alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Bersama Laily Fajarwati, Perekayasa di LAPAN Pasuruan

Laily Fajarwati merupakan salah satu perekayasa di LAPAN Pasuruan. Menyukai sains sejak kecil membuat dia merasa nyaman bekerja di LAPAN. Termasuk terlibat di sejumlah kegiatan pengamatan dan penelitian.

RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo

MENJADI perekayasa di Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Pasuruan sebenarnya tak pernah dibayangkan oleh Laily Fajarwati, 25. Namun, toh takdir menuntunnya untuk menjalani profesi itu setelah dia lulus rekrutmen ASN pada 2018.

Ya, baru tiga tahun lulusan diploma empat (D-4) teknik elektro industri PENS Surabaya itu menjadi PNS. Namun, dia sudah bisa menikmati profesinya itu. Sebab, sejak kecil Laily memang suka dengan segala hal yang berbau sains.

“Sejak kecil saya suka sains. Karena itu saya mendaftar CPNS formasi di LAPAN Pasuruan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Juga sesuai dengan jurusan kuliah,” cetus gadis berjilbab asal Jombang ini.

Memang, dia tidak langsung jadi perekayasa. Awal masuk LAPAN Pasuruan ia bertugas sebagai pengawas antariksa. Anak pertama dari dua bersaudara pasutri Nur Kholis dan Maria Kristina itu, fokus ke pengelolaan dan akuisisi data.

Baru setahun berikutnya atau pertengahan 2019, dia menjadi perekayasa ahli pertama. Dia pun terlibat dalam sejumlah kegiatan. Di antaranya observasi ozon vertikal untuk mengetahui keadaan ozon di lapisan troposfer dan stratosfer. Kemudian, meneliti pengaruh polusi cahaya terhadap kecerahan langit.

Dan saat ini, dia ikut serta dalam kegiatan rancang bangun teleskop handmade. Pembuatan teleskop dari PVC dan lensa.

“Saat ini sebagai perekayasa saya terlibat dan aktif di tiga kegiatan tersebut,” cetus perempuan yang hobi baca buku ini.

Perekayasa menurutnya beda dengan peneliti. Perekayasa tidak bisa bekerja sendirian. Namun, harus kerja sama dengan tim termasuk kerja sama dengan peneliti. Selain itu, seorang perekayasa lebih konsentrasi pada inovasi alat. Dan yang paling penting, harus punya passion tinggi dalam pekerjaannya.

“Perekayasa lebih berkolaborasi dengan peneliti untuk tugas di lapangan. Karena keberadaannya sangat penting, tentunya harus jeli dan cermat,” katanya.

Suasana kantor LAPAN sendiri tiap hari sangat sepi dan sunyi. Beda dengan perkantoran atau perusahaan pada umumnya. Namun, hal itu tidak membuatnya bosan ataupun jenuh. Sebaliknya, ia merasa betah serta nyaman.

Laily malah total bekerja. Apalagi, dia tinggal di mes yang dekat dengan kompleks LAPAN Pasuruan. Senin hingga Jumat dia bekerja. Bahkan, kadangkala Sabtu atau Minggu juga masuk kerja ketika ada jatah piket.

“Dari sinilah justru saya dapat ilmu dan pengalaman baru. Terutama menyangkut sains, antariksa, programming computer, dan lain-lain,” katanya.

Di luar itu, dia juga aktif membuat jurnal atau paper tentang antariksa atau kegiatan penelitian yang diikutinya bersama tim. Tentunya dipublikasikan untuk umum.

Selama bekerja di LAPAN tiga tahun terakhir, ada satu pengalaman berkesan yang dirasakannya. Yakni, saat pengamatan kecerahan langit. Dia harus naik bukit Cumbri di Ponorogo dengan jalan kaki sekitar 30 menit.

Sesampainya di puncak bukit, malam hari sekitar pukul 19.00. dia dan tim pun langsung memasang semua alat. Namun, saat semua alat sudah terpasang semua, hujan turun.

“Akhirnya alat dilepas dan kami berteduh di tenda menunggu hujan reda sambil begadang. Sekitar pukul tiga dini hari baru kami bisa pengamatan kecerahan langit,” cetusnya.

Kepala LAPAN Pasuruan Dian Yudha Risdianto menuturkan, di lembaga yang ia pimpin total ada enam perekayasa. Termasuk Laily Fajarwati.

Menurutnya, Laily seorang perekayasa disiplin dan cerdas. Laily bahkan pernah diterima beasiswa S-2 di kampus yang sama ia kuliah D-4, sebelum masuk ke LAPAN Pasuruan.

“Saat itu dia diterima CPNS di LAPAN. Dan dia memilih CPNS. Beasiswa S-2 dia lepas. Sekarang dia menunggu pengumuman seleksi beasiswa S-2,” bebernya.

Di LAPAN Pasuruan, Laily juga mendapat tugas tambahan di luar pekerjaan utama. Yakni, sebagai agen perubahan, juga kegiatan pembangunan zona intregritas. (hn)

Laily Fajarwati merupakan salah satu perekayasa di LAPAN Pasuruan. Menyukai sains sejak kecil membuat dia merasa nyaman bekerja di LAPAN. Termasuk terlibat di sejumlah kegiatan pengamatan dan penelitian.

RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo

MENJADI perekayasa di Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Pasuruan sebenarnya tak pernah dibayangkan oleh Laily Fajarwati, 25. Namun, toh takdir menuntunnya untuk menjalani profesi itu setelah dia lulus rekrutmen ASN pada 2018.

Ya, baru tiga tahun lulusan diploma empat (D-4) teknik elektro industri PENS Surabaya itu menjadi PNS. Namun, dia sudah bisa menikmati profesinya itu. Sebab, sejak kecil Laily memang suka dengan segala hal yang berbau sains.

“Sejak kecil saya suka sains. Karena itu saya mendaftar CPNS formasi di LAPAN Pasuruan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Juga sesuai dengan jurusan kuliah,” cetus gadis berjilbab asal Jombang ini.

Memang, dia tidak langsung jadi perekayasa. Awal masuk LAPAN Pasuruan ia bertugas sebagai pengawas antariksa. Anak pertama dari dua bersaudara pasutri Nur Kholis dan Maria Kristina itu, fokus ke pengelolaan dan akuisisi data.

Baru setahun berikutnya atau pertengahan 2019, dia menjadi perekayasa ahli pertama. Dia pun terlibat dalam sejumlah kegiatan. Di antaranya observasi ozon vertikal untuk mengetahui keadaan ozon di lapisan troposfer dan stratosfer. Kemudian, meneliti pengaruh polusi cahaya terhadap kecerahan langit.

Dan saat ini, dia ikut serta dalam kegiatan rancang bangun teleskop handmade. Pembuatan teleskop dari PVC dan lensa.

“Saat ini sebagai perekayasa saya terlibat dan aktif di tiga kegiatan tersebut,” cetus perempuan yang hobi baca buku ini.

Perekayasa menurutnya beda dengan peneliti. Perekayasa tidak bisa bekerja sendirian. Namun, harus kerja sama dengan tim termasuk kerja sama dengan peneliti. Selain itu, seorang perekayasa lebih konsentrasi pada inovasi alat. Dan yang paling penting, harus punya passion tinggi dalam pekerjaannya.

“Perekayasa lebih berkolaborasi dengan peneliti untuk tugas di lapangan. Karena keberadaannya sangat penting, tentunya harus jeli dan cermat,” katanya.

Suasana kantor LAPAN sendiri tiap hari sangat sepi dan sunyi. Beda dengan perkantoran atau perusahaan pada umumnya. Namun, hal itu tidak membuatnya bosan ataupun jenuh. Sebaliknya, ia merasa betah serta nyaman.

Laily malah total bekerja. Apalagi, dia tinggal di mes yang dekat dengan kompleks LAPAN Pasuruan. Senin hingga Jumat dia bekerja. Bahkan, kadangkala Sabtu atau Minggu juga masuk kerja ketika ada jatah piket.

“Dari sinilah justru saya dapat ilmu dan pengalaman baru. Terutama menyangkut sains, antariksa, programming computer, dan lain-lain,” katanya.

Di luar itu, dia juga aktif membuat jurnal atau paper tentang antariksa atau kegiatan penelitian yang diikutinya bersama tim. Tentunya dipublikasikan untuk umum.

Selama bekerja di LAPAN tiga tahun terakhir, ada satu pengalaman berkesan yang dirasakannya. Yakni, saat pengamatan kecerahan langit. Dia harus naik bukit Cumbri di Ponorogo dengan jalan kaki sekitar 30 menit.

Sesampainya di puncak bukit, malam hari sekitar pukul 19.00. dia dan tim pun langsung memasang semua alat. Namun, saat semua alat sudah terpasang semua, hujan turun.

“Akhirnya alat dilepas dan kami berteduh di tenda menunggu hujan reda sambil begadang. Sekitar pukul tiga dini hari baru kami bisa pengamatan kecerahan langit,” cetusnya.

Kepala LAPAN Pasuruan Dian Yudha Risdianto menuturkan, di lembaga yang ia pimpin total ada enam perekayasa. Termasuk Laily Fajarwati.

Menurutnya, Laily seorang perekayasa disiplin dan cerdas. Laily bahkan pernah diterima beasiswa S-2 di kampus yang sama ia kuliah D-4, sebelum masuk ke LAPAN Pasuruan.

“Saat itu dia diterima CPNS di LAPAN. Dan dia memilih CPNS. Beasiswa S-2 dia lepas. Sekarang dia menunggu pengumuman seleksi beasiswa S-2,” bebernya.

Di LAPAN Pasuruan, Laily juga mendapat tugas tambahan di luar pekerjaan utama. Yakni, sebagai agen perubahan, juga kegiatan pembangunan zona intregritas. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/