Sejenak Bersama Wahyu Nugroho, Tokoh Seni Drawing Pasuruan

Kegiatan seni lukis tergolong awam bagi masyarakat Pasuruan. Namun, Wahyu Nugroho, warga Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan ini, mengenalkan seni lukis dengan teknik drawing. Sebab, lebih murah dan bisa dilakukan siapa saja.

——————

Di berbagai kegiatan pameran di Pasuruan, nama Wahyu Nugroho, 52, memang tidak asing lagi. Selain aktif berkarya dan ikut pameran, warga Kelurahan/Kecamatan Purwosari ini rutin menjadi panitia, bahkan pembina. Termasuk di beberapa agenda pameran akhir tahun 2019.

Jawa Pos Radar Bromo bertemu Wahyu di pameran tunggalnya, yaitu “Intuitive Drawing” di Bocosralus Artspace, Kota Pasuruan pada awal Desember 2019. Di pameran tunggal keduanya ini, Wahyu banyak membuahkan puluhan karya hanya dari goresan pensil saja.

Hampir mayoritas karyanya berwarna hitam putih. Memang ada beberapa karya dengan aksen dan tambahan cat air. Namun, teknis menggambar dengan pensil atau dinamai drawing menjadi khasnya. Bahkan bagi pelukis di Pasuruan, Wahyu Nugroho disebut tokoh drawing Pasuruan.

“Julukan tersebut memang ada sejarahnya, namun bukan berarti saya tidak bisa menggambar teknik lain. Drawing ini menjadi modal saja untuk bisa mengajarkan seni lukis kepada anak muda atau orang awam agar mau belajar seni lukis,” terangnya.

Biasanya, seni lukis memang ada anggapan mahal dan sulit. Ini lantaran dalam benak banyak orang, melukis selalu identik dengan cat air atau cat minyak. Padahal, ada teknik dengan drawing atau goresan pensil. Dan rupanya, teknik ini sangat mudah diterima oleh anak muda di Pasuruan.

TERBIASA: Gaya Wahyu Nugroho saat menyelesaikan karya lukisannya. (Foto: Dok Pribadi)

 

Wahyu yang kini juga sebagai pengajar seni di MTs Negeri 1 Pasuruan bercerita awal dia menyukai seni lukis. Saat kecil, dia melihat ada tetangganya yang suka menggambar.

“Dulu ada tetangga yang suka melukis. Kalau ada teman yang punya pacar, minta dibuatkan gambar untuk dikasih. Dan saya lihat lukisannya bagus. Sejak itu saya secara otodidak belajar melukis,” terangnya.

Sejak awal belajar saat SMP bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau setara SMA di Kota Pasuruan, Wahyu yang rumahnya di Purwosari merasa bahwa di Purwosari belum ada komunitas seni. “Akhirnya saya buat komunitas Mahardika di Purwosari. Anggotanya dari teman-teman, adik tingkat. Ada yang lebih tua yang memang tertarik di dunia seni rupa,” terangnya.

Saat itu tahun 1984. Wahyu masih berusia 17 tahun. Namun, saat itu Mahardika sudah membuka pameran pertama di GOR di Purwosari. Karena baru pertama kali ada, antusias masyarakat sekitar cukup tinggi melihat pameran seni rupa di Purwosari.

Wahyu lantas melanjutkan kuliah di IKIP Malang jurusan seni rupa. Setelah lulus dan cukup lama bergabung dengan berbagai komunitas seni di Malang, Wahyu kembali ke Pasuruan untuk memajukan seni di Pasuruan.

Salah satunya dengan menggagas Komunitas Guru Seni dan Perupa (KGSP) bersama pelukis lainnya di Pasuruan. Mereka lantas membuat pameran perdana tahun 2009.

“Namun setelah rutin tiga kali pameran, saya merasa kualitas lukisan masih stagnan. Termasuk dari pelukis yang ikut serta juga stagnan,” terangnya.

Ingin lebih banyak pemuda atau pemula yang ikut serta, di tahun 2012, Wahyu melakukan strategi gagasan. Saat itu, dibuatlah pameran dengan tema utama drawing. Agar semua pelukis juga tertantang untuk membuat.

“Dari pameran tersebut rupanya banyak anak muda tertarik. Tujuan saya memang sederhana.Dengan teknik drawing dan menggambar dengan pensil, semua orang bisa belajar dan murah,” terangnya.

Setelah itu, Wahyu memang memfokuskan karya-karya idealisnya dengan tema drawing. Dan makin banyak pelukis muda dan pemula yang belajar melukis drawing. Bahkan, saat ini di Pasuruan ada kurang lebih 90-an seniman drawing.

“Setelah drawing mulai digemari di Pasuruan, saya membuat kembali komunitas Alk Maart (Aliansi Kreator Mahardika Art) tahun 2018. Ini adalah dari Mahardika juga yang cukup lama vakum setelah saya kuliah dulu,” terangnya.

Alk Maart fokus mengembangkan seni drawing. Saat ini anggotanya sekitar 20-an. Harapannya dengan fokusnya seni drawing di Pasuruan, bisa mengharumkan nama Pasuruan sebagai pusat seni drawing di Indonesia.

Bahkan karena makin banyaknya seniman drawing di Pasuruan, Galeri Nusantara Jakarta tertarik membuat pameran di Kota Pasuruan pada awal Desember 2019. Galeri Nasional bahkan menjuluki Pasuruan sebagai Pasuruan Kota Drawing karena banyaknya penggiat seni drawing di Pasuruan. (eka/fun)