Selama Sebulan Physical Distancing di Kota Pasuruan Masih Ada Warga-PKL yang Melanggar

Pemberlakuan physical distancing di sejumlah titik keramaian di Kota Pasuruan tidak lantas membuat masyarakat mematuhinya. Petugas yang berjaga dan patroli di lokasi masih kerap menemukan sejumlah warga maupun PKL yang bandel.

——–

Sejumlah pria berdiri di persimpangan empat Kebonagung, Kecamatan Purworejo Kota Pasuruan. Di belakang mereka terdapat cone bar berbentuk persegi yang dipasang berjejer menutupi dua sisi jalan tersebut. Dengan langkap sigap, mereka meminta pengendara yang nekat melintas untuk memutar arah.

Begitulah pemandangan yang tampak di ruas Jalan Panglima Sudirman setiap akhir pekan. Maklum saja, ruas jalan protokol Kota Pasuruan ini memang ditutup pada jam-jam tertentu setiap Jumat, Sabtu dan Minggu. Ini tidak terlepas dari kebijakan pemberlakuan physical distancing di Kota Pasuruan untuk memutus mata rantai penyebaran korona.

“Iya beginilah. Masih ada warga yang tetap melintas padahal setiap akhir pekan ada pemberlakuan physical distancing. Namun kami tetap memberlakukan sesuai standar operasional (SOP),”ungkap Bagus Prasetyo, salah satu petugas yang berjaga di persimpangan Kebonagung.

Pria yang berprofesi sebagai staf lalu lintas (lalin) pada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pasuruan ini mengaku, pernah ada pengendara dari arah Jalan Airlangga yang nekat melintas di Jalan Panglima Sudirman. Pria itu mengaku terburu-buru karena keluarganya meninggal. Namun, pihaknya tetap tidak memperbolehkan pria itu melintas dan memintanya putar balik ke ruas jalan lain.

SENDIRI: Personel Polres Pasuruan Kota saat berjaga di Jalan Sultan Agung. (Foto: Istimewa)

“Biasanya pengendara yang nekat melintas ini ngakunya terburu-buru atau tidak tahu ada pemberlakuan physical distancing. Namun apapun alasannya kami harus bertindak tegas. Kami tetap tidak memperbolehkannya melintas,” jelas Bagus.

Ia menyebut ada sejumlah ruas yang diberlakukan physical distancing. Selain di ruas Jalan Panglima Sudirman, juga di Jalan Sultan Agung dan Jalan Pahlawan pada Jumat mulai pukul 19.00 hingga 00.00. Serta Sabtu dan Minggu mulai pukul 07.00 hingga 12.00 dan 19.00 hingga 00.00. Pada waktu waktu tersebut, kendaraan roda dua maupun empat dilarang melintas di lokasi tersebut.

Namun, kebijakan ini tidak berlaku bagi ambulans, mobil laka lantas atau mobil pemadam kebakaran (damkar). Sementara untuk ojek online (ojol) yang mengantar makanan, pihaknya akan meminta mencari jalur terdekat.

Jika lokasinya dekat dengan persimpangan Kebonagung yang ditutup, maka motor bisa di parkir di dekat cone bar, selanjutnya pengemudi ojol itu bisa berjalan ke lokasi tujuan.

Selama ini, pihaknya melihat masyarakat masih kurang memahami physical distancing. Sebab saat akhir pekan sejak pemberlakuan ini arus lalu lintas tidak terlalu berubah.

Kendaraan pribadi baik roda dua dan roda empat yang melintas masih ramai, kendati saat ini transportasi umum seperti bus dan angkutan kota (angkot) jarang beroperasi. Ia berharap agar masyarakat ikut menyukseskan anjuran pemerintah dengan tetap berdiam diri di rumah jika tidak ada kebutuhan mendesak.

“Di luar itu kami lihat sudah cukup lumayan. Masyarakat sudah mulai sadar untuk menggunakan masker saat bepergian atau keluar rumah. Toh ini bagus untuk mereka agar bisa terhindar dari virus korona,”sebutnya.

Staf keamanan dan ketertiban (trantib) Satpol PP Kota Pasuruan, Wildani Yusron mengaku, masih menemukan PKL yang kurang mematuhi kebijakan physical distancing. Rata rata masih ada PKL yang menyediakan tempat duduk bagi pembeli untuk makan di tempat. Padahal ini tidak diperbolehkan.

Pihaknya sendiri selalu mengingatkan pada PKL dan pembeli agar melakukan take away yakni usai mendapatkan yang diinginkan, mereka segera pulang. Pihaknya sendiri rutin melakukan patroli pada PKL setiap 15 menit. Lokasi yang menjadi sasaran adalah sekitar alun alun, jalan Nusantara, jalan Panglima Sudirman, jalan Sultan Agung dan Jalan pahlawan.

Sebab, ada pula PKL yang menyediakan karpet bagi pembeli. Jika patroli tidak dilakukan secara rutin, maka ada kemungkinan PKL melanggar. Selama ini tidak ada sanksi yang diberlakukan, kecuali sebatas imbauan dan pemahaman kepada mereka.

“Kalau tidak dilakukan setiap 15 menit, bisa bisa PKL menggelar karpet lagi untuk pembeli. Padahal kan kerumunan ini harus dihindari. Kalau PKL bandel, kami terpaksa mengangkut barang dagangan mereka,” tutupnya. (riz/hn/fun)