alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Goweser Sering Mampir di Warung Pasrepan, Bahkan Jadi Pit Stop

Sisi positif dari pandemi Covid-19 ialah banyak masyarakat yang sadar pentingnya menjaga imunitas tubuh. Salah satunya dengan olahraga bersepeda. Jalur wisata Gunung Bromo menjadi salah satu rute favorit bagi pesepeda di Pasuruan. Sampai-sampai ada warung yang selalu menjadi jujukan pesepeda.

————–

JALAN lurus dan menanjak. Begitulah jalur menuju Gunung Bromo. Puluhan orang tetap mengayuh sepedanya. Mereka pun tiba di Desa Mangguan. Satu per satu menepi. Turun dari sepedanya. Lalu memarkir sepedanya dengan cara tak biasa. Sadel sepeda diletakkan di atas potongan bambu yang disanggah kayu.

Penyanggahnya tak terlampau tinggi. Tapi cukup membuat roda belakang sepeda tergantung, tak menyentuh tanah. Seluruh sepeda kini terparkir rapi. Para pemiliknya melepas lelah. Ada yang duduk di tepi jalan. Yang lainnya masuk ke sebuah warung yang juga berada di sisi timur jalan itu.

Warung itulah yang selalu menjadi jujukan para pesepeda. Ada dua warung yang menyediakan tempat parkir serupa jemuran pakaian itu. Pertama terletak di sisi timur jalan arah ke Puspo. Sedangkan satu yang lain berada di sisi barat jalan. Hanya beberapa meter dari perbatasan Pasrepan-Puspo.

KOMPAK: Salah satu komunitas gowes yang mampir di warung Pasrepan. (Foto Istimewa)

Para pemilik warung itu sengaja membuat tempat parkir sepeda. Sebab memang banyak pesepeda yang singgah. Apalagi, sejak virus korona merebak. Banyak orang yang kian gemar berolahraga. Di antaranya dengan mengayuh sepeda.

Ana, pemilik warung di perbatasan Pasrepan-Puspo mengakui, warungnya kian ramai saat kedatangan pesepeda. Karena mereka gowes dengan rombongannya. “Kalau Sabtu atau Minggu ramai. Ya sejak ada korona itu,” katanya saat ditemui Senin (9/11).

Dia sendiri sudah berjualan sejak empat tahun terakhir. Biasanya, orang yang singgah di warungnya ialah pengguna jalan yang melintas atau Atau wisatawan Gunung Bromo. Namun, sekarang tak hanya itu saja. Apalagi di akhir pekan, dia membuka warungnya pagi-pagi.

“Kadang jam 6, jam 7 sudah ada yang sampai sini,” jelas Ana.

Tempat parkir khusus sepeda itu sendiri dibuat oleh Husen, suami Ana. Sekitar empat bulan yang lalu. “Memang ada beberapa pesepeda yang minta dibuatkan biar ada tempatnya,” ujarnya.

Jalur menuju Gunung Bromo memang menjadi salah satu rute favorit bagi pesepeda saat ini. Ketua Bergas Pasuruan, Agus Yulianto mengaku sudah lama berolahraga sepeda. “Sekitar lima tahunan saya sudah sering ke Mangguan. Dulu masih sedikit, cuma lima atau tujuh orang saja,” katanya.

Minat berolahraga sepeda diakui memang kian banyak sejak pandemi Covid-19. Tepatnya dalam kurun bulan Maret hingga April. Kata Agus, jumlah pesepeda yang melintas di jalur itu kini jauh lebih banyak. Bahkan di akhir pekan bisa sampai 100 pesepeda.

Menurutnya, warung yang menyediakan parkir khusus sepeda itu bukan hanya sekadar jujukan. Melainkan juga semacam pit stop. Bahkan, bisa dibilang sebagai barometer para goweser. “Itu sekarang jadi barometer. Kalau sudah kuat gowes sampai Mangguan otomatis bisa kuat ke Puspo atau Tosari,” jelasnya.

Sebab, sebelum sampai di Mangguan, pesepeda harus melintasi jalanan yang menanjak. “Meski hanya tiga tanjakan itu sudah lumayan untuk pemula. Jadi kalau sudah terbiasa kesana, bisa lanjut ke Puspo atau Tosari, tinggal siapkan mental saja,” tandasnya. (tom/fun)

Sisi positif dari pandemi Covid-19 ialah banyak masyarakat yang sadar pentingnya menjaga imunitas tubuh. Salah satunya dengan olahraga bersepeda. Jalur wisata Gunung Bromo menjadi salah satu rute favorit bagi pesepeda di Pasuruan. Sampai-sampai ada warung yang selalu menjadi jujukan pesepeda.

————–

JALAN lurus dan menanjak. Begitulah jalur menuju Gunung Bromo. Puluhan orang tetap mengayuh sepedanya. Mereka pun tiba di Desa Mangguan. Satu per satu menepi. Turun dari sepedanya. Lalu memarkir sepedanya dengan cara tak biasa. Sadel sepeda diletakkan di atas potongan bambu yang disanggah kayu.

Penyanggahnya tak terlampau tinggi. Tapi cukup membuat roda belakang sepeda tergantung, tak menyentuh tanah. Seluruh sepeda kini terparkir rapi. Para pemiliknya melepas lelah. Ada yang duduk di tepi jalan. Yang lainnya masuk ke sebuah warung yang juga berada di sisi timur jalan itu.

Warung itulah yang selalu menjadi jujukan para pesepeda. Ada dua warung yang menyediakan tempat parkir serupa jemuran pakaian itu. Pertama terletak di sisi timur jalan arah ke Puspo. Sedangkan satu yang lain berada di sisi barat jalan. Hanya beberapa meter dari perbatasan Pasrepan-Puspo.

KOMPAK: Salah satu komunitas gowes yang mampir di warung Pasrepan. (Foto Istimewa)

Para pemilik warung itu sengaja membuat tempat parkir sepeda. Sebab memang banyak pesepeda yang singgah. Apalagi, sejak virus korona merebak. Banyak orang yang kian gemar berolahraga. Di antaranya dengan mengayuh sepeda.

Ana, pemilik warung di perbatasan Pasrepan-Puspo mengakui, warungnya kian ramai saat kedatangan pesepeda. Karena mereka gowes dengan rombongannya. “Kalau Sabtu atau Minggu ramai. Ya sejak ada korona itu,” katanya saat ditemui Senin (9/11).

Dia sendiri sudah berjualan sejak empat tahun terakhir. Biasanya, orang yang singgah di warungnya ialah pengguna jalan yang melintas atau Atau wisatawan Gunung Bromo. Namun, sekarang tak hanya itu saja. Apalagi di akhir pekan, dia membuka warungnya pagi-pagi.

“Kadang jam 6, jam 7 sudah ada yang sampai sini,” jelas Ana.

Tempat parkir khusus sepeda itu sendiri dibuat oleh Husen, suami Ana. Sekitar empat bulan yang lalu. “Memang ada beberapa pesepeda yang minta dibuatkan biar ada tempatnya,” ujarnya.

Jalur menuju Gunung Bromo memang menjadi salah satu rute favorit bagi pesepeda saat ini. Ketua Bergas Pasuruan, Agus Yulianto mengaku sudah lama berolahraga sepeda. “Sekitar lima tahunan saya sudah sering ke Mangguan. Dulu masih sedikit, cuma lima atau tujuh orang saja,” katanya.

Minat berolahraga sepeda diakui memang kian banyak sejak pandemi Covid-19. Tepatnya dalam kurun bulan Maret hingga April. Kata Agus, jumlah pesepeda yang melintas di jalur itu kini jauh lebih banyak. Bahkan di akhir pekan bisa sampai 100 pesepeda.

Menurutnya, warung yang menyediakan parkir khusus sepeda itu bukan hanya sekadar jujukan. Melainkan juga semacam pit stop. Bahkan, bisa dibilang sebagai barometer para goweser. “Itu sekarang jadi barometer. Kalau sudah kuat gowes sampai Mangguan otomatis bisa kuat ke Puspo atau Tosari,” jelasnya.

Sebab, sebelum sampai di Mangguan, pesepeda harus melintasi jalanan yang menanjak. “Meski hanya tiga tanjakan itu sudah lumayan untuk pemula. Jadi kalau sudah terbiasa kesana, bisa lanjut ke Puspo atau Tosari, tinggal siapkan mental saja,” tandasnya. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/