alexametrics
24.5 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Sagon, Kue Jadul Berbahan Ketan-Kelapa yang Mulai Sulit Ditemui

Sepuluh tahun silam, sagon masih menjadi kue wajib saat Lebaran. Terutama di daerah pedesaan dan pegunungan selatan Kabupaten Probolinggo. Seperti Kecamatan Gading, Pakuniran, Krucil, dan Tiris. Namun, kini sagon sudah jarang ditemui. Hanya segelintir rumah yang masih menyuguhkan penganan berbahan dasar ketan dan kelapa tersebut.

 

AGUS FAIZ MUSLEH, BESUK, RADAR BROMO

 

SUASANA Lebaran masih sangat terasa Jumat (6/5) sore itu di kaki gunung Argopuro. Tepatnya di Desa Batur, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Suara petasan dan rombongan warga yang hendak silaturahmi hilir mudik terlihat.

Lalu di rumah-rumah warga, penganan Lebaran masih tertata rapi di meja dengan toples beraneka bentuk dan isi. Sayang, tak seperti sepuluh tahun sebelumnya. Sagon yang biasa diletakkan di toples kaca tinggi bertutup merah itu sudah jarang ditemui. Hanya beberapa rumah yang masih menyuguhkan penganan itu di meja tamu. Tepat di rumah ketiga yang didatangi Jawa Pos Radar Bromo sore itu.

“Ini makanan kuno, makanan legendaris. Kalau tidak ada ini, kurang afdal Lebaran. Tahu kan namanya. Ini sagon,” kata Indah Wati, 35, pemilik rumah di utara lapangan sepak bola Desa Batur.

Menurut Indah, dulu masyarakat setempat banyak menyuguhkan sagon sebagai makanan khas saat Lebaran. Selain rasanya enak, cara pembuatan dan bahan bakunya mudah ditemui.

“Mudah bahannya. Tinggal ambil di kebun untuk kelapa tua. Beras ketan tinggal beli. Di pasar banyak,” ujar perempuan dua anak itu.

Sepuluh tahun silam, sagon masih menjadi kue wajib saat Lebaran. Terutama di daerah pedesaan dan pegunungan selatan Kabupaten Probolinggo. Seperti Kecamatan Gading, Pakuniran, Krucil, dan Tiris. Namun, kini sagon sudah jarang ditemui. Hanya segelintir rumah yang masih menyuguhkan penganan berbahan dasar ketan dan kelapa tersebut.

 

AGUS FAIZ MUSLEH, BESUK, RADAR BROMO

 

SUASANA Lebaran masih sangat terasa Jumat (6/5) sore itu di kaki gunung Argopuro. Tepatnya di Desa Batur, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Suara petasan dan rombongan warga yang hendak silaturahmi hilir mudik terlihat.

Lalu di rumah-rumah warga, penganan Lebaran masih tertata rapi di meja dengan toples beraneka bentuk dan isi. Sayang, tak seperti sepuluh tahun sebelumnya. Sagon yang biasa diletakkan di toples kaca tinggi bertutup merah itu sudah jarang ditemui. Hanya beberapa rumah yang masih menyuguhkan penganan itu di meja tamu. Tepat di rumah ketiga yang didatangi Jawa Pos Radar Bromo sore itu.

“Ini makanan kuno, makanan legendaris. Kalau tidak ada ini, kurang afdal Lebaran. Tahu kan namanya. Ini sagon,” kata Indah Wati, 35, pemilik rumah di utara lapangan sepak bola Desa Batur.

Menurut Indah, dulu masyarakat setempat banyak menyuguhkan sagon sebagai makanan khas saat Lebaran. Selain rasanya enak, cara pembuatan dan bahan bakunya mudah ditemui.

“Mudah bahannya. Tinggal ambil di kebun untuk kelapa tua. Beras ketan tinggal beli. Di pasar banyak,” ujar perempuan dua anak itu.

MOST READ

BERITA TERBARU

/