banyak, saya dapat Rp 50 ribu,” tuturnya. Penghasilannya akan bertambah bila kondisi ponsel masih layak dan bisa diperbaiki. Lutfi mendapatkan komisi dari uang penjualan.

Menjelang usianya yang ketiga, Ryu masih harus bergelut dengan penyakitnya. Lutfi dan Siti terkadang tak sampai hati saat anaknya menjerit menahan sakit. Bila bibirnya mengalami pendarahan, praktis Ryu tidak bisa mengunyah makanan.

“Hati saya hancur rasanya kalau lihat Ryu teriak sakit dan kelaparan. Sambil nunggu pendarahannya reda, saya buatkan air gula hangat dicampur susu,” jelas Siti.

Untuk menyuapi Ryu makan pun, pasangan suami istri itu juga harus berhati-hati. Sebab, bentuk gigi bagian atasnya yang menjorok ke dalam juga cukup mengganggu saat mengunyah.

“Jadi harus diawasi, apalagi saat main kadang kena jari atau kena mainannya. Berdarah lagi,” beber Lutfi.

Meski begitu, besar harapannya agar Ryu bisa segera mendapat penanganan medis. Agar ia tumbuh dan besar dengan sehat seperti anak sebayanya.

Harapan itu makin berkembang di hatinya sejak mengikuti pelatihan membuat telur asin. Dia dikenalkan dengan Yayasan Seribu Senyum.

“Saya aktif di Pertuni. Ada pelatihan membuat telur asin di sana. Dan ketemu orang yang kemudian disambungkan ke Yayasan Seribu Senyum,” kata Lutfi yang kehilangan penglihatan usai kecelakaan 2010 silam.

Melalui yayasan itulah, Lutfi berharap derma untuk biaya pengobatan anaknya. Mengingat biaya yang diperlukan untuk operasi Ryu cukup besar, sekitar Rp 120 juta.

“Saya sempat nyari-nyari info. Katanya operasi biayanya sekitar Rp 120 juta,” tandasnya. Dengan operasi juga, dia berharap Ryu bisa sembuh. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU