alexametrics
25C
Probolinggo
Sunday, 17 January 2021

Jumadi, Guru SD yang Juga Relawan Bencana Selama 23 Tahun

Aktivitas Jumadi dalam kegiatan Pramuka membuatnya akrab dengan kebencanaan. Alasan ini pula yang membuatnya memilih menjadi relawan kebencanaan. Hingga kini dia bahkan sudah 23 tahun menjadi relawan bencana di Kota Pasuruan.

—————-

BENCANA banjir yang terjadi beberapa waktu lalu di Kota Pasuruan membuat Jumadi turun ke lapangan. Bukan sebagai anggota BPBD. Warga Kelurahan Tapaan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, ini merupakan salah satu relawan kebencanaan. Guru SD itu bahkan sudah 23 tahun menjadi relawan bencana.

Keterlibatannya dalam bencana berawal dari keaktifannya dalam kegiatan Pramuka. Saat itu pada 1997, dia masih kelas 1 SMA. Dia menjadi pengurus dalam brigade penolong pada Pramuka tingkat Kota Pasuruan.

Dalam organisasi Pramuka memang ada program Pramuka Peduli Bencana. Anggota dilibatkan saat ada bencana dengan terjun langsung ke lokasi terdampak.

Selama beberapa kali terjun ke lokasi bencana, Jumadi pun merasa terpanggil menjadi relawan. Dia selalu tersentuh saat melihat korban bencana.

Maka, Jumadi pun mantap menjadi relawan kebencanaan. Ia merasa ini bagian dari panggilan jiwa.

“Kurang lebih saya sudah menjadi relawan selama 23 tahun, sejak masih aktif di Pramuka. Sekarang juga masih terjun sebagai relawan, utamanya jika Kota Pasuruan dilanda bencana,” ungkapnya.

Guru SDN Manikrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan itu menjelaskan, dirinya juga kerap menjadi relawan di luar kota. Salah satunya saat berangkat selama satu minggu saat terjadi banjir bandang di Kabupaten Situbondo, 10 tahun lalu.

Saat itu beberapa orang dikirim ke sana. Di sana, ia bersama rekannya membuat posko penanganan darurat untuk membantu evakuasi dan rehabilitasi.

Ia pernah juga menjadi relawan saat terjadi bencana tsunami di Aceh pada 2004. Saat itu pusat memang menghubungi daerah agar ikut membantu.

Dengan persiapan serba mendadak, Jumadi pun berangkat bersama relawan lainnya dari Cibubur, Jawa Barat. Lewat jalur udara, mereka menuju Aceh. Jumadi sepekan berada di Aceh.

Namun satu hari di sana, ia bersama rekan-rekannya sudah merasa tidak kuat. Sebab, mayat bergelimpangan di mana-mana. Belum lagi bangunan sekitar yang rusak dan hancur.

“Bau anyir mayat membuat kami tertekan. Rasanya saat itu ingin cepat selesai dan cepat pulang. Jujur selama sepekan di sana, kami tidak nafsu makan. Tapi mau bagaimana lagi, orang lokal sendiri sibuk cari keluarganya,” jelasnya.

Di Kota Pasuruan sendiri, Jumadi mengaku bencana yang paling diingat adalah banjir pada 2008. Saat itu terjadi banjir besar karena tiga sungai meluap bersamaan. Yaitu, Kali Welang, Petung, dan Gembong.

Ini adalah banjir terparah di Kota Pasuruan. Dampaknya banjir terjadi di 34 kelurahan yang tersebar di empat kecamatan. Bahkan, alun-alun kota pun ikut terendam.

“Masjid Jami yang berada di sisi barat alun-alun saja terdampak banjir. Seingat saya juga, banyak perkantoran yang terendam sehingga berkas ikut hilang. Banjir terjadi selama seharian. Saat itu semua dilibatkan, mulai Polri, TNI, Pemkot, hingga PMI,”sebutnya.

Karena seringnya Kota Pasuruan dilanda bencana, ia pun memutuskan untuk membentuk Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) di Kota Pasuruan. Akhirnya, SRPB ini dibentuk pada 18 Oktober 2017. Pembentukan ini penting agar memudahkan koordinasi. Sehingga tidak bergerak sendiri-sendiri.

“Dengan SRPB ini, maka relawan yang terjun bisa lebih efektif dengan saling berkoordinasi. Saat ini ada 24 anggota. Kami selalu saling melaporkan perkembangan baik saat ada bencana maupun tidak,” sebut Jumadi.

Kalaksa BPBD Kota Pasuruan Samsul Hadi mengaku, SRPB ini dikoordinasi oleh pusat pengendalian dan operasional (Pusdalops) BPBD. Pihaknya pun saling berhubungan dengan chat grup.

Keberadaan SRPB sendiri menurutnya sangat membantu. Dengan keterlibatan relawan, penanganan bencana di Kota Pasuruan jadi lebih efektif dan cepat.

“Apalagi saat ini lebih mudah karena ada WA dan smartphone. Dulu untuk saling berkoordinasi dan berkomunikasi antara relawan dengan pemda harus menggunakan radio dan handy talkie. Kami sangat terbantu,” sebut Samsul. (riz/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU